Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2018

Kami Tidak Takut

Hai kalian calon-calon pengantin
Yang tukar nyawa mengharap surga
Renggut korban sebanyak mungkin
Sasar aparat yang kau anggap jadi penghambat
Benarkah surga itu untukmu?
Sementara jutaan orang merugi karenamu
Terluka, menangis, dan mengutuk dirimu
Tuhan apa yang kau sembah?
Agama apa yang kau imani?
Kitab apa yang kau pelajari?
Karena sungguh Allah, Rosul Muhammad dan Al Quran tak pernah sekalipun mengajarkan umatnya menjadi teroris
Jihad yang suci telah engkau kotori dengan kebencian dan kekerasan hatimu yang tertipu bujuk rayu iblis
Hai kalian sadarlah
Bahwa surga terlalu suci untukmu sebelum engkau bertaubat
Hai kalian, ketahuilah
Bahwa kami tidak akan takut pada kalian
Bangsa ini terlalu besar untuk kau hancurkan
Persatuan ini terlalu kuat untuk kau cerai-beraikan
Dan Islam yang murni terlalu suci untuk kau nodai
Kami tidak takut
Kami tidak gentar
Kami berani melawanmu
Read More

Kamis, 30 April 2015

Negeri Saba itu adalah Indonesia

Negeri Saba itu adalah Indonesia

Oleh Noor Salamah

Judul Buku      : Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman
Penulis               : K.H. Fahmi Basya
Penerbit            : Zaytuna, Jakarta
Cetakan             : ke-V, September 2013
Tebal                    : VII + 251 Halaman
ISBN                     : 978-620-1835-13-5

Kata Saba’ di dalam Alquran disebut sebanyak tiga kali, dua di antaranya terdapat dalam surah An-Naml ayat 22 dan surah Saba’ ayat 15. Berbicara tentang Negeri Saba’ tentu takkan terlepas dari kisah Nabi Sulaiman as bersama Ratu Bilqis, semut, dan burung Hud-hud. K.H. Fahmi Basya menjelaskan bahwa sesungguhnya kisah Nabi Sulaiman as itu terjadi di Negeri Saba’. Lantas di manakah negeri itu berada? Dalam bukunya yang berjudul Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman, K.H. Fahmi menjelaskan bahwa Negeri Saba’ itu tak lain adalah Indonesia.
Melalui ilmu Matematika Islam, penulis berusaha menjelaskan mengapa Indonesia disebut sebagai Negeri Saba’. Sebuah negeri yang digambarkan dalam Alquran sebagai negeri yang Baldatun Toyyibatun. Ada 40 bukti eksak yang menandakan bahwa  Indonesia adalah Negeri Saba’.  Ke-40 bukti itu di antaranya adalah ditemukannya sebuah plat emas dalam kolam di Istana Ratu Boko bertuliskan nama Tuhan yang Maha Tinggi.
Sesuai firman Allah Surah An-Naml ayat 30.  Banyak orang menyangka bahwa patung-patung di Borobudur dibuat dengan cara dipahat. Anggapan ini dibantah oleh penulis. Menurutnya patung-patung itu dibuat dengan cara dibentuk seperti halnya membentuk mentega. Ini terbukti dengan adanya beberapa relief rambut diplintir, patung dengan jenggot terulur, mayang terurai serta batu gangsing. Dan yang menarik ada sebuah relief yang menggambar seorang wanita sedang menyingsingkan kain, karena ia mengira ia berjalan di atas air.
Cerita ini serupa dengan apa yang Allah firmankan dalam Surah An-Naml ayat 44.  Di dekat daerah Candi Borobudur terdapat sebuah daerah bernama Wonosobo yang dalam bahasa Jawa Kawi artinya Hutan Saba. Bukti lain, adalah Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau jika diamati bentuk Indonesia seperti tulang yang berserakan. Hal terjadi karena Negeri Saba pernah mengalami sebuah banjir bandang sehingga menenggelamkan sebagian wilayahnya (Surah Saba ayat 16). Ayat ini juga menjelaskan bahwa setelah banjir tumbuhlah sebuah buah yang pahit rasanya, yang sekarang kita kenal dengan nama Majapahit. Nah, coba renungkan. Bukankah hanya Nabi Sulaiman yang sangat erat hubungannya dengan nama-nama Jawa? Seperti Supardi, Suparlan, Suparman, Suhendra, Sutrisno, Sukarno, Suharto? Nama itu diawali dengan kata Su.
                Dalam bukunya, penulis menyusun hipotesis itu berdasarkan pengolahan ilmu Matematika Islam dan firman-firman Allah dalam Alquran. Sangat sulit bagi orang awam untuk memahami Matematika Islam, ilmu ini mungkin tergolong baru. Dengan berbagai perhitungan yang melibatkan ayat dan surat dalam Alquran, penulis mengotak-atiknya menjadi sebuah rumusan sistem Balok Alquran.
Penulis mengutip ayat-ayat sebagai dasar dari hipotesisnya. Ini baik, karena Alquran adalah penjelas tiap sesuatu dan bahkan mengoreksi yang ada di hadapannya. Ini bukan ilmu yang mudah, mengambil ayat dalam Alquran haruslah berhati0hati. Karena seringkali menimbulkan multitafsir. Perlu ilmu yang dalam terutama dalam bidang Tafsir Alquran yang tidak boleh menggunakan pendapat sendiri (biro’yi)Hanya Allah yang tahu kebenaran atas semua ini. Namun, kita sebagai bangsa Indonesia wajib bersyukur karena dikaruniai negeri yang gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibun wa Robbun ghofuur.



