Kamis, 23 Oktober 2014

Kontribusi Ibadah Qurban Mengurangi Kesenjangan Sosial


Erang kesakitan sapi, kerbau dan kambing terdengar jelas hampir disetiap masjid di kota. Hewan-hewan Qurban yang telah disembelih itu lantas digantung untuk dikuliti, dipotong, dipilah, ditimbang dan dibungkus. Beratus-ratus daging berbungkus tas plastik hitam-putih bertumpuk di sudut lapangan masjid. Tiba-tiba seorang pengemis datang, ibu dengan bayi dalam gendongan datang meminta daging. Seorang ibu yang tengah membungkus daging tak cukup tega melihatnya lantas memberikannya sebungkus. Pengemis itu pergi. Tak lama datang tiga orang pengemis, lalu datang lagi lima, lalu datang lagi tujuh, hingga takmir masjid sibuk untuk menghalau datangnya para pengemis yang seolah tak pernah habis. Petugas yang jengkel itu akhirnya menutup akses menuju masjid untuk menghindari datangnya pengemis dadakan yang lebih banyak. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa sampai demikian? Tiba-tiba saja ada begitu banyak pengemis dadakan? Benarkah tindakan petugas masjid itu untuk tidak memberikan daging bagi para pengemis?
Setiap tanggal 10 Dzulhijah, umat muslim dibelahan dunia manapun memperingatinya sebagai Hari Raya Idul Adha. Pada momen itu dilaksanakan pula suatu ibadah sesuai dengan perintah Allah dalam firman-Nya, “Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah….”. (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).
Qurban yang sebenarnya adalah ibadah ghairu mahdhah, masih banyak dirasakan masyarakat muslim berorientasi kepada pahala semata. Sehingga melupakan dimensi ibadah yang berorientasi fungsional demi kemaslahatan kemanusiaan dan karakter ibadah (amal shalih), baik yang bersifat vertikal ataupun horizontal pada hakikatnya tidak semata berorientasi pahala. Akan tetapi lebih kepada sejauh mana ibadah itu memberikan konstribusi sosial-kemanusiaan.
Secara keuntungan ekonomis daging yang diberikan kepada sesama mungkin tidaklah berdampak besar. Berbeda dengan adanya zakat, infak, dan shodaqoh yang lebih berdampak pada aspek ekonomi. Labih dari itu dengan memberikan daging kepada yang berhak, timbul semacam perasaan emosional antara pemberi dan penerima. Penerima merasa bahwa keberadaanya masih dipedulikan oleh saudara sesama muslim yang kaya. Si miskin merasa tidak dihinakan, tidak dikucilkan namun si miskin merasa ia dengan ketidak mampuannya merupakan bagian tanggung jawab dari saudara muslim yang kaya. Secara serempak semua umat muslim merasakan makan enak, makan daging. Tak peduli kaya atau miskin. Bukankah itu adalah wujud dari pengurangan kesenjangan sosial? Hemm, betapa indahnya Islam dengan segala aturannya.
Momen Idul Adha juga tidak pernah lepas dari fenomena pengemis dadakan dan tindak kekerasan ketika pembagian daging. Tiba-tiba saja ada banyak sekali pengemis yang turun ke masjid, mushola bahkan rumah-rumah. Dari sebuah berita yang dilansir TRIBUNNEWS.COM, Pada 2012 misalnya, setelah tuntas ibadah Shalat Idul Adha di masjid Al-Akbar, sebanyak 40 pengemis dari Krian, Sidoarjo, berhasil mereka jaring dan bawa ke Liponsos. Berdasarkan data Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, untuk yang tingkat kasihannya standar berpenghasilan Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu (merdeka.com). mengherankan bukan? Untuk itulah kita perlu lebih berhati-hati ketika beramal. Bukannya berprasangka buruk, tapi waspada dan berdoa semoga amal kita tepat sasaran J
Berbicara mengenai qurban, benak kita pun tak lepas dari sebuah peristiwa yang sering terjadi di bumi Indonesia. korban luka bahkan tewas saat pembagian daging qurban kepada warga. Korban meninggal bernama Sukiyo, seorang kakek berusia 74 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya saat hendak mengantre pembagian daging hewan kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat (liputan6.com).
Lantas bagaimana cara untuk menghindari jatuhnya korban saat pembagian daging qurban?
Mungkin alternatif solusi ini bisa dicoba,
1.      Panitia terlebih dahulu menyiapkan ruangan yang cukup.
2.      Setelah Persiapan pembagian qurban dimulai, panitia membuka pintu masjid seperti biasanya dan menyilakan para penerima qurban untuk menempatkan diri ruang majlis yang telah disediakan. Setiap yang datang duluan akan mempati shof yang terdepan agar manjadi lebih tertib maka yang paling belakang akan diisi oleh orang yang datang terlambat.
3.      Setelah teratur terbentuk shof baru diadakan acara pemberitahun tehnik pembagiannya dan selanjutnya bisa diisi siraman rohani kemudian jika sudah siap dibagi cara pembagiannya, yakni dengan cara menyilakan peserta untuk diam duduk manis di tempat dan panitia akan membagi secara berkeliling menghampiri peserta penerima satu peratu secara berkeliling mulai dari shof terdepan .
4.      Untuk menjaga pemerataan jatah qurban setiap peserta yang yang telah menerima qurban langsung menuju pintu keluar dan dipersilakan celup jari dengan tinta seperti sistim pemilu. Namun jika tidak memungkinkan acara celup tinta ini tidak perlu dilakukan namun bisa diganti dengan menerapkan pembagian kupon terlebih dahulu setelah peserta duduk tertib dan peserta akan dipersilakan duduk tenang menukarkan kupon tadi dengan daging qurban. (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com ditulis oleh Mohamad Ab)
Nah dengan begini insyaallah, ibadah qurban akan lebih bermakna sebagai ibadah sosial, kan tepat sasaran dan diberikan dengan cara yang baik tanpa ada yang terluka. (Noor Salamah)
Sumber :
diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
2.      http://www.merdeka.com/jakarta/8-modus-sindikat-pengemis-tipu-warga-jakarta.html, diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
3.      http://news.liputan6.com/read/721416/daging-kurban-makan-korban, diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30



0 komentar:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com