Tulisan
ini awalnya saya buat ketika pada suatu diskusi Akademi Menulis Jepara
(AMJ) Pak Kartika Catur Pelita menantang membuat cerpen dengan tema
blenyik dan kebetulan saat itu sedang membahas POV. Jadilah saya
terinspirasi dan semangat untuk membuat cerpen ini. Monggo di baca, di
komentari juga boleh. Karena saya masih belajar dan tentu masih banyak
kekurangan di sana sini. Jika ada nilai positif yang bisa di ambil, saya
bersyukur karenanya. Karena tangan ini takkan mampu menulis bila tanpa
bimbingan-Nya
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Juni 2017
Rabu, 17 Mei 2017
Menerbangkan Layang-layang
“Kau
tau Dahlia, layang-layang itu tak ubahnya seperti mimpi dan cita-cita kita. Dan
kita tak ubahnya anak kecil yang terus belajar dan berjuang untuk menerbangkan
layang-layang. Suatu ketika kita mengalami angin kencang yang menggoyahkan
kendali layang-layang, atau bahkan ketika kita hendak memulai menerbangkan
layang-layang kita tak memiliki cukup angin. Maka apakah kau akan berputus asa
menerbangkan layang-layangmu Dahlia? Sementara kau begitu menyukai
layang-layang, begitu ingin melihat layang-layang itu terus terbang.”
Dahlia
menggeleng kuat, gadis yang masih duduk di bangku SMP kelas satu itu
membayangkan dirinya semasa kecil yang begitu gemar bermain layang-layang.
“Benar
kau tak boleh berputus asa. Teruslah belajar dan berusaha menerbangkan
layang-layangmu. Teruslah belajar dan berusaha untuk mewujudkan mimpimu.
Bukankah kau memiliki mimpi?” Dahlia sekali lagi mengangguk, matanya berbinar
membayangkan dirinya dalam busana laboratorium, berkutat dengan tabung reaksi.
Meramu senyawa kimia yang berguna untuk umat manusia. “Bagus, pegang eratlah mimpi itu jangan kau
lepaskan. Mimpi selalu punya jalan bagi mereka yang selalu berusaha dan tak
berputus asa. Nah, hari sudah sore saatnya kita pulang. Mamak pasti sudah ribut
karena aku mengajakmu bermain terlampu sore.”
Mereka
berdua berjalan bersisian bergandeng tangan. Di tangan Dahlia tergenggam botol
plastik berisi uang receh, sementara di tangan Santoso tergenggam ukelele yang
biasa mereka gunakan untuk mengamen.
Dahlia
menatap pucuk dari Tugu Muda yang tinggi menjulang ke langit luas. Tiba-tiba
saja ia teringat kenangan bersama kakaknya beberapa tahun silam persis di
tempat ini.
“Bagaimana tanggapanmu tentang tawaran dari
Ibu Atik tadi siang?”
“Entahlah,
aku masih ragu untuk memustuskan bagaimana. Mimpi untuk melanjutkan sekolah,
seperti mimpi yang terlalu tinggi. Aku anak orang miskin. Bapak pun sudah tak
ada. Ibu hanya buruh cuci. Adikku masih dua, kecil-kecil, mereka yang lebih
butuh sekolah. Aku, aku terlalu takut menyampaikan tawaran itu kepada ibu,”
“Apa
salahnya menerima tawaran itu Dahlia? Menurutku kau lebih beruntung daripada
aku. Setidaknya ada orang yang menawarimu, mengulurkan bantuannya untuk
membantumu menggapai mimpi. Sementara aku? Boro-borolah ada yang bantu,
berpikir bahwa aku juga memiliki mimpi pun nampaknya tidak ada dalam benak
mereka. Setidaknya kau masih memiliki peluang, kau cerdas, rajin, dan berbakat
dan kau di sukai banyak guru disekolah dapat peringkat disekolah lagi. Apalagi
yang menghambatmu untuk meraih mimpi?”
“Mamakku
sakit Hani, aku tak tega meninggalkannya sendiri mengurus keluarga. Apalagi
jika aku melanjutkan sekolah pasti ibu akan bertambah bebannya,” Hani terdiam,
ia sudah tidak ingin lagi berdebat dengan sahabatnya. Hani tau, sudah banyak
duka dalam hati Dahlia, terlebih semenjak ia kehilangan kakak yang begitu ia
sayangi secara mendadak akibat kecelakaan. Dunianya hampir-hampir saja berubah.
Pelita dimatanya semakin redup.
Dalam
situasi ini apa yang harus aku lakukan Mas? Akankah sudah menjadi takdirku
untuk tidak sekolah? Akankah sudah menjadi takdirku untuk terus mengamen di
jalanan yang kejam ini? Tuhan bimbinglah aku. Berikan petunjuk-Mu. Mudahkanlah
jalanku.
Bisik
Dahlia, sebuah bisikan yang hanya didengar oleh angin sore.
Sekar
mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Atik, guru muda yang begitu
peduli dengan Dahlia. Hampir-hampir ia tak percaya dengan apa yang dikatakan
oleh Atik tentang anaknya, Dahlia. Dahlia tidak pernah bercerita tentang
masalah ini kepadanya. Memang Dahlia adalah sosok yang pendiam dan tertutup,
tapi Sekar tak menyangka bahwa dalam hal sepenting ini pun Dahlia tidak
bercerita padanya.
“Dahlia
gadis yang cerdas, rajin dan berbakat Bu, sangat disayangkan apabila Dahlia
tidak melanjutkan pendidikannya.”
Kalimat
itu terus berulang di benak Sekar. Sementara di balik tirai jarik, Dahlia
mencuri dengar pembicaraan ibunya bersama Ibu Atik, wali kelasnya. Ingatan
Dahlia melesat jauh kembali ke masa lalu, tentang sore yang begitu indah
bersama almarhum sang kakak. Akankah ia harus menyerah menerbangkan
layang-layangnya?
“Tapi
Bu, saya tidak punya cukup biaya untuk menanggung biaya sekolah Dahlia. Kami
hanya hidup sebatang kara, Mas Didik dan Santoso sudah tiada, sementara Dahlia
masih memiliki adik yang kecil-kecil.”
“Soal
biaya, jangan terlalu dipikirkan Bu. Banyak beasiswa yang bertebaran di luar
sana. Kami dari pihak sekolah akan membantu Dahlian dan kawan-kawan dalam hal
pengajuan beasiswa bidikmisi dan pemilihan jurusan serta universitas. Tapi kami
tentu tak bisa berjuang sendirian. Dahlia butuh motivasi, dukungan, restu dan
doa dari Ibu untuk melanjutkan pendidikannya.”
“Tapi
tentu beasiswa-beasiswa itu belumlah cukup untuk membiayai sekolah Dahlia.
Seberapa besar sih beasiswa itu? Tentu ada biaya-biaya lain yang harus
dikeluarkan. Bukannya saya keberatan Dahlia sekolah lagi, tapi kami ini orang
miskin Bu. Apalah yang bisa kami lakukan sebagai orang miskin ditengah
kehidupan yang semakin kejam dan tak adil?”
“Kalau
beasiswa bidikmisi itu berbeda Bu. Beasiswa ini insyaallah menjamin
penerimanya. Karena, penerima bidikmisi sudah dibebaskan dari biaya perkuliahan
ditambah lagi setiap bulannya akan mendapatkan living cost atau biaya
hidup, untuk membayar tempat kost, buku, makan dan lain-lain. Kalau di sekiatar
semarang ya berkisar enam ratus ribu lah. Tinggal anak itu mengelolanya
bagaimana sehingga dana beasiswa yang diberikan untuknya bisa cukup untuk
memenuhi kebutuhannya,” sekali lagi Atik berusaha menyakinkan Sekar agar
merestui Dahlian melanjutkan sekolah.
Diseberang
sana, Sekar nampak berpikir. Apakah enam ratus ribu sebulan itu cukup untuk
Dahlia?
“Bagaimana
jika begini saja Bu? Mari kita tanyakan Dahlia, apakah ia berkeinginan untuk
melanjutkan sekolah atau tidak? Jika dia memang berniat melanjutkan sekolah, pihak
sekolah akan membantunya. Dan mohon pihak keluarga juga mendukung Dahlia.”
“Dahlia, kemarilah Nduk!” Dahlia
yang sedari tadi mencuri dengar dari balik tirai jarik datang memenuhi
panggilan mamaknya. Ia duduk dengan tatapan menunduk disisi mamak.
“Dahlia, soal tawaran dari sekolah
untuk melanjutkan sekolah, Bu Atik sudah menceritakannya pada mamak. Sekarang
mamak ingin bertanya padamu. Apakah kamu berniat dengan sungguh-sungguh tidak
sekedar ikut temanmu yang kaya-kaya dan suka gaya itu untuk melanjutkan
sekolah?” Dahlia mengangguk. Ia sudah memantapkan hati. Mencoba tak ingin
memikirkan apa reaksi mamaknya. Dahlia ingin layang-layangnya terbang tinggi,
untuk itu Dahlia tidak boleh berhenti berusaha, tidak boleh berputus asa. Atik
tersenyum mendapati jawaban Dahlia. Inilah jawaban yang ditunggu-tunggu.
“Baiklah kalau, begitu. Jika Dahlia memang sudah mantap dengan pilihannya.
Mamak bisa apa? Mamak hanya bisa berdoa untuk kebaikannya,” terharu Dahlia
mendengar jawaban mamak. Dipeluknya mamak erat dan hangat. Mamak membalasnya dengan
pelukan dan tepukan sayang.
“Tapi Mak, jika Dahlia benar-benar
bisa melanjutkan sekolah. Mamak nanti sendirian di rumah, trus yang mengurus
adik-adik nanti siapa? Sementara Mamak sendiri sering sakit- sakitan?”
pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Dahlia ketika Atik sudah pulang.
“Sudah jangan kau pikirkan. Mamak
sudah sehat kok. Mamak masih mampu mengurus rumah dan adik-adikmu. Toh
adik-adikmu adalah anak yang mandiri, mereka pasti bisa mengurus dirinya
sendiri. Lihatlah Rara, ia sudah mulai belajar mencuci pakaiannya sendiri.
Sementara Kholil sepulang sekolah ia membantu di warung Cik Akong. Jadi
janganlah terlalu cemaskan adik-adikmu. Belajarlah yang tekun, banyaklah berdoa
dan jadilah kebanggaan mamak dan keluarga kita. Sebentar lagi kamu ujian to?
Jadi jangan bebanban pikiranmu untuk hal-hal seperti ini. Oh ya mamak juga
minta, berhentilah mengamen di jalanan. Mamak tak ingin pikiranmu pecah.
Apalagi tindak kriminal semakin tinggi. Mamak khawatir padamu,” Dahlia sekali
lagi mengangguk, tak tau lagi harus berkata apa.
Tengah malam, katika rumah sudah
sepi sekali. Di atas depan kayu beralas tikar lusuh, Dahlia mendengar rintih,
tangis serta doa mamak dalam salat malamnya.
“Ya Allah yang Maha Mendengar.
Mudahkanlah urusan Dahlia, berikanlah ia ilmu yang bermanfaat dunia dan
akhirat. Ya Allah, bimbinglah ia agar ia senantiasa berada di jalan yang
Enagkau ridai. Hanya atas kuasa dan kehendakmu ya Allah, Dahlia bisa
melanjutkan sekolah menggapai cita-citanya. Menjadi orang yang sukses dunia dan
akhirat. Tuhan, Dahlia adalah yang membanggakan bagiku, tapi janganlah ia
Engkau jadikan hanya kebanggaanku seorang tapi juga kebanggan-Mu, kebanggaan
nusa, bangsa dan agama. Ya Allah mantapkanlah hatinya dalam melangkah.
Kuatkanlah hamba, agar bisa selalu mendampinginya agar selalu mampu mendidik
anak-anak hamba menjadi hambamu yang Engkau banggakan,”
Tanpa Dahlia sadari tetes air mata
jatuh membasahi pipinya. Ia peluk erat Rara dan Khalil yang tertidur pulas di
sampingnya. Air mata semakin turun deras, manakala terdengar suara batuk
Mamaknya.
Ya Allah, kuatkanlah aku.
Bimbinglah aku. Mudahkanlah urusanku. Mamak, aku berjanji padamu. Aku akan
berusaha menjadi apa yang engkau harapkan. Selalu menjadi anak yang
membanggakan dan membahagiakanmu.
***
Noor Salamah, putri pasangan M. Ma’ruf (Alm) dan S. Muzaronah lahir
pada 23 Juni 1994. Beralamat di Jalan
H.M. Sahid No. 11 Panggang Jepara.
Kamis, 11 Mei 2017
Di Balik Rak itu, Aku Menemukanmu
Masih
di tempat yang sama. Di balik rak itu, aku menemukanmu. Duduk tenang seolah kau
hidup dengan duniamu sendiri. Tak terusik, siapapun dan apapun. Bahkan hujan
yang turun deras sekali, hanya kau lirik dari kaca jendela di sampingmu. Sesekali
kau menaikan kaca matamu yang turun. Beberapa tumpuk buku berada di pinggir
mejamu. Sementara itu matamu bergerak fokus mengikuti alur setiap abjad yang tersusun
dari buku yang kau pegang. Mencoba memasuki dimensi ruang dan waktu yang
dicipta sang penulis. Hanyut dalam emosi, seolah-olah kaulah yang mengalami
semua peristiwa itu. Sukmamu mungkin sudah terbang bersama imaji yang kau
racik. Dengan bumbu-bumbu fantasi penuh misteri. Di salah satu sudut ruangan
ini, kau menyepi sendiri, mengucilkan diri dari hiruk pikuk, sibuknya dunia
yang tak pernah sepi. Membenamkan diri di dalam setumpuk buku.
Aku
selalu menemukanmu di balik rak itu, selalu di waktu yang sama. Di hari sabtu,
di balik rak penuh buku misteri. Sama seperti dirimu yang penuh misteri. Dan
kau akan menghabiskan waktumu dari pukul dua siang hingga perpustakaan ini
tutup. Dan kaupun akan pergi, dengan ekspresi penuh kesedihan seolah-olah kau
telah kehilangan belahan jiwamu. Tapak kakimu terasa berat sekali tatkala kau
paksa dirimu tuk pergi. Aku merasakannya, sebagian hatimu sengaja kau
tinggalkan disini.
Hari
ini kau datang lagi. Selalu seragam coklat itu yang kau kenakan, dan kau
terlihat amat manis kali ini, layaknya sebuah coklat. Kau isi kehadirin di komputer
dekat tangga. SLTA. Itulah yang kau klik. Kau ambil kunci loker yang aku
sodorkan. Membuka loker, menaruh tas. Mengunci kembali loker, lalu kunci itu
kau serahkan kembali padaku sedangkan kau hanya memegang selembar kertas tanda
nomor loker. Berjalan santai, menuju tempat favoritmu. Dibalik rak buku misteri
dekat jendela. Tentu saja sebelumnya kau akan mengambil beberapa buku misteri
dari rak di sampingmu. Rak itu berisi buku-buku karya penulis luar negeri,
seperti Sir. Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, Dan Brown dan lain-lain. Tak banyak pengunjung
lain yang tertarik dengan buku-buku di rak itu. Alasan pertama kebanyakan buku
itu sudah jelek, baik cover maupun kertas isinya. Alasan kedua, kebanyakan
buku-buku itu merupakan cetakan lama tahun 90 hingga 20-an. Alasan ketiga, tak
banyak yang suka novel terjemahan. Mungkin kau termasuk diantara sedikit yang
masih menggemarinya buku-buku jenis itu. Terutama buku yang ditulis Agatha
Christie. Ku pikir kalian memiliki kesamaan, sama-sama menyukai kisah penuh
misteri. Kasus pembunuhan terutama. Agaknya, kau bercita-cita jadi seorang
detektif, yang berhasil mengungkap berbagai kebenaran dibalik teka-teki.
Denting
panjang bunyi bel terdengar keras dari setiap spiker yang terpasang di
langit-langit ruangan. Tanda bahwa lima menit lagi perpustakaan akan tutup. Kau
terlihat sedikit gugup. Kau bergegas pergi menghamipiriku, meminta kunci loker.
Pada kesempatan ini aku beranikan diri bertanya padamu.
“Enggak
minjem buku Mbak?”
“Enggak
Mas, belum punya kartu.”
“Ya
buat to Mbak. Caranya mudah kok, tinggal ngisi formulir. Minta tanda tangan
guru dan pengesahan dari sekolah. Ini formulirnya.” Aku sodorkan padanya
selembar formulir pendaftaran anggota perpustakaan. Dia menerimanya tanpa
banyak kata selain mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku.
Hujan
turun semakin deras, dari yang tadinya hanya sekedar rintik-rintik ketika aku
mengunci pintu perpustakaan ini. Dan betapa aku terkejut, melihat dia masih
berada di sini. Duduk sendiri di bangku kayu panjang depan pintu perpustakaan.
Matanya menerawang menatap ke langit yang gelap. Mendung semakin tebal nan
pekat, pun hari semakin sore.
“Nunggu
siapa Mbak?”
Dia
menggelang lemah. Tidak menunggu siapa-siapa, tidak menunggu jemputan, jadi
mungkin dia menunggu hujan reda untuk pulang.
“Hujannya
mungkin akan berlangsung lama. Rumahmu dimana?”
Wajahnya
kini semakin sedih, ketika aku mengatakan hujannya mungkin akan lama.
“Potroyudan,
Mas.”
Tak
terlalu jauh, batinku.
“Mau
tak anter?”
Aku
menawarkan sebuah solusi. Tapi ia justru memandangku dengan tatapan aneh.
Mungkin aku dianggap lancang, baru ngobrol pertama kali. Tau-tau menawari
sebuah boncengan.
“Ndak
Mas, ndak usah repot-repot. Saya nunggu hujan reda aja.”
Aku
terdiam. Menatap langit yang kian gelap. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku
buka kembali pintu perpustakaan. Ketemu, ini akan menolong. Aku kembali lagi
duduk di sampingnya. Menyodorkan sebuah payung kepadanya. Matanya menatapku,
mengisyaratkan sebuah tanya.
“Pakailah,
tak apa. Ini adalah inventaris perpus. Boleh digunakan kok.”
“Terima
kasih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Mas. Assalamualaikum.”
Dia
pun pergi, berlalu bersama payung yang melindunginya. Semakin jauh, hilang
diantara tetes air hujan.
Seminggu
kemudian, kau datang lagi kesini. Masih mengenakan seragam coklat. Dengan
rutinitas seperti biasa. Sepertinya kau menyengaja menjadi pengunjung terakhir
kali ini. Bahkan kau juga sepertinya sengaja menungguku, hingga perpustakaan
ini hendak aku tutup. Saat itulah kau mencegahku.
“Tunggu
Mas, jangan di tutup dulu.”
Aku
menoleh heran menatapmu. Kau kemudian menyerahkan sebuah payung yang dulu aku
pinjamkan.
“Saya
cuma mau mengembalikan ini Mas, makasih.”
“Tapi
di luar gerimis, tak apa kalau kamu mau minjam lagi.”
“Enggak
Mas, enggak perlu. Saya sudah bawa payung sendiri kok. Terima kasih saya pamit
pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum
salam.”
Kau
mekarkan sebuah payung berwarna hijau emarld dengan hiasan sedikit bunga. Kau
pun kemudian berlalu, pergi menghilang diantara tetes hujan. Mungkinkah besok
aku memiliki alasan lagi untuk bercakap-cakap denganmu? Semoga, kesempatan yang
baik itu akan datang lagi.
Rupanya
doaku tidak di ijabah. Kesempatan itu tidak datang lagi. Bahkan aku tak
lagi menemukanmu di balik rak itu. Aku selalu menunggu hari sabtu tiba, namun
ketika sabtu bersua kecewa jua yang kudapat. Aku bahkan belum sempat tau siapa
namamu. Dimana kamu sekolah. Rindu ini sungguh menyesak di dada. Semakin lama
semakin membuat aku susah bernapas. Setiap ada gadis berseragam coklat datang
ke perpustakaan di hari sabtu, aku selalu berharap itu kamu. Namun aku hanya
berhalusinasi. Faktanya kamu tak pernah datang. Dan aku baru sadar bahwa, benang
merah jambu sudah terlanjur menjerat hatiku. Aku pun belum sempat menyampaikan
kegelisahan hatiku kepadamu. Mengutarakan isi hatiku, betapa aku menyukaimu.
***
Noor Salamah, lahir pada tanggal 23 Juni 1994. Putri pasangan M.
Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah ini hobinya membaca dan menulis. Sejak 2012
melanjutkan studi S1 Pendidikan Luar Sekolah di Unnes. Penulis dapat dihubungi
melalui e-mail : salamah_chan@yahoo.com, fb
: salma van licht atau twitter : @salma_skylight.
Sabtu, 02 April 2016
by noor salamah
Lukisan Terakhir
Lukisan Terakhir
Sebuah lukisan berukuran 1x0,5 m dengan bingkai kayu jati berukir
terpajang di dinding dengan kokoh. Banyak pengunjung pameran yang sejenak
memperhatikan lukisan tersebut. mengagumi keindahan seni lukisannya. Hingga
satu persatu mulai pergi, namun seorang wanita berumur tiga puluhan mengenakan
gamis berwarna hitam dengan pashmina hijau masih diam, tegak berdiri.
Dipandanginya terus lukisan yang bergambar seorang pengantin wanita dengan gaun
dan jilbab putih gading berdiri diantara taman bunga sedang menatap purnama. Di
sebelah bulan purnama, terdapat sebuah bintang yang bersinar amat terang dan
sebuah bintang jatuh. Kedua tangan wanita tersebut memegang setangkai bunga krisan, bunga lambang
kematian. Beberapa ekor kupu-kupu besar bewarna hitam terbang disampingnya. Bibir
wanita itu tersenyum tapi matanya menangis.
Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, tujuh tahun yang lalu.
Pada sesosok laki-laki yang amat dekat dihatinya. Pria yang telah mengetuk
pintu hatinya. Pria yang membuatnya jatuh hati. Namanya Bagas. Saat itu ia
sedang duduk di suatu sudut kota lama, di depannya sebuah kanvas dan berbagai
perlengkapan melukis siap menjadi media penuangan perasaannya. Seorang wanita
berumur belasan tahun, berdiri dibelakangnya. Kedua tangannya erat memegang
kendali kursi roda.
“Bisa tolong pesankan aku secangkir coklat panas?” pinta pria
dengan kursi roda.
“Tentu kak, kakak tolong tunggu sebentar ya,” gadis kecil itu
segera berlari menuju kafe yang tak jauh dari posisinya.
Pria itu hendak memulai melukis. Dipandanginya Greja Blenduk,
sebuah gereja tua zaman Belanda yang masih tegak berdiri. Pria itu menggeser
posisi kursi roda, dan saat itulah kuasnya jatuh. Dengan susah payah pria itu
berusaha mengambil kuas yang terjatuh. Tapi sebuah tangan lain telah
mendahuluinya. Pria itu mendongak, sebuah wajah manis berjilbab biru memandangnya
tanpa bicara hanya menyodorkan kuas.
“Terima kasih,” gadis di hadapannya tersenyum. Kembali ke tempat
duduknya berkutat dengan laptop. “Hai kamu,” pria berkusi roda berteriak kepada
gadis yang baru menolongnya.”Bolehkah aku meminta tolong sekali lagi?”tanpa
bicara gadis itu kembali mengangguk menghampiri pria berkusi roda. Wajahnya
seolah bertanya bantuan apa yang bisa diberikan olehnya. “Bisakah kau bantu aku
dengan mendorong kursi roda ini pergi ke sudut sebelah sana? Sepertinya sudut
disana lebih bagus untukku melukis.” Gadis itu kembali mengangguk. “Oh ya,
namaku Bagas. Lintang Bagaskara. Namamu siapa?” diberikan pertanyaan seperti
itu, gadis di belakangnya bukannya menjawab malah menghentikan kursi roda.
Apakah ia marah? Tersinggung oleh sikapku yang tiba-tiba mengajak
kenalan?
Terka Bagas dalam hati. Ia menanti dengan cemas apa yang akan
dilakukan oleh gadis tersebut.
Namaku Kartika Sari. Panggil saja Sari. Senang berkenalan denganmu.
Maaf aku hanya bisa berkomunikasi seperti ini. Semoga hal ini tidak
menganggumu.
Bagas tersentak membaca sebuah tulisan di pangkuannya.
Apakah ini artinya? gadis bernama sari yang mendorong kursi rodanya
tak bisa bicara? bisu?
Tapi Bagas tak berani bertanya lebih jauh, takut melukai
perasaannya.
“Tak apa, setiap orang memiliki kekurangan. Mungkin itu
kekuranganmu, tapi lihatlah, aku pun memiliki kekurangan. Aku terlahir tak
sempurna, aku tak memiliki kaki yang utuh, jemariku pun hanya ada tiga. Tapi
tak mengapa, aku tetap bersyukur. Aku bersyukur masih diberi kehidupan dan
dipertemukan dengan orang-orang yang sangat menyanyangiku. Kekurangan ini tak
boleh menjadi penghambatku untuk maju. Mimipiku adalah menjadi seorang pelukis
besar, pelukis yang karyangnya abadi. Jadikan kekurangan menjadi pelecut untuk
maju. Bolehkah aku tau mimpimu?”
Menjadi penulis terkenal yang karyanya mampu menginspirasi semua
pembacanya. Itulah mimipiku.
Jawab Sari di selembar kertas.
“Bagus. Lanjutkan, mari kita usahakan untuk mewujudkan mimpi kita!
Buktikan pada dunia bahwa kita bisa!” ucap Bagas berapi-api di belakangnya Sari
hanya mengangguk dan tersenyum.
“Maaf Kak, menunggu lama. Ini cokelat panasmu. Aku taruh sini ya.”
“Iya, makasih ya Rachel. Oh ya, kenalin ini teman baru kakak,
namanya Kartika Sari. Biasa di panggil Sari. Sari, ini sepupuku. Namanya
Rachel.”
“Rachel, senang bertemu dengan Kak Sari. Semoga Kak Sari bisa
bersahabat baik dengan Kak Bagas,” Rachel mengulurkan tangan, Sari membalas
uluran tangan tersebut mengangguk dan pergi kembali ke kursinya. “Temanmu
kenapa Kak, kenapa dia hanya menggangguk lalu pergi tanpa bekata apa pun?”
“Karena memang dia tidak bisa berkata-kata Rachel. Dia Bisu. Dia
hanya bisa berkomunikasi lewat tulisan,” Rachel mengangguk maklum.
Pertemuannya dengan Sari, meski singkat namun mampu mengusik
dirinya. Beberapa kali skesta Gereja Blenduk tiba-tiba saja berubah menjadi wajah
manis Sari ketika tersenyum. Ini membuatnya tak tenang dan sulit berkonsentrasi.
Waktu terus berlalu tanpa peduli apa yang sedang terjadi. Sari
seperti biasa, sedang menikmati seduhan coklat panas sambil merampungkan proyek
menulisnya. Untuk beberapa lama kafe ini akan menjadi tempat favoritnya, dan
selama itu pula Sari selalu menemukan Bagas di tempat yang sama. Tapi Kali ini
Bagas sendiri tanpa Rachel, dan lagi-lagi kuas Bagas terjatuh.
“Terima kasih,” Bagas memperhatikan siapa yang telah membantu
menolongnya, betapa terkejut dirinya menemukan wajah manis Sari dihadapannya.
Wajah yang selama beberapa hari mengusiknya.
“Dimana Rachel? Kenapa dia tidak menemanimu hari ini?” tanya Sari
melalui secarik kertas.
“Rachel sedang sibuk mempersiapkan ujian kelulusan. Oh ya, bolehkan
aku minta tolong? Menemaniku disiku selama Rachel tidak ada? Tentu aku akan
sangat terbantu jika kau ada disisiku itu pun jika kau tak terganggu dengan
kehadiranku disisimu?”
Sari mengangguk. Tanpa berkata, Sari membereskan berbagai barangnya
memindahkannya di meja dekat Bagas berada. Bagas memperhatikan Sari yang sedang
duduk menghadap laptop. Di sampingnya sebuah cokelat panas mengepul
mengeluarkan uap. Jilbab merah jambu berkibar tertiup angin, terusan panjang
warna senada nampak anggun ketika melekat di tubuhnya yang semampai. Bagas
mengamati dengan seksama setiap inchi dan setiap apa yang ada pada Sari,
merekamnya dalam memori. Hingga akhirnya ia melihat Sari salah tingkah. Sari
bukannya tak merasa diamati oleh Bagas. Sari merasakannya, tapi tak bisa
berbuat apa-apa. Ia berusaha tak peduli tapi nyatanya tak bisa. Sikap Bagas
yang seperti itu membuat ia grogi dan salah tingkah.
Hari demi hari berlalu, ternyata tak hanya sehari, seminggu atau
sebulan Sari diminta menemani Bagas selama tidak ada Rachel. Waktu begitu
panjangpun akhirnya membuat mereka semakin dekat. Bahkan sedikit demi sedikit
Bagas mulai bisa bahasa isyarat, lebih jauh dari itu Bagas bahkan seolah
memahami apa yang diinginkan Sari tanpa Sari harus menulis atau mengatakannya.
Aku mengantarmu cukup sampai disini ya. BBM aku kalau kalau sudah
selesai. Aku akan ke masjid dulu.
Begitulah isi pesan Sari. Di depan Gereja Blenduk mereka berpisah.
Bagas masuk ke dalam Gereja sementara Sari berjalan ke arah lain menuju masjid.
Di hadapan patung Yesus Bagas berdoa, sebagaimana di hadapan Allah SWT Sari
bedoa.
Tuhanku yag Maha Sempurna. Jika perasaan yang bersemayam dalam
hatiku adalah sebuah kesalahan. Jadikanlah ini merupakan kesalahan indah, yang
akan mendekatkanku pada-Mu. Jika rasa yang ada di hati ini tidaklah engkau
ridhoi, cukupkanlah sampai disini perasaan ini. Jangan ada cinta diantara kami.
Jangan ada benci diantara kami. Jadikanlah kami sahabat yang selalu saling menguatkan.