Read More

Rabu, 26 November 2014

Catatn dari Darul Aitam

Darul Aitam (17/11), masih serangkain acara Majlis Rosulullah. Acara berlangsung dari pagi hingga siang. Acara ini diisi oleh Hubabah Nur, dan juga alumni Ponpes tarim.
-          Terdapat dua kewajiban yaitu kewajiban mualamah kepada Allah, dan juga muamalah kepada makhluk
-          Siapa yang jalannya menuju ilmu, maka akan dipermudah jalannya menuju surga
-          Ketika melihat ulama, pandanglah dengan baik, perbanyak niat yang baik
-          Ilmu dan amal adalah cara dekat dengan waliyullah
-          Jadikan ilmu seperti garam dan adabmu seperti tepung.
-          Niat itu tempatnya di hati. Melafalkan hukumnya sunnah. Dan niat itu mendahului amal.
-          Maksiat membuat ilmu menajdi susah masuk ke dalam hati
-          Bersyukur adalah cara untuk menjaga nikmat dari Allah
-          Dagangan akhirat adalah amal. Modal utamanya adalah waktu. dan hartanya adalah masa muda. Maka manfaatkanlah dengan baik.
-          Diantara tujuh golongan yang dilindungi kelak di akhirat adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah
-          Dizikir adalah ibadah yang paling tinggi disisi Allah
-          Amal lebih utama daripada puasa sunnah, sholat sunnah, syuhada, sedekah, berdizikir
-          Ramaikanlah waktumu dengan berdizikir
-          Iman seperti bisa yang bisa berkarat, oleh karenanya harus diperbaharui dengan cara memperbanyak berdizikir
Dari Hubabah Khodijah, beliau merupakan besan dari Hubabah Nur, berasalah dari Abu Dhabi yang tak lain adalah muris dari Habib Ali.
-          Pergi ke majlis dengan niat ingin mengambil manfaat lantas mengamalkannya dapat membaut derajat menjadi naik
-          Salah satu perkumpulan/majlis yang penuh barokah adalah, perkumpulan di padang arafah, sholat jama’ah dan majlis ilmu
Ummu Muhammad, berasalah dari New Zeeland,
-          Kelak ketika tiba masanya, kuburan kita akan terbagi. Berkumpulnya waktu kita ketika maksiat, kosong, dan ketika taat. Ketika kita diperlihatkan saat dimana kita senantiasa taat, kita akan bahagia dan penuh dengan cahaya. Ketika diperlihatka, waktu kosong kita didunia, kita akan merasa penuh sesal dan sekeliling kita menjadi gelap. Sedangkan ketika diperlihatkan kepada kita saat dimana kita maksiat, kita akan menangis, dan sekeliling kita menjadi penuh api neraka.
-          Dikisahkan oleh beliau, bahwa Nabi Muhammad ketika duduk di majlis bisa taubat sampai 70x, karena sesunguhnya penyakit maksiat hanya bisa obati dengan banyak beristigfar.
n-anganBetapa ruginya manusia jika waktunya digunakan untuk berangan-angan serta menunda untuk taat.
Kebahagiaan terletak pada keterikatan kita dengan sang pencipta, Allah
 -          Ada tiga sayarat, wanita bolehmembuka mukakanya
1.       Janganlah berbdandan,, termasuk tanpa pacar, tanpa celak, tanpa cincin dsbg
2.       Bukan wanita yang cantik
3.       Yakin tidak dilihat oleh laki-laki
Hak suami atas istri hanya dua, yiatu
1.       Ketika suami minta jima’
2.       Tidak keluar dari rumah tanpa seijin suami
   
Read More

Wasiat Nabi saat haji wada’

Wasiat Nabi saat haji wada’
1.       Pegang sunnah Nabi dan Sahabat
2.       Berhati-hatilah pada ajaran/agama baru, sesungguhnya yang baru dan sesat itu membawa pada neraka. Adapaun cara untuk tahu benar tidaknya ajaran, maka carilah ulama yang sohih sanadnya
3.       Dengarkanlah seruannku, serta amalkan. Sesungguhnya semua manusia memiliki naluri untuk mengenal Allah. 
Read More

Catatan Dari Al Fakhriyah

Dalam serangkaianan acara Majlis Rosullah, rombongan kami mengikuti majlis di Ponpes Al Fakhriyah. Al Fakhriyah merupakan pondok pesantren asuhan Habib Novel Bin Salim Bin Jindan. Terletak di kota tengerang.
Ceramah di isi oleh Habib Umar Bin Hafidz, beberapa point dari ceramah beliau adalah
Jika kita memiliki masalah, membutuhkan pertimbangan dan ingin bermusyawarah. Maka temuilah orang yang senantiasa berdizikir.
Saat ini sebagian orang menghujat nabi, mengabaikan sunnahnya, mengabaikan seruannya. Padahal kelak ketika di akhirat nanti, semua orang memanggil Rosulullah untuk meminta syafaat.


Read More

Rabu, 19 November 2014

Catatan dari Cidodol #1

Tulisan ini adalah beberapa ilmu yang saya tangkap dari apa yang disampaikan oleh Habib Umar Bin Hafidz dalam acara Khaul Syech Abu Bakar Bin Salim Bin Abdullah atau yang lebih dikenal dengan nama Syeckbu pada hari 16 November 2014 di Cidodol Jakarta.

-          Orang yang arif adalah orang yang mengenal dirinya sendiri. Sedangkan orang yang jahil adalah orang yang tidak mengenal dirinya sendiri.
-          Dinyatakan perang dengan kepada Allah dan Rosul apabila;
1.       Melakukan praktek riba
2.       Memusi para wali
-          Dan sesungguhnya dosa terkecil dari riba sama dengan melakukan zina dengan ibu sendiri
-          Bidah yang paling besar adalah ketika mengatakan sesuatu yang kasar kepada waliyullah dan ketika menyampaikan sesuatu tanpa ilmu
-          Salat witir yang sempurna yaitu = 11 rekaat
-          Salat Dzuha yang sempurna adalah = 8 rekaat
-          Dengan salat dzuha 2 rekaat maka dapat menebus sedekah tubuh yang penuh dosa ini
-          Sesuap sedekah dapat menolak balak. Adapun balak tidak bisa mendahului sedekah.
-            
Read More

Niat Dalam Ta’lim/muta’allilm

Inna a’malu binniatSegala sesuatu berawal dari niat. Memang apa yang kita dapatkan sepadan dengan niat kita. Maka dari itu niat menjadi kunci pertama gerbang pembuka kita dalam beramal.
Tulisan ini merupakan beberapa ilmu yang saya dapat ketika pergi ke acara Pesantren Kilat bertempat di Gedung Darul Aitam Jalan Mas Mansyur Jakarta yang merupakan serangkaian acara Majlis Rosulullah.
Betapa pentingnya perihal niat tersebut, maka dalam ta’lim yang di isi oleh ustadzah Khalimah salah seorang alumnis Tarim Yaman menjelaskan bahwa ketika ta’lim/muta’allilm (belajar/mengajar) hendaklah kita niatkan untuk ;
1.       Mengambil/memberikan kemanfaatan
2.       Mengambil/memberikan peringatan
3.       Saling menganjurkan pada kebaikan
4.       Menunjukkan dalam kebenaran
5.       Mengharap ridlo Allah
6.       Mencari pahala disisi Allah
7.       Mencari kematian yang khusnul khotimah
8.       Mendekatkan diri kepada Allah
Begitulah yang saya tangkap dari dari pembahasan niat tersebut, semoga bermanfaat.
Read More

Kamis, 23 Oktober 2014

Wow Ternyata Saat Kia Tawaf Kita Sedang Memutari Pusat Bumi


Tawaf (طواف / thawaf) adalah suatu ritual mengelilingi Ka'bah (bangunan suci di Mekkah) sebanyak tujuh kali sebagai bagian pelaksanaan ibadah haji atau umrah. Tawaf merupakan rukun dan wajibnya haji.
Ternyata ada fakta unik di balik bangunan kubus ini
Saat jamaah haji/umrah sedang tawaf mereka tidak semata-mata mengelilingi kakbah namun juga mengeliligi pusat bumi.
Secara etimologis, Istilah Ka’bah (bahasa Al Quran) dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6 dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dengan “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi. 
Kita tentu tidak asing dengan seorang Astronot Amerika yang begitu terkenal karena ialah yang pertama kali mendaratkan kakinya di Bulan. Ya, Neil Amstrong. Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat. 
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang. 
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi

Sudah sejak 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka’bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.
Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di “balik” Ka’bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka’bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB).
Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.

Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain. 
Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat menjadikan kita selalu ingat akan kebenaran dan kekuasaan Allah Swt J
Sumber :

Read More

Tahun Baru Islam Milik Semua


Wacana tanggal 1 Muharram menjadi Hari Santri Nasional mulai mencuat kepermukaan menjelang pemilihan presiden republik Indonesia tahun 2014. Saat itu calon presiden nomor urut dua, Bapak Joko Wododo (Jokowi) dalam kampanyenya menjanjikan bahwa tanggal satu Muharram akan ditetapkan menjadi hari Santri Nasional.

Menanggapi wacana ini, agaknya kita perlu mencermati sejak kapan isu ini ada, alasan, tujuan, dan dampak (manfaat-mudhorot)-nya.. Isu penetatapan hari santri nasional sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010. Namun isu ini kembali digagas oleh Gus Thoriq pengasuh PP. Babussalam Magelang ketika bertemu dengan Jokowi pada Jumat, 27 Juni 2014.  Alasannya tanggal 1 Muharram adalah momentum yang tepat untuk berkaca diri dalam mencari identititas sosial seseorang. Tahun baru pada kalender Islam itu, seyogjanya bisa menjadikan spirit dan membawa perubahan yang sangat besar dalam penyebaran Agama Islam. Bukan tahun baru Masehi sebenarnya yang perlu dirayakan besar-besaran. Namun, sebagai orang Islam, 1 Muharram adalah cerminan betapa hari-hari besar Islam saat ini masih banyak yang terlupakan begitu saja. Sedangkan kalangan yang tidak setuju seperti Guz Aiz (Pimpinan Pusat Pencak Silat Nadlatul Ulama) dan KH. Syukron Ma'mun beralasan penetapan hari santri pada tanggal 1 Muharram tidak berdasarkan pada sejarah pondok pesantren dan berpotensi menimbulkan pertikaian serta memecah belah umat Islam.
Tujuan yang dirumuskan Gus Toriq lebih mengedepankan refleksi santri sehingga tidak lupa pada jati dirinnya sebagi santri. Maka perlu dipikirkan kembali pemilihan penetapan hari santri nasional karena kurang tepat jika memilih tanggal 1 Muharram. Mengapa demikian? 1 Muharram adalah tahun baru Islam. Islam tidak saja milik kaum santri. Penetapan 1 Muharram sebagai hari santri nasional agaknya dapat menimbulkan perpecahan. Bagaimana dengan mereka yang beragama Islam tapi bukan santri? Apakah masih boleh merayakan tahun baru Islam di Indonesia. Karena dengan ketetapan seperti itu memunculkan sebuah persepsi bahwa Islam hanya milik kalangan santri. Padahal kan Islam Rahmatal Lilalamin. Jika memang sungguh perhatian pada kalangan santri dan berniat mengadakan penetapan hari santri nasional, lebih baik memilih waktu yang tidak berpotensi menimbulkan perpecahan umat dengan mempertimbangkan   sejarah berdirinya pondok pesantren di Indonesia.
Kita sebagai umat Islam, harus sadar betul bahwa kita hidup dalam lingkungan multikultural.  Jangan biarkan wacana ini memecah belah umat. Tetaplah hargai pendapat orang lain. Toh, seandainya pemerintah memang menaruh perhatian lebih besar kepada pondok pesantren ada hal yang lebih penting dari sekedar penetapan hari santri nasional yang lebih cenderung kepada formalitas dan seremonial belaka. Pondok  Pesantren merupakan lembaga pendidikan nonformal yang diakui dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Namun dalam beberapa hal terjadi dualisme kebijakan antara diknas dan depag. Hal ini perlu dibenahi. Output pesantren distandarisasikan dengan output pendidikan formal. Maka yang terjadi adalah pesantren menyesuaikan diri dengan menyamakan materinya dengan pendidikan formal atau lulusan pesantren harus mengikuti kejar paket. Dalam beberapa hal utamanya bagi pesantren salaf Kebijakan tersebut dapat mengurangi kekhasan dan jati diri pesantren  salaf itu sendiri. Ingat Pesantren adalah sistem nasional perguruan asli bangsa Indonesia (Ahmad Baso, disampaikan dalam diskusi di balai litbang kemenag Jakarta).


Read More

Kontribusi Ibadah Qurban Mengurangi Kesenjangan Sosial


Erang kesakitan sapi, kerbau dan kambing terdengar jelas hampir disetiap masjid di kota. Hewan-hewan Qurban yang telah disembelih itu lantas digantung untuk dikuliti, dipotong, dipilah, ditimbang dan dibungkus. Beratus-ratus daging berbungkus tas plastik hitam-putih bertumpuk di sudut lapangan masjid. Tiba-tiba seorang pengemis datang, ibu dengan bayi dalam gendongan datang meminta daging. Seorang ibu yang tengah membungkus daging tak cukup tega melihatnya lantas memberikannya sebungkus. Pengemