Erang
kesakitan sapi, kerbau dan kambing terdengar jelas hampir disetiap masjid di kota.
Hewan-hewan Qurban yang telah disembelih itu lantas digantung untuk dikuliti,
dipotong, dipilah, ditimbang dan dibungkus. Beratus-ratus daging berbungkus tas
plastik hitam-putih bertumpuk di sudut lapangan masjid. Tiba-tiba seorang
pengemis datang, ibu dengan bayi dalam gendongan datang meminta daging. Seorang
ibu yang tengah membungkus daging tak cukup tega melihatnya lantas
memberikannya sebungkus. Pengemis itu pergi. Tak lama datang tiga orang
pengemis, lalu datang lagi lima, lalu datang lagi tujuh, hingga takmir masjid
sibuk untuk menghalau datangnya para pengemis yang seolah tak pernah habis.
Petugas yang jengkel itu akhirnya menutup akses menuju masjid untuk menghindari
datangnya pengemis dadakan yang lebih banyak. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa
sampai demikian? Tiba-tiba saja ada begitu banyak pengemis dadakan? Benarkah
tindakan petugas masjid itu untuk tidak memberikan daging bagi para pengemis?
Setiap
tanggal 10 Dzulhijah, umat muslim dibelahan dunia manapun memperingatinya
sebagai Hari Raya Idul Adha. Pada momen itu dilaksanakan pula suatu ibadah
sesuai dengan perintah Allah dalam firman-Nya, “Sesunggguhnya Kami telah
memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu
dan berkorbanlah….”. (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).
Qurban
yang sebenarnya adalah ibadah ghairu mahdhah, masih banyak dirasakan
masyarakat muslim berorientasi kepada pahala semata. Sehingga melupakan dimensi
ibadah yang berorientasi fungsional demi kemaslahatan kemanusiaan dan karakter
ibadah (amal shalih), baik yang bersifat vertikal ataupun horizontal pada
hakikatnya tidak semata berorientasi pahala. Akan tetapi lebih kepada sejauh
mana ibadah itu memberikan konstribusi sosial-kemanusiaan.
Secara
keuntungan ekonomis daging yang diberikan kepada sesama mungkin tidaklah
berdampak besar. Berbeda dengan adanya zakat, infak, dan shodaqoh yang lebih
berdampak pada aspek ekonomi. Labih dari itu dengan memberikan daging kepada
yang berhak, timbul semacam perasaan emosional antara pemberi dan penerima.
Penerima merasa bahwa keberadaanya masih dipedulikan oleh saudara sesama muslim
yang kaya. Si miskin merasa tidak dihinakan, tidak dikucilkan namun si miskin
merasa ia dengan ketidak mampuannya merupakan bagian tanggung jawab dari
saudara muslim yang kaya. Secara serempak semua umat muslim merasakan makan
enak, makan daging. Tak peduli kaya atau miskin. Bukankah itu adalah wujud dari
pengurangan kesenjangan sosial? Hemm, betapa indahnya Islam dengan segala
aturannya.
Momen Idul Adha juga tidak pernah lepas dari fenomena
pengemis dadakan dan tindak kekerasan ketika pembagian daging. Tiba-tiba saja
ada banyak sekali pengemis yang turun ke masjid, mushola bahkan rumah-rumah.
Dari sebuah berita yang dilansir TRIBUNNEWS.COM,
Pada 2012 misalnya, setelah tuntas ibadah Shalat
Idul Adha di masjid Al-Akbar, sebanyak 40 pengemis dari Krian, Sidoarjo,
berhasil mereka jaring dan bawa ke Liponsos. Berdasarkan data Suku Dinas Sosial
Jakarta Selatan, dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan
sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, untuk yang tingkat kasihannya
standar berpenghasilan Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu (merdeka.com).
mengherankan bukan? Untuk itulah kita perlu lebih berhati-hati ketika beramal.
Bukannya berprasangka buruk, tapi waspada dan berdoa semoga amal kita tepat
sasaran J
Berbicara mengenai qurban, benak kita pun tak
lepas dari sebuah peristiwa yang sering terjadi di bumi Indonesia. korban luka
bahkan tewas saat pembagian daging qurban kepada warga. Korban meninggal
bernama Sukiyo, seorang kakek berusia 74 tahun. Ia menghembuskan nafas
terakhirnya saat hendak mengantre pembagian daging hewan kurban di Masjid
Istiqlal, Jakarta Pusat (liputan6.com).
Lantas bagaimana cara untuk menghindari
jatuhnya korban saat pembagian daging qurban?
Mungkin alternatif solusi ini bisa dicoba,
1.
Panitia terlebih dahulu menyiapkan ruangan yang
cukup.
2.
Setelah Persiapan pembagian qurban dimulai, panitia
membuka pintu masjid seperti biasanya dan menyilakan para penerima qurban untuk
menempatkan diri ruang majlis yang telah disediakan. Setiap yang datang duluan
akan mempati shof yang terdepan agar manjadi lebih tertib maka yang paling
belakang akan diisi oleh orang yang datang terlambat.
3.
Setelah teratur terbentuk shof baru diadakan
acara pemberitahun tehnik pembagiannya dan selanjutnya bisa diisi siraman
rohani kemudian jika sudah siap dibagi cara pembagiannya, yakni dengan cara
menyilakan peserta untuk diam duduk manis di tempat dan panitia akan membagi
secara berkeliling menghampiri peserta penerima satu peratu secara berkeliling
mulai dari shof terdepan .
4.
Untuk menjaga pemerataan jatah qurban setiap
peserta yang yang telah menerima qurban langsung menuju pintu keluar dan
dipersilakan celup jari dengan tinta seperti sistim pemilu. Namun jika tidak
memungkinkan acara celup tinta ini tidak perlu dilakukan namun bisa diganti
dengan menerapkan pembagian kupon terlebih dahulu setelah peserta duduk tertib
dan peserta akan dipersilakan duduk tenang menukarkan kupon tadi dengan daging
qurban. (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com ditulis
oleh Mohamad Ab)
Nah dengan begini insyaallah, ibadah qurban
akan lebih bermakna sebagai ibadah sosial, kan tepat sasaran dan diberikan
dengan cara yang baik tanpa ada yang terluka. (Noor Salamah)
Sumber :
diakses
pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
2.
http://www.merdeka.com/jakarta/8-modus-sindikat-pengemis-tipu-warga-jakarta.html,
diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
3.
http://news.liputan6.com/read/721416/daging-kurban-makan-korban,
diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
4.
http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=159,
diakses pada 18 September 2014, 12.30
0 komentar:
Posting Komentar