Hari ini setelah bertahun-tahun Sari memutuskan untuk pergi. Pergi
jauh meninggalkan Bagas dan kenangan yang mereka cipta. Disinilah Sari,
memandang lukisan terakhir Bagas.
“Kak Sari? Benarkah itu kau Kak Sari?”
Sari menoleh ke belakang, di tatapnya wajah Rachel sepupu Bagas.
“Benar itu kau, Kak Sari?” Sari mengangguk. “Mari ikut aku, ada
yang harus aku berikan padamu. Wasiat dari Kak Bagas.” Sari menurut.
Dibiarkannya Rachel menuntun langkahnya. Mereka melewati sebuah lorong dimana
kanan dan kirinya penuh dengan lukisan. Hingga mereka tiba pada sebuah ruang
kecil berkaca bertuliskan TIDAK UNTUK DIJUAL. Rachel mengambil sebuah lukisan,
Sari tersentak kaget melihat sosok yang terlukis itu, yang tak lain adalah
dirinya.
“Lukisan ini dari Kak Bagas untuk Kak Sari. Terimalah kak.”
Sari menerimanya. Tanpa ia sanggup untuk menahan air matanya jatuh.
Sari jatuh terduduk memeluk lukisan itu. Lukisan saat ia sedang mengetik di
sebuah kafe di kota lama. Akhirnya ia tau, mengapa waktu itu Bagas begitu lekat
memandangnya, tak lain agar ia dapat melukisnya.
“Rachel tau, Kak Bagas sangat mencintai Kak Sari. Hingga Kak Bagas
meminta Rachel untuk tidak usah menemaninya melukis tak lain agar Kak Sarilah
yang menggantikan posisi Rachel. Kak Bagas berharap posisi itu bisa di isi
terus oleh Kak Sari. Tapi nyatanya tak bisa, Kak Bagas akhirnya sadar. Ada
perpedaan besar yang tak mungkin disatukan diantara kalian. Kak Sari akhirnya
pergi. Sungguh Kak Bagas amat sakit dan terluka, tapi ia bisa apa? Sekalipun
Kak Bagas ingin melupakan Kak Sari menghapus cinta yang terlanjur bersemi.
Nyatanya itu susah sekali. Lukisan terakhir yang kakak lihat tadi adalah
lukisan yang Kak Bagas buat saat kemoterapi menjelang operasi pengangkatan
kanker otak yang ternyata gagal. Lukisan itu mengambarkan perasaan Kak Bagas
terhadap Kak Sari, orang yang dicintainya. Kak Bagas tau, kelak Kak Sari akan
datang kembali bukan sebagai kekasih tapi sebagai sahabat yang menguatkan.
Menghadapi kematian Kak Bagas, Kak Sari harus tersenyum walaupun sedih
sekalipun. Tetaplah tersenyum. Bintang yang jatuh itu telah berpulang ke tempat
dia berada.”
Rachel memeluk Sari yang menangis sesenggukan.
Jangan menangis Sari. Jangan menangis sebab kematianku. Tersenyumlah,
maka aku turut bahagia untukmu. Jemputlah mimipmu, sebagaimana aku telah
menjemput mimpiku. Bukankah itu adalah janji kita berdua dulu? Jangan menangis
dan tersenyumlah. Sesungguhnya inilah jawaban atas doa kita. Sungguh, kita
memang tak bisa bersatu sebagai kekasih. Terlalu berdosa dan egois kiranya jika
aku mengharapkan itu terjadi. Maka kini kenanglah aku sebagai sahabatmu.
Lintang Bagaskara
(Bintang yang telah jatuh, kembali
ke tempatnya berada)
Membaca tulisan yang ada dibalik lukisan membuat Sari kembali
menangis sesenggukan. Sungguh Sari tak kan mampu melupakan Lintang Bagaskara,
bintang yang telah jatuh, kembali ke tempatnya berada.
***
Noor Salamah, merupakan putri pasangan M. Ma’ruf (Alm) dan Slamet
Muzaronah. Ia lahir dan besar di Jepara. Menyukai dunia tulis menulis sejak
SMP, dan ia bercita-cita menjadi seorang penulis yang bisa menginspirasi banyak
orang. Penulis bisa dihubungi via Fb : Salma Van Licht, email: salamah_chan@yahoo.com, atau CP: 085876214142
Jumat, 01 April 2016
by noor salamah
Mbok, Kenapa Mereka Takut Sama Aku?
Perkenalkan namaku Ayu, umurku
sebelas tahun. Tapi simbok lebih suka manggil aku Nduk Ayu, dan aku suka nama
itu karena terdengar cantik dan penuh kasih. Aku Ayu, aku memiliki teman-teman
yang unik-unik. Ada Dido ia sangat suka bermain musik terutama gendang, tapi ia
sangat benci matematika, ia bahkan tidak bisa membedakan uang sepuluh ribu dan
seratus ribu. Oh iya juga ia memiliki suara yang sangat bagus, dan satu lagi ia
cukup tampan. Stt, jangan bilang-bilang nanti dia kegeeran. Aku juga punya
teman lagi, namanya Juni. Ya ia memang terlahir di bulan Juni makanya ia
bernama Juni. Aku juga lahir di bulan Juni, tapi simbok tidak menamaiku Juni.
Emm, mungkin nama Ayu lebih pantas untukku. Temanku Juni, ia cantik tubuhnya
tinggi dan langsing. Ia sangat suka menari, dan tariannya indah. Paling suka ia
menari Jaipongan. Tapi ia tidak bisa membedakan warna, dia payah soal warna. Ia
selalu meraba wajah orang terlebih dahulu sebelum bercakap-cakap, barulah ia
tahu dengan siapa ia bicara. Sebenarnya ada banyak temanku yang unik, tapi
tentu saja aku tak bisa menceritakannya semua kepadamu.
Pagi itu aku diajak Simbok ke sebuah
acara yang diadakan oleh tetangga. Aku tak tu acara macam itu. Simbok tidak
mengatakannya padaku. Disana aku mendengar nama Muhammad di baca
berulang-ulang, dan kalimat ini Allahummad sholli alaih. Selebihnya
terdengar dalam bahasa aneh yang tidak aku pahami, seperti bahasa yang Simbok
gunakan ketika ngaji Al Qur’an.
Ada
banyak tamu yang hadir, tua, muda dan anak kecil. Pria maupun wanita. Disana
ada segerombolan mas-mas, ada yang bernyanyi menggunakannya mic dan yang lain
memukul-mukul benda bulat entah apa namanya hingga terdengar musik yang indah
dan penuh semangat.
Aku
dekati salah seorang diantara mas-mas yang memukul-mukul benda bulat. Ia
terkejut dan merasa takut. Tapi aku tak ambil pusing. Saat mas-mas itu sedang
tidak memainkan benda bulat, aku ambil si benda bulat. Aku pukul-pukul mencoba
mengikuti irama dan gerakan mas-mas yang lain. Aku pukul-pukul hingga tanganku
terasa sakit dan berwarna merah.
Jelek,
barang ini jelek. Ia tidak menghasilkan bunyi yang indah.
Aku
banting benda itu ke lantai bermarmer putih, hingga terdengar suara buk
yang keras. Semua orang memandangku.
“Nduk
Ayu sini!”
Panggilan
itu, aku suka panggilan itu. Simbok memanggilku. Tapi, wajahnya menyiratkan
kemarahan. Apakah karena tadi aku membanting si bulat? Aku takut di jewer. Aku
takut dipukul. Aku takut dibentak. Aku memeluk tiang bangunan yang dingin. Aku
takut kesana. Tidak, simbok justru mendekatiku. Aku berputar ke sisi lain,
menghindar. Tapi simbok semakin dekat, aku tak bisa kabur. Ia sudah memegang
tanganku. Kini kami berhadap-hadap. Aku takut, tangan simbok sudah melayang
diudara. Ia mungkin akan memukul pantatku keras seperti yang biasa Bapak
lakukan dulu.
Apa
ini?
Bukan
kerasnya pukulan di pantat yang aku rasakan, namun belaian lembut di rambut.
Ahh simbok, ia memang tak pernah memukulku. Ia begitu lembut dan sabar
terhadapku. Simbok menarik tanganku, mengajak duduk tenang disisinya. Semenit
dua menit tiga menit empat menit lima menit. Aku tak tahan berdiam diri. Simbok
tak kuasa menahanku, ia tahu aku memang susah diatur apalagi untuk duduk
tenang. Bagiku duduk tenang itu lebih melelahkan dan membosankan daripada
berlari kesana kemari.
Aku
melihat beberapa anak kecil yang mungkin seusiaku. Aku dekati dia. Tapi ia
berlari menjauh, bersembunyi di balik tubuh ibunya. Semakin dekat dengannya, ia
semakin terlihat takut, ia bahkan mulai menangis. Ibunya mengusirku. Aku pergi,
menghampiri yang lain mungkin masih ada yang mau berteman denganku. Namun yang
lain pun sama, mereka semua berlari ketakutan bersembunyi di balik tubuh
ibunya, menangis, dan ibu mereka mengusirku. Sebenarnya apa yang salah?
Memangnya aku terlihat seperti monster seperti di film-film kartun? Memang
tubuhnya tinggi besar. Tapi aku bukan monster. Apakah karena aku wajahku jelek?
Ada yang jauh lebih jelek, itu si Tito temanku di sekolah. Ia lebih jelek. Trus
kenapa mereka takut sama aku?
Aku berlari mengamburkan diri ke
simbok. Dengan sangat susah payah aku bertanya pada simbok.
“Mbok, kenapa mereka takut sama
aku?” Aku menuding mereka, gadis-gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuh
ibunya. “Aku kan bukan monster kenapa mereka takut sama aku?” Simbok tidak
menjawab. Simbok justru menangis. “Kenapa Simbok nangis? Ayu salah?” Simbok
masih tidak menjawab. Aku guncang-guncang tubuh Simbok kuat. Tapi Simbok masih
belum menjawab. Di belakang, ibu-ibu berbisik cukup keras.
“Gimana mereka tidak takut dideketin
makhluk idiot kayak gitu?!”
“Stt, dia bukan idiot tapi autis.”
“Ah sama aja!”
Idiot? Autis? Apa maksudnya?
Memang aku bodoh, umur sebelas tahun saja aku baru lancar bicara, baru tahu
angka satu sampai sepuluh. Apakah karena itu mereka takut sama aku?
***
Nama : Noor Salamah
Alamat : Jalan H.M Syahid No. 11 Rt 03 Rw 5
Panggang Jepara
Status : Mahasiswa Pendidikan Nonformal Unnes
Fb : Salma Van Licht
Twitter : salma_skylight
Cp : 089668214948
Pesan Nisan untuk Nisa
Pesan Nisan untuk Nisa
Seekor burung
gagak hitam bertengger diranting pohon rambutan setelah sebelumnya mengitari
gubuk kecil di depannya. Suaranya parau. Gagak itu memandang sebuah gubuk kecil
di depannya dengan tajam. Mengawasi
setiap gerak-gerik di setiap sudut gubuk.
“BAPAAAAAKKKKKKK
.. ”
Sebuah teriakan
panjang terdengar dari arah gubuk. Gagak hitam mengepakkan sayap dan pergi.
Tiga orang anak
kecil menangis dihadapan sebuah keranda mayat. Mereka memeluk erat sebuah buku
ditangan mereka. Sampai mayat dikuburkan pun, mereka bertiga tetap memegangnya
dengan erat. Yang paling kecil namanya Imron usianya baru tujuh tahun,
selanjutnya Nisa usianya setahun lebih tua dan yang paling besar namanya
Ibrahim usianya sembilan tahun. Ibu mereka meninggal tatkala melahirkan Imron.
Kini mereka menjadi yatim piatu. Tanpa ibu tanpa bapak. Saudara yang mereka
miliki hanyalah kakak dari bapak mereka. Namun tak jauh beda dengan kondisi
ekonomi keluarga mereka. Tidak bisa sekolah. Tak bisa makan tiga kali sehari.
Ditambah lagi paman sudah memiliki lima orang anak yang masih kecil-kecil. Anak
paman yang terbesar berumur lima tahun. Dua tahun lebih muda dari Imron.
Bagaikan bergantung pada akar yang lapuk. Hidup bersama paman, mereka justru
dituntut untuk membantu pekerjaan rumah, mengurus keponakan mereka, mencari
uang, bekerja di ladang memberi makan ternak dan tugas-tugas lainnya. Tak
mengapa bagi mereka, karena paman memang baik terhadap mereka bertiga.
¤¤¤
Suatu malam yang cerah ketika keluarga paman sedang makan bersama, seorang
tamu datang berkunjung. Penampilannya
sederhana. Hanya memakai baju koko sarung dan peci.
“Assalamualaikum ..”
“Waalaikumsalam ..”, paman menghampiri pintu dan membawa masuk seorang pria
paruh baya.
“Silahkan duduk, mari bergabung dengan kami. Tapi jika kau tak keberatan
tentunya karena lauk yang kami miliki seadanya.”
“Tak masalah bagiku, dirumah pun lauknya tak beda jauh kok, hehehe
..”, pria tersebut kemudian duduk
bersila di dekat paman.
“Anak-anak perkenalkan ini sahabat bapak namanya Pak Solikin.”
“Hai anak-anak, senang bertemu kalian. Ah iya, aku lupa. Aku membawa
sedikit buah segar untuk kalian.”
“Terima kasih teman. Ibu, tolong iriskan buah-buahan ini jadi potongan
kecil-kecil.” Paman menyerahkan buah-buahan tersebut kepada Bibi.
“Mari kita mulai makannya.”
Sambil menikmati buah segar mereka
berbincang-bincang.
“Apakah semua anak ini adalah anak-anakmu ?”
“Tidak, hanya lima yang anak kandungku tiga
yang lain adalah anak dari kakakku yang telah meninggal. Mereka yatim piatu,
karena saudara yang mereka miliki hanyalah aku maka akupun merawat mereka. Tapi
kesemuanya sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri. Bahkan Ibrahim,
Imron dan Nisa adalah anak yang baik dan patuh. Bagaimana denganmu ? apakah
sekarang kau sudah memiliki momongan ?”
“Belum, Allah masih belum menganugrahkan
seorang anak kepadaku. Padahal usia perkawinanku sudah sembilan tahun.”
“Sabar saja. Pasti ada hikmahnya.”
“Ngomong-ngomong apakah mereka sudah sekolah ?
kurasa yang paling besar umurnya sekitar sebelas tahunan. Seharusnya sudah
kelas lima SD jika sekolah.”
“Ahh kau ini, ngaco saja. Mana mungkin aku
mampu menyekolahkan mereka ? untuk makan sehari tiga kali saja harus kerja
keras setengah mati.”
Sunyi. Keduanya hanyut dalam pikirannya
masing-masing.
“Emm, sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya
aku berniat mengadopsi salah satu diantara anak kakakmu. Kau tahu sendiri,
sudah sembilan tahun aku menikah dan belum juga punya momongan. Aku harap kau
tak marah. Aku juga harap dengan niatku ini aku bisa membantumu dan juga
kakakmu. Itu jika kau setuju tentunya.”
Hening
“Entahlah, aku tak tau. Aku tak bisa
memutuskan secara sepihak. Keinginanmu harus aku musyawarahkan dulu dengan
istri dan keponakan-keponakanku.”
“Baiklah, aku akan menunggu.”
“Diantara mereka bertiga siapa yang paling kau
harapkan untuk kau adopsi ?”
“Nisa. Aku rasa dia gadis kecil yang cantik,
pintar, baik dan penurut.”, ia memperhatikan Nisa yang dengan cekatan
membereskan piring-piring kotor diatas tikar.
“Ya, perasaanmu memang tidak keliru. Nisa adalah
gadis kecil yang cantik, pintar, baik dan penurut. Ia terlihat lebih dewasa
daripada anak lain seusianya.”
¤¤¤
Nisa turun dari
sepeda motor Jupiter Mx milik Pak Solikin. Nisa mengecup tangannya dan pergi
sekolah. Hari ini adalah pertama kalinya ia masuk sekolah. Meski terlambat
setahun ia tetap bersemangat untuk sekolah. Sebulan yang lalu, Nisa memutuskan
untuk bersedia menerima ajakan Pak Solikin jadi anak adopsi. Nisa hanya
berpikir Pak Solikin adalah orang yang baik, mungkin dengan ia ikut bersamanya
Nisa bisa meringankan beban keluarga paman, dan juga karena Nisa ingin sekolah.
Waktu sebulan, Nisa tampaknya mudah untuk beradaptasi. Pada kenyataanya ayah
dan bunda barunya memperlakukannya dengan sangat baik. Banyak hal yang mereka
berikan, belum Nisa dapatkan sebelumnya dari ibu, bapak maupun pamannya. Pak Solikin dan istri juga tidak menyesal
telah mengadopsi Nisa. Nisa gadis kecil yang cantik, penurut, suka membantu dan
nerimaan.
Seiring
berjalannya waktu. Nisa mulai bisa membaca dan menulis dengan baik. Suatu
ketika di hari minggu yang cerah diruang makan. Ayah sedang menikmati secangkir
kopi hangat sambil membaca koran, dan bunda sedang menyiapkan gorengan untuk
cemilan. Nisa kecil datang dengan berlari dan sedikit menjerit memanggil ayah
sambil menenteng sebuah buku.
“Ayaaahh..
tolong bantu Nisa. Nisa tak bisa baca buku ini. Ini enggak pernah diajarin di
sekolah Nisa. Padahal Nisa pengen bisa baca buku ini. Tolong Nisa ayah ..”
Nisa duduk
disamping ayahnya dan menunjukkan buku yang ia maksud. Ternyata buku yang Nisa
maksud adalah Juz Amma. Pantaslah Nisa tidak faham, karena memang di sekolah
formal SD tidak diajarkan bahasa arab.
“Juz Amma ?
emm, ayah rasa jika kamu ingin bisa membaca Juz Amma, Nisa harus belajar huruf
arab dulu. Karena dasar dari membaca juz Amma adalah huruf arab atau hijaiyah.
Nah biar Nisa lebih pintar lagi bacanya Nisa mau ayah sekolahin di TPQ ? TPQ
adalah taman pendidikan Quran. Disana Nisa bakal diajarin bagaimana caranya
membaca Juz Amma dan Al Qur’an. Jadi nanti sepulang sekolah siangnya Nisa
sekolah lagi. Nisa kan pulang sekolah jam sebelas dan nanti jam dua siang tiap
hari sabtu sampai kamis Nisa ke TPQ. Gimana Nisa tertarik ?”
“Nisa mau.
Meskipun nanti Nisa jadi gak bisa bobok siang tapi Nisa mau. Nisa pengen bisa baca
Juz Amma warisan bapak ini. Nisa pikir, dengan Nisa bisa baca Juz Amma bapak
pasti seneng. Nisa juga jadi ngerasa bisa lebih deket sama bapak.”
“Nah sebagai
awalan, ayah bakal jelasin apa itu juz amma dan huruf hijaiyah serta dasar
membaca Al Qur’an.”
Ayah kemudian
menjelaskan apa itu Juz Amma serta mengajari Nisa dasar membaca Al Qur’an.
¤¤¤
Besok adalah
genap sepuluh tahun meninggalnya mendiang bapak Nisa. Keinginan untuk
menziarahi pusaranya tak dapat lagi dibendung. Meski jaraknya jauh karena berbeda
kabupaten, rasa rindunya terhadap saudara-saudara kandungnya tak mampu ditunda.
Besok merupakan momen yang pas sebagai ajang reuninan. Nisa sedang
mempersiapkan segala bekal yang hendak dibawa. Rencananya Nisa dan ayah akan
menginap beberapa hari. Kedatangan Nisa dan ayahnya disambut hangat oleh
keluarga paman. Selama kurang lebih satu jam mereka melepas rindu. Kemudian
Nisa mengutarakan niatnya untuk bersama-sama berziarah ke makam bapak. Mereka
semua menyambut dengan baik. Sore itu mereka berangkat bersama-sama. Lokasi
pemakaman lumayan jauh, karena berbeda desa. Kurang lebih setengah jam dengan
mobil.
Akhirnya mereka
tiba dilokasi. Proses nyekar yang dipimpin oleh Ayah berjalan dengan lancar.
Makam bapak terlihat cukup terawat. Nisa pikir bang Iib dan dek Imron cukup
rutin kesini dan merawat pusara bapak. Selesai nyekar, ayah mengajak
rombongan makan bakso. “Dalam suasana santai mereka mengobrol”.
Pergi ke makam
bapak mengingatkanku akan pesan beliau sebelum pergi. “Ucap Nisa sambil
menerawang melepas memori jauh kebelakang.”
“Ya, aku juga.
Aku ingat betul saat itu. Saat dimana masing-masing dari kita mendapatkan harta
warisan.”, sambung Imron.
“Ya harta
warisan yang sangat berharga. Meski bukan uang, bukan harta, bukan tanah tapi
lebih dari itu.”, Ibrahim mengeluarkan sebuah buku panduan Sholat dari tas
kecilnya disusul dengan bukua panduan tahlil dan juz Amma oleh Imron dan Nisa.
Ketiga benda itu terlihat begitu lusuh, mungkin karena terlalu sering dibuka.
Nisa membuka
lembar pertama juz Amma dengan pikiran menerawang ke masa laluu, “Ketika itu,
bapak kondisinya sangat kritis. Diatas depan tanpa alas bapak terbaring lemah
tak berdaya. Kita bertiga menungguinya disisinya ..”
¤¤¤
Seorang lelaki
tua terbaring lemah diatas depan panjang disudut ruangan. Tiga anak kecil
menjaganya disisi kanan depan. Tanpa selimut, hanya beralaskan sarung dan jarik
sebagai penahan dingin.
“Ibu, tolong
ambilkan bapak bungkusan plastik di lemari”. Ibrahim berjalan ke arah lemari
kecil yang hampir lapuk disamping depan kemudian meletakkan bungkusan tersebut
disisi bapaknya.
“Anak-anak maafkan bapak. Bapak tidak bisa memberikan kalian rumah yang
nyaman, pendidikan yang baik, mainan yang banyak, makanan yang enak dan
bergizi. Karena bapakmulah hidup kita sekeluarga menjadi serba kekurangan.
Maafkan bapak.”
Hening
menyergap kebisuan mengisi kekosongan.
Bapak membuka
bungkus plastik dengan sedikit susah payah. Mengambil buku panduan sholat lalu
meletakkan dihadapan Ibrahim. Mengambil Juz Amma lalu meletakkan dihadapan
Nisa. Mengambil buku panduan tahlil kemudian meletakkan dihadapan Imron. Kini
dihadapan Ibrahim, Imron dan juga Nisa tergeletak sebuah buku yang asing bagi
mereka. Mereka tak ada yang bisa membaca dan menulis, tak heran jika mereka
tidak mampu membaca judul dari buku-buku tersebut.
“Bapak hanya
bisa memberikan ini kepada kalian. Semoga ini bisa menjadi bekal dan pedoman
kalian dalam mengarungi kehidupan. Bapak harap pula, semoga apa yang bapak
wariskan ini dapat menolong kalian juga menolong bapak. Jadilah kalian
anak-anak yang baik, anak yang sholeh sholehah. Maafkan bapak, bapak hanya
mampu sampai segini membimbing kalian. Waktu bapak sudah habis, bapak lelah
bapak ingin istirahat.”
Tangan yang
lemah itu jatuh terkulai, matanya terpejam, sedikit senyum mengembang dari
bibirnya. Ketiga anak tersebut memegang tangan bapaknya sambil menjerit keras
memanggil bapak. Seolah dengan jeritan yang keras tersebut bapak akan terbangun
kembali. Tapi bapak tidak bangun juga. Bapak memang benar telah beristirahat,
beristirahat untuk selamanya.
¤¤¤
Gemeretak suara sendok beradu dengan mengisi
kekosongan hati mereka.
Emm,
ngomong-ngomong cerita seperti apa yang kalian lalui bersama buku warisan tersebut
? “Nisa melontarkan pertanyaan tersebut sambil memainkan es batu dalam gelas
minumnya”.
“Kalau aku,
kita tau sendiri ketika kita mendapatkan warisan itu dari ayah tak ada satupun
dari kita yang bisa membaca. Maka ketika aku mendapatkan warisan tersebut aku
sempat bingung ini buku apa ? apa gunanya ? kita juga tau, dari keluarga paman
juga tidak ada yang bisa baca tulis. Aku sudah pernah mencobanya menanyakannya.
Makanya aku berfikir, jika bapak sampai berkata begitu dulu. Ini artinya buku
ini amat penting. Dan jika aku terus di desa ini aku tidak akan memperoleh
kemajuan informasi tentang buku ini. Aku jadi memutuskan untuk merantau kekota
mengikuti salah seorang tetangga paman. Disamping aku bermaksud mencari uang
untuk meringankan beban keluarga paman tentunya. Selain bekerja, aku bertanya
pada orang-orang disekelilingku perihal buku warisan ini. Hingga aku akhirnya
dipertemukan dengan seorang ustad masjid setempat. Dari beliau aku dijelaskan
bahwa buku yang ayah berikan padaku adalah buku panduan sholat. Aku juga
dijelaskan bahwa sholat adalah rukun islam yang kedua. Dimana sholatlah amal
yang pertama kali dihisab yang akan menentukan kita masuk surga atau neraka.
Sholat hukumnya wajib. Jadi karena buku warisan bapaklah aku pertama kali
mengenal sholat. Dan memotovasiku untuk selalu menjaga sholatku tak lupa aku
juga mangajak Imron dan keluarga paman untuk belajar sholat. Ibrahim menerawang
kisah masa lalunya. Setiap detik yang ia lalui bersama warisan bapaknya.
“Sedangkan aku,
ketika mas Iib pulang kerumah dan mengabarkan bahwa ia sudah tau tentang buku
warisan yang ia miliki. Aku hanya tau dari mas Iib yang sudah bisa baca bahwa
pemberian bapak adalah buku panduan tahlil. Tanpa aku tahu tahlil itu apa. Aku
kemudian ikut mas Iib ke kota. Belajar dari ustad Malik, akhirnya aku pun tau
bahwa dalam tahlil kita bertawasul menjadikan kekasih Allah sebagai perantara
dalam doa. Dengan tahlil kita juga bisa mengirim doa bagi orang yang telah
meninggal. InsyaAllah akan sampai pada almarhum yang dituju. Bagaimana denganmu mbak ?”
“Aku sama
dengan kalian. Awal aku mendapatkan buku ini aku pun tak faham karena aku belum
bisa membaca. Kemudian aku diadopsi oleh ayah. Dan ayah kemudian
menyekolahkanku di SD. Namun dari pendidikan di SD aku hanya mampu membaca
tulisan latin di Juz Amma. Aku kemudian bertanya pada ayah, ternyata tulisan
yang tak mampu aku baca adalah tulisan arab. Oleh ayah aku kemudian diajarkan
dasar membaca tulisan arab dan dijelaskan pula apa itu juz Amma. Akhirnya untuk
memperdalam ilmu, aku memutuskan mengaji di Taman Pendidikan Alquran. Karena
juz Amma pemberian bapak aku jadi termotivasi untuk rajin membaca Al Qur’an,
membaca dengan tartil fasih, pandai qiroah dan bahkan aku bermimpi untuk
menjadi penghafal dan penjaga Al Qur’an, yaitu seorang hafidzoh. Aku ingin
memberikan jubah kemenangan di akhirat nanti untuk bapak dan ibu. Tidak hanya
bapak dan ibu, aku pun ingin memberikannya pada ayah dan bunda serta paman dan
bibik.”
Aku kagum pada
bapak kalian. Meski beliau tidak mampu memberikan kalian warisan harta, bukan
pula warisan ilmu, namun beliau mewariskan pesan-pesan motivasi. Sebuah harapan
melalui warisannya kepada kalian, beliau berharap bekal yang ia berikan telah
mampu menolong kalian dunia dan akhirat serts menolong dirinya sendiri. Dan aku
bangga pada kalian yang mampu dengan baik menangkap dan memahami pesan yang
beliau isyaratkan. Jadilah kalian orang yang hebat, sukses dan berprestasi
dunia dan akhirat. Buatlah bapak dan ibu kalian semakin bangga memiliki anak
seperti kalian. Oh ya, kalau kalian butuh bantuan apa-apa kalian bisa minta tolong
padaku. Anggaplah aku ayah kalian sendiri ...
“Siap paman”.
Jawab Ibrahim dan Imron kompak.
Suasana makan
kali itu terasa semakin hangat. Banyak cerita yang dibagi. Banyak mimpi yang
digantungkan. Banyak visi yang akan diwujudkan. Insya Allah....
Sabtu, 31
Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
Follow
Popular Posts
-
Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu Judul Buku : Rindu Karya : Tere Liye Penerbit : Re...
-
Hidup itu pilihan. Kita boleh memilih A juga boleh memlih B, tapi bagaimana jika aku memutuskan bahwa aku memilih A juga memilih B? Sulit ...
-
Kajian Interaktif Berpikir Logis dan Agamis Hukum Puasa Daud Kita mengenal banyak jenis puasa sunnah, ada puasa senin kami, puasa ...
-
Rufaidah, Teladan Juru Rawat Islam Buku ini mengisahkan tentang sosok wanita bernama Rufaidah. Seorang perawat muslim pertama di zamanny...
-
Teringat dulu ketika aku masih bersekolah di SMP N 5 Jepara, dimana disitu ada pelajaran ukir. Setiap pertemuan kami diminta untuk membuat ...
-
Sebenarnya buku ini sudah sering aku lihat rak perpustakaan daerah Jepara. Namun entah mengapa aku belum tersentuh untuk membacanya, b...
-
Memaknai Kartini di Era Globalisasi “Habis gelap terbitlah terang,” quotes itu begitu terkenal dan melekat erat dengan sosok Kartini....
-
Prularisme dalam Novel Dua Ordo Karya Hermes Dione adalah karya risensi pertama saya. Sebelumnya saya belum pernah merisensi buku. Iseng m...
-
Saya menyukai hujan, terlebih gerimis. Maka ketika saya mendapatkan informasi bahwa ada lomba cerpen bertema hujan. Saya tertarik untuk me...
-
اِنَّ صَلاَ تِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَا تَى الِلهِ رَبِّ العَا لَمِيْنَ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku han...
Categories
- Cerpen
- cinta
- hujan
- nasionalisme
- puisi