Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2014

Tahun Baru Islam Milik Semua


Wacana tanggal 1 Muharram menjadi Hari Santri Nasional mulai mencuat kepermukaan menjelang pemilihan presiden republik Indonesia tahun 2014. Saat itu calon presiden nomor urut dua, Bapak Joko Wododo (Jokowi) dalam kampanyenya menjanjikan bahwa tanggal satu Muharram akan ditetapkan menjadi hari Santri Nasional.

Menanggapi wacana ini, agaknya kita perlu mencermati sejak kapan isu ini ada, alasan, tujuan, dan dampak (manfaat-mudhorot)-nya.. Isu penetatapan hari santri nasional sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010. Namun isu ini kembali digagas oleh Gus Thoriq pengasuh PP. Babussalam Magelang ketika bertemu dengan Jokowi pada Jumat, 27 Juni 2014.  Alasannya tanggal 1 Muharram adalah momentum yang tepat untuk berkaca diri dalam mencari identititas sosial seseorang. Tahun baru pada kalender Islam itu, seyogjanya bisa menjadikan spirit dan membawa perubahan yang sangat besar dalam penyebaran Agama Islam. Bukan tahun baru Masehi sebenarnya yang perlu dirayakan besar-besaran. Namun, sebagai orang Islam, 1 Muharram adalah cerminan betapa hari-hari besar Islam saat ini masih banyak yang terlupakan begitu saja. Sedangkan kalangan yang tidak setuju seperti Guz Aiz (Pimpinan Pusat Pencak Silat Nadlatul Ulama) dan KH. Syukron Ma'mun beralasan penetapan hari santri pada tanggal 1 Muharram tidak berdasarkan pada sejarah pondok pesantren dan berpotensi menimbulkan pertikaian serta memecah belah umat Islam.
Tujuan yang dirumuskan Gus Toriq lebih mengedepankan refleksi santri sehingga tidak lupa pada jati dirinnya sebagi santri. Maka perlu dipikirkan kembali pemilihan penetapan hari santri nasional karena kurang tepat jika memilih tanggal 1 Muharram. Mengapa demikian? 1 Muharram adalah tahun baru Islam. Islam tidak saja milik kaum santri. Penetapan 1 Muharram sebagai hari santri nasional agaknya dapat menimbulkan perpecahan. Bagaimana dengan mereka yang beragama Islam tapi bukan santri? Apakah masih boleh merayakan tahun baru Islam di Indonesia. Karena dengan ketetapan seperti itu memunculkan sebuah persepsi bahwa Islam hanya milik kalangan santri. Padahal kan Islam Rahmatal Lilalamin. Jika memang sungguh perhatian pada kalangan santri dan berniat mengadakan penetapan hari santri nasional, lebih baik memilih waktu yang tidak berpotensi menimbulkan perpecahan umat dengan mempertimbangkan   sejarah berdirinya pondok pesantren di Indonesia.
Kita sebagai umat Islam, harus sadar betul bahwa kita hidup dalam lingkungan multikultural.  Jangan biarkan wacana ini memecah belah umat. Tetaplah hargai pendapat orang lain. Toh, seandainya pemerintah memang menaruh perhatian lebih besar kepada pondok pesantren ada hal yang lebih penting dari sekedar penetapan hari santri nasional yang lebih cenderung kepada formalitas dan seremonial belaka. Pondok  Pesantren merupakan lembaga pendidikan nonformal yang diakui dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Namun dalam beberapa hal terjadi dualisme kebijakan antara diknas dan depag. Hal ini perlu dibenahi. Output pesantren distandarisasikan dengan output pendidikan formal. Maka yang terjadi adalah pesantren menyesuaikan diri dengan menyamakan materinya dengan pendidikan formal atau lulusan pesantren harus mengikuti kejar paket. Dalam beberapa hal utamanya bagi pesantren salaf Kebijakan tersebut dapat mengurangi kekhasan dan jati diri pesantren  salaf itu sendiri. Ingat Pesantren adalah sistem nasional perguruan asli bangsa Indonesia (Ahmad Baso, disampaikan dalam diskusi di balai litbang kemenag Jakarta).


Read More

Rabu, 03 September 2014

AIR BOROBUDUR UNTUK INDONESIA MARITIM

AIR BOROBUDUR UNTUK INDONESIA MARITIM
Oleh Noor Salamah

Angin berhembus sepoi-sepoi. Dedaunan kering mahoni jatuh dengan gemulai bak peri yang mengepakkan sayapnya, menari, memutar dan jatuh dengan anggun. Suasana ini membuat Gina teringat akan sebuah novel berjudul Autumn in Paris karangan Ilana Tan yang pernah ia baca. Dimana tokoh utama dalam cerita tersebut sangat menyukai musim gugur.
Gina berjalan sendiri menyusuri kota. Bergerak tenang diantara orang yang berjalan tegang. Langkahnya terarahkan pada danau di pinggiran kota. Duduk diatas rumput yang menguning. Memandang hamparan danau yang luas disertai aktifitas disekitarnya. Orang memancing, capung berterbangan dan ikan-ikan kecil berloncatan.
Angin kembali berhembus sepoi-sepoi. Mengibarkan rambut coklat kemerahan alami potongan sasak sebahu Gina. Gina membuka tas dan mengeluarkan komik Detective Conan edisi terbaru yang baru ia beli. Sesekali alis mata Gina menegang tatkala kasus sedang dalam klimaksnya. Tak jarang pula senyum puas mengembang manakala kasus telah terpecahkan. Gina seolah masuk dalam dunia cerita Conan, terlibat dalam berbagai kasus dan memecahkannya. Sebuah daun kering jatuh tepat pada halaman komik yang ia baca. Daun kering berwarna coklat kemerahan serupa warna rambutnya. Gina menengadah, memandang pohon-pohon mahoni yang menjulang tinggi dengan sedikit daun yang menemaninya. Pandangan mata Gina kini beralih ke arah bawah. Begitu banyak sampah daun kering disana. Berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini sampahnya sangat banyak. Angin berhembus semakin kencang membawa hawa panas dan kegerahan. Tiga perempat daun yang tersisa di pohon segera gugur dengan cepat. Berserakan dimana-dimana.
Tiba-tiba Gina teringat bahwa Indonesia tidak memiliki musim gugur, yang ada hanya musim kemarau dan penghujan karena Indonesia berada dalam garis khatulistiwa dan musim dipengaruhi oleh angin muson. Ini adalah bulan Oktober, menurut perhitungan semestinya sudah masuk musim penghujan. Tapi nyatanya hujan belum juga turun. Kemarau panjang. Mungkin saat ini itulah yang sedang dialami Indonesia.
“Maaf menunggu lama.” Seorang pemuda duduk disebelah Gina.
“Tak apa, aku belum lama kok di sini.” Gina mengarahkan pandangannya kepada pemuda di hadapannya. Memandang sebentar, lalu fokus pada komik kembali.
“Kamu sudah nyari bahan untuk tugas akhir Pendidikan Lingkungan Hidup tentang air layak konsumsi di kota ini?”
“Baru sedikit. Baru mencari informasi dari internet. Lha kamu sendiri?”
“Sama. Menurutmu sendiri bagaimana kondisi air di danau ini?”
Gina meneliti danau dengan seksama.
“Setahuku dulu danau ini adalah danau yang memiliki air yang jernih dan bersih. Namun lambat laun kondisi air di danau semakin terlihat buruk. Semakin banyak sampah disekitarnya entah oleh pengunjung atau sampah kiriman dari warga sekitar. Dan juga semakin banyak ganggang hijau tumbuh. Danau ini selain menjadi aset pariwisata kota tapi juga menjadi sumber pengairan bagi sawah dan kebun di sekitarnya. Aku tak tau pasti apakah masih layak dikonsumsi atau tidak. Tapi airnya enggak kotor-kotor banget  kok meski sedikit ada warna hijaunya akibat ganggang.”
“Aku sependapat denganmu. Dan untuk mengetahui apakah masih layak konsumsi atau tidak kita harus melakukan uji Lab. terlebih dahulu. Berbicara tentang tugas kita lagi, aku sempat bertanya-tanya pada warga yang rumahnya sekitar 2 km dari sini. Di mengungkapkan bahwa sumur yang ia miliki sulit mengeluarkan air. Sehingga ia harus membeli air dari PDAM. Pria itu berprofesi sebagai nelayan di pantai dekat rumahnya yang hanya berjarak 500m. Tidakkah kau berpikir bahwa hal ini menandakan warga sekitar mengalami cukup kesulitan dalam pasokan air bersih yang layak konsumsi? kalau aku sempat terpikirkan seperti itu lalu bagaimana bisa negara kita kekurangan air bersih yang layak konsumsi padahal Indonesia adalah negara maritim yang memiliki banyak lautan. Mengapa masih kekurangan air ya? aku jadi ingin tertawa sendiri. Hahaha ..”
Pembicaraan mereka berhenti. Gina mencoba merenungkan kembali pendapat Rumi. Tak lama teman-teman yang lain sudah mulai berdatangan untuk mengerjakan tugas Pendidikan Lingkungan Hidup.
¤¤¤
Musim kemarau di sebagian wilayah Jambi kini mulai berdampak luas
Ya sebagian warga terutama di wilayah pedesaan terpaksa menggunakan air kotor.
Sepasang presenter tersebut mengawali berita yang akan ditayangkan. Terlihat dalam layar televisi segerombolan warga berkumpul disekitar kolam air yang airnya terlihat keruh dan berwarna kecoklatan. Banyak warga yang membawa serta drijen penampung air.
Air kotor yang menggenang dirawa ini setiap hari didatangi warga Selamun Jambi. Kolam air ini menjadi satu-satunya harapan mereka untuk memenuhi kebutuhan air seperti untuk keperluan mandi, mencuci bahkan minum. Warga terpaksa menggunakan air kotor tersebut karena sumur mereka sudah tidak lagi mengeluarkan air selama beberapa minggu terakhir.   
Seorang reporter menanyakan pada salah seorang warga. Seorang ibu rumah tangga yang turut menjadikan air kolam menjadi sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Tadi mandinya dimana?”
“Ya disinilah.”
“Kalau minum ?”
“Disini juga, waktu malam kan airnya bening jadi buat persediaan minum nah kalau siang buat mandi dan cuci.”
Untuk sampai ke kolam air tersebut warga harus berjalan sejauh 5 km. Warga berharap kekeringan segera berakhir.

Gina mendengarkan berita yang disiarkan di televisi dengan heran. Gina  teringat sebuah berita yang pernah ia baca beberapa waktu yang lalu.

VIVAnews - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan adanya perubahan pola curah hujan di Indonesia. Salah satu dampaknya, curah hujan di Pulau Jawa semakin berkurang.

"Hal ini diperparah dengan penduduk yang terus bertambah di Pulau Jawa juga Nusa Tenggara dan Bali," kata Sutopo dihubungi VIVAnews, baru-baru ini.

Pertumbuhan jumlah penduduk ini sangat berpengaruh pada ketersediaan air tanah. "Semakin banyak orang kan semakin banyak pakai air. Untuk sawah, kebutuhan sehari-hari Jadinya, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara makin kekeringan," jelasnya.
Pertumbuhan industri di pulau Jawa pun menyumbang faktor kekeringan di pulau berpenghuni terpadat di Indonesia ini.

Fenomena kekeringan di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara ini, menurut Sutopo, sebenarnya sudah terlihat sejak 1995. "Setiap kali kemarau, sebagian di wilayah tersebut sudah defisit air."

Lebih lanjut dia menjelaskan, perubahan pola hujan di mana curah hujan di daerah di selatan equator semakin jarang, Sebaliknya, di utara ekuator semakin meningkat.
Berita lain yang pernah ia baca adalah.
MADIUN, KOMPAS — Sepuluh tahun lagi, Pulau Jawa terancam kekurangan pasokan air bersih. Akibatnya, impor air tidak bisa terelakkan lagi. Ancaman tersebut bakal terwujud jika tidak ada solusi konkret dan kuat untuk mencegahnya.
Direktur Bina Kehutanan dan Sosial Kementerian Kehutanan Hariyadi Himawan, Selasa (27/8), dalam seminar tentang penyelamatan hutan Pulau Jawa, menyatakan, ancaman defisit air di Jawa bukan isapan jempol. Alasannya, sebagian besar hutan yang berfungsi sebagai sumber air di daerah aliran sungai (DAS) dalam kondisi kritis dan agak kritis ... ”Luas hutan yang kritis dan agak kritis mencapai 1,6 juta hektar atau lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luas total kawasan hutan yang luasnya 3,04 juta hektar. Kritis yang dimaksud terkait fungsi lahan sebagai pemasok air,” ujarnya. Hutan kritis itu tersebar di semua bagian hulu DAS, seperti Bengawan Solo, Serayu, dan Citarum. Di kawasan hulu DAS Bengawan Solo, misalnya, terdapat 247.000 hektar hutan kritis dari total hutan 400.000 hektar ... Hariyadi mencontohkan, fenomena kekeringan di sejumlah daerah menjadi salah satu indikator lahan kritis dan sumber mata air tertutup.
Wakil Dekan Fakultas Kehutanan UGM Lis Rahayu menambahkan, ancaman defisit air bisa menjadi kenyataan. Alasannya, ribuan juta tahun silam Pulau Jawa merupakan daerah padang pasir. ”Oleh karena itu, jika kita tidak bijaksana mengelola sumber air, kemungkinan kita akan kembali dalam kondisi zaman seperti itu,” katanya.
Penyebab kerusakan hutan, lanjut Lis, tidak lain adalah bencana dan ulah manusia. ”Faktor penyebab ulah manusia ada dua, yakni perbuatan yang tidak bertanggung jawab atau kebijakan yang kurang tepat,” ujarnya... (NIK/KOR/HEN).

Gina masih belum memahami, bagaimana semua ini dapat terjadi? di negeri yang permai dan kaya ini? Indonesia adalah negeri yang kaya. Memiliki kekayaan alam yang melimpah. Gina terus berpikir, mencoba mendalami masalah ini. Tanpa terasa  Gina telah berjalan cukup jauh dari rumah.
Gina adalah anak gadis satu-satunya disebuah keluarga cukup berada. Ayahnya seorang pegawai kantor DPD. Hidup dalam lingkungan keluarga yang serba cukup. Tinggal dalam hunian elit. Gina tidak pernah merasa ada yang kurang dari hidupnya.
Motor yang dikendarai Gina melaju membelah kota. Ia sudah membuat janji dengan Rumi dan kawan-kawannya. Hari ini sampel air dari danau kota akan di uji. Sudah pukul 07.57 WIB, Gina mempercepat laju motornya.  Sampai di depan Laboratorium Biologi Universitas Negeri Semarang, ternyata Rumi dan kawan-kawan sudah menunggu. Tepatnya menunggu dua orang, Gina dan seorang penjaga laboratorium yang akan memandu mereka. Gina dan penjaga laboratorium datang hampir di waktu yang bersamaan. Memasuki laboratorium serangkaian persiapan dan tahap uji coba dilaksanakan. Ternyata hasilnya cukup mencengangkan.  Air tersebut memiliki pH 9,2 padahal pH yang diperbolehkan berdasarkan Permenkes 492 tahun 2010 tentang kualitas air minum adalah pH 6,5-8,5. Temuan lainnya adalah bahwa dalam air tersebut terkandung Arsen sejumlah 0,17 mg/1 sedang yang diperbolehkan adalah 0,01 mg/1, fluorida 2,25 mg/1 sedangkan jumlah maksimal yang diperbolehkan adalah 1,5 mg/1, dan timbal sejumlah 1,33 mg/1 padahal jumlah maksimal yang diperbolehkan adalah 0,01 mg/1. Selain menjelaskan kandungan dari sampel air yang uji penjaga Lab. tersebut juga menjelaskan dampak dari zat-zat tersebut. Dari hasil temuan tersebut mengindikasikan bahwa sampel air yang diuji tidak layak untuk dikonsumsi.
“Wah bahaya ya ternyata, kita jadi harus waspada terhadap apa yang kita minum. Enggak boleh asal minum aja.” Rumi berkata semangat.
Gina teremenung. Ia memikirkan kejadian kemarin hingga hari ini. Ucapannya kemarin “Danau ini selain menjadi aset pariwisata kota tapi juga menjadi sumber pengairan bagi sawah dan kebun di sekitarnya. Juga kata-kata Rumi, Tidakkah kau berpikir bahwa hal ini menandakan warga sekitar mengalami cukup kesulitan dalam pasokan air bersih yang layak konsumsi? kalau aku sempat terpikirkan seperti itu lalu bagaimana bisa negara kita kekurangan air bersih yang layak konsumsi padahal Indonesia adalah negara maritim yang memiliki banyak lautan? tayangan di televisi dan berita yang kemarin Gina baca tak urung mengusik pikirannya.
“Bagaimana ya caranya agar Indonesia yang kaya akan air laut sebagai negara maritim dapat terbebas dari bencana kekeringan? Adakah cara untuk menjadikan air laut sebagai air layak konsumsi? ... Tentu saja pasti ada. Dan tugas kita menemukannya.”gumam Gina. Tak sepenuhnya sadar ia mengatakan kata-kata heroik penuh semangat nasionalisme semacam itu.
“Ahh, kau benar Gina. Pasti ada cara mewujudkannya. Dan itu adalah tugas kita. Ayo Gina kita berjuang. Kalian pada mau ikut gak?” Rumi menepuk pundak Gina penuh rasa syukur, melemparkan tangan ke udara meminta dukungan dan menggeret tangan Gina turut serta.
Gina yang baru sadar. Bingung Rumi mengajaknya berjuang apa? Memperjuangkan apa?. Tapi Gina urung bertanya lebih jauh. Gina asal ikut-ikutan saja. Kawan-kawan yang lain juga ikut dengan bersemangat. Mendukung terwujudnya misi tersebut.
Semangat mereka menggebu. Hingga menit berikutnya salah seorang teman bertanya.
“Lalu bagaimana cara kita melakukannya?” mereka semua terdiam. Memikirkan. Tak menemukan jawaban. Frustasi.
Rumi menanggapi dengan bijak.
“Okkelah. Sekarang kita belum menemukan jawabannya karena saat ini kita kekurangan data. Lebih baik kita pulang. Mengumpulkan bahan data. Besok sore kita ketemu lagi.”
¤¤¤
Hari-hari yang Gina lalui adalah untuk mengumpulkan informasi. Browsing di situs Google. Hunting buku di perpustakaan dan toko-toko buku. Visi mereka adalah menciptakan teknologi tepat guna sederhana dan praktis sebagai solusi tepat pemecahan masalah kekurangan sumber air bersih layak konsumsi di tengah Indonesia maritim. Selama sebulan penuh mereka habiskan untuk berdiskusi. Merancang alat yang sesuai dengan harapan. Minggu berikutnya yang mereka lakukan adalah uji alat. Dengan memanfaatkan teknologi Water Pyramid[1], sebuah teknologi sederhana yang dapat mengubah air laut menjadi air tawar menggunakan prinsip destilasi. Lebih jelas dapat dilihat dalam gambar berikut.
 
 






Alat dan bahan yang digunkaan cukup sederhana. Hanya memerlukan, kaca bening, bak, dan pipa. Caranya, bentangkan kaca di atas air laut hingga berbentuk kerucut. Pasangkan bak pada kaca. Maka air laut akan menguap, mengembun di kaca, kemudian akan menetes di bak tadi. Sehingga air ini sudah tidak asin lagi dan siap untuk dikonsumsi.
Berkali-kali melakukan uji eksperimen. Masih dirasa belum sempurna. Hingga akhirnya Gina dan kawan-kawan merasa inilah yang terbaik yang mampu mereka lakukan. Inovasi teknologi yang mereka ciptakan diberi nama, “Air Borobudur untuk Indonesia Maritim.”
            “Alhamdulillah, Air Borobudur sudah jadi. Huh, capeknya.” Rumi bersandar pada sebatang pohon kresem. “Segarnya, enggak kalah sama air kemasan merek ternama.”
“Iya seger banget. Oh ya Rum, kupikir akan lebih meyakinkan kalau air ini kita uji Lab.” Usul Gina.
“Usul bagus itu Gin.”
“Hey, kalau hanya ada satu dan tak dikenal. Bagaimana ini dapat membantu masyarakat?”. Angga salah seorang tim bertanya. “Kita harus mencari cara agar alat ini dapat dikenal lalu dimanfaatkan bagi yang membutuhkan.”
“Bagaimana kalau kita browsing di Internet. Mungkin ada peluang bagi kita.” Gina membuka laptop menyambungkan dengan modem mengkoneksikan dengan internet. Gina mulai menelusuri dunia yang luas tersebut. Cukup lama Gina mencari. “Ahh, sepertinya ini bagus. Bagaimana kalau kita ikut ini?”. Rumi dan teman-teman lainnya mulai mendekati Gina. Membaca apa yang ada di layar.
Dalam situs milik AusAID Indonesian Social Innovator Award, Yayasan Kopernik bekerja sama dengan Australian Agency for International Development (AusAID)[2] dan Hubud[3] sedang mengadakan AusAID Indonesian Social Innovator Award, sebuah kompetisi bagi individu/kelompok yang berjiwa sosial yang tertarik untuk mengaplikasikan inovasi tersebut terhadap berbagai masalah di Indonesia terkait dengan kebutuhan dasar manusia, yang tercakup dalam bidang pertanian, pendidikan, energi dan lingkungan, kesehatan, teknologi informasi, serta air dan sanitasi. Mereka sedang melakukan pencarian ke seluruh negeri untuk menemukan ide yang berpotensial untuk memberikan dampak di Indonesia. Pemenang kompetisi akan mendapatkan kesempatan untuk dapat mengubah visinya menjadi kenyataan.
Mulailah Gina dan kawan-kawan sibuk. Mempersipakan berbagai hal yang disayaratkan  AusAID Indonesian Social Innovator. Apalagi waktu pendaftaran tinggal tiga hari lagi.
¤¤¤
Serangkaian acara AusAID Indonesian Social Innovator Award telah dilalui. Dari proses pendaftaran, pengiriman karya tulis, wawancara semi finalis, dan mempresentasikan ide. Semua merupakan proses panjang yang melelahkan namun sekaligus penuh harapan. Tibalah saat ini, detik-detik menjelang pengumuman pemenang. Setelah beberapa jam yang lalu mereka, Gina dan kawan-kawan mempresentasikan hasil karya mereka di depan tim juri AISIA. Dengan kemampuan semaksimal mungkin. Berharap mimpi mereka terwujud. Doapun selalu mereka panjatkan. Bagi mereka yang terpenting adalah kemanfaatan bagi masyarakat indonesia. 
“Dan Penghargaan AusAID Indonesian Social Innovator jatuh pada ...  Air Borobudur untuk Indonesia Maritim.”
Suasana membuncah, atmosfer kegembiraan menyeruak ke segala penjuru. Tangis haru tak dapat dibendung. Mereka langsung sujud syukur mensyukuri nikmat yang dikaruniakan kepada mereka. Mimpi mereka untuk Indonesia yang lebih baik akan terwujud. Benar-benar akan terwujud.
Penghargaan AusAID Indonesian Social Innovator merupakan ide terbaik dan memiliki potensi terbesar untuk menciptakan transformasi sosial di Indonesia. Hadiah utama termasuk Rp 30.000.000, ruang kerja untuk satu tahun dan mentoring agar pemenang dapat segera menciptakan perubahan.
Ide Air Borobudur untuk Indonesia Maritim dinilai juri adalah ide yang terbaik diantara ide yang hebat. Persaingan berjalan ketat. Penyaringan finalis tak sembarangan. Penilaian juri tak asal-asalan. Tapi Gina dan kawan-kawan dapat melakukannya. Mimpi mereka terwujud. Usaha mereka tak sia-sia. Mereka telah menuai apa yang mereka taburkan. Harapan Gina dan kawan-kawan semoga Indonesia terbebas dari kekeringan dengan pemanfatan air laut yang begitu melimpah di bumi pertiwi ini.
Semarang, 02 Oktober 2013




[1] Sebuah teknologi pengubah air laut menjadi air tawar yang dikembnagkan oleh Mangku Mirah di desa Ceningan Nusa Tenggara Timur. Dalam terbitan surat kabar Nusa Penida Post.
[2] The Australian Agency for International Development (AusAID) adalah agensi Pemerintah Australia yang bertanggung jawab untuk mengatur program bantuan Australia di luar negeri. AusAID adalah Agensi Eksekutif dalam Urusan Hubungan International dan Perdagangan di bawah Kementerian Luar Negeri.

[3] Hubud (Hub-in-Ubud) adalah sebuah community co-working space di Ubud, Bali. Misi dari Hubud adalah untuk memaksimalkan lingkungan yang unik dari Ubud dan Bali untuk memicu ide-ide inovatif yang berdampak lokal maupun global.
Read More

Sabtu, 29 Maret 2014

Surat untuk Calon Presiden-Pendidikan Nonformal yang Terabaikan

Semakin dalam aku masuk, semakin aku akan paham kondisi mereka. Semakin kencang aku akan mendengar deru suara hati mereka. Aku ingin menenggelamkan diri diantara mereka dan merangsek maju. Tetaplah semangat wahai pegiat pendidikan non formal. Tetaplah semangat wahai teman-temannku PLS calon pegiat Pendidikan Non Formal.
Tulisan ini aku persembahkan untuk kalian semua. Insyaallah akan dimuat dalam salah satu buku yang diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, merupakan juara tiga dalam even menulis "Surat untuk Calon Presiden" oleh Pena Meta Kata.
Teruntuk calon presiden Republik Indonesia yang saya hormati..
Pendidikan adalah aspek terpenting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Saya percaya Anda setuju, begitu juga dengan saya. Saya percaya Anda juga tau bahwa Indonesia mengenal tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Saya percaya Anda tau maksud dan penjabaran dari ketiga jalur pendidikan tersebut. Dan disini saya hanya ingin mengabarkan kepada Anda tentang perasaan saya. Perasaan saya sebagai seseorang yang menggeluti pendidikan nonformal. Seseorang yang merasa bahwa jalur pendidikan yang digelutinya diabaikan dan dianak tirikan oleh jalur pendidikan formal.
Ketika orang mendengar kata pendidikan, yang terlintas di benaknya adalah sebuah jenjang pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi. Banyak yang mengabaikan sebuah jalur pendidikan yang berpusat pada masyarakat, ya pendidikan nonformal. Sebuah pendidikan yang sudah berjasa besar pada bangsa Indonesia jauh sebelum kita mengenal pendidikan formal. Melalui jalur pendidikan nonformalah buta aksara dapat terentaskan, melalui jalur pendidikan nonformalah peserta didik yang tidak memiliki cukup biaya untuk bersekolah di jalur pendidikan formal yang mengeluarkan biaya besar dengan sebentuk peraturan pendidikan di dalamnya tetap dapat memperoleh pendidikan yang terlayani dalam jalur pendidikan nonformal. Tapi mengapa dibalik jasa-jasanya, jalur pendidikan nonformal tetap saja terabaikan? Peraturan hukum yang tidak berpihak pada PNF. Fasilitas yang tidak merata dan tidak mencukupi bagi para pegiat PNF, anggaran dana pendidikan terutama dari APBD yang seringkali tidak tersedia bagi program PNF, badan induk PNF yang berubah nama hanya demi menuruti tren, dan lain-lain. Saya berharap, Anda dapat lebih memerhatikan PNF untuk Indonesia yang lebih maju.
Biodata penulis
Nama Noor Salamah, lahir di Jepara sekarang sedang menempuh S1 Pendidikan Luar Sekolah di Universitas Negeri Semarang. Dapat dihubungi melalui facebook : salma van licht atau e-mail di salamah_chan@yahoo.com
Read More

Senin, 25 November 2013

PERANG TAMADUN

Puisi ini merupakan salah satu diantara dua karya yang terpilih dalam event Pameran Sejuta Buku yang bertema Buku Sebagai Amunisi Peradaban, diadakan pada tanggal 06-12 November 2013 bertempat di gedung wanita semarang. Meski dibuat secara singkat, sangat singkat malah hanya berkisar kurang dari dua jam. Jadilah puisi seperti ini. Alhamdulillah, atas apresiasi dari dewan juri dan panitia, saya memperoleh tiga buku gratis. Ketiga buku tersebut adalh, Home (Novel), Pulpen (kumpulan cerpen anak SD istimewa) dan Emile Durkheim. Semoga barokah. Aamiin ..

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

Categories

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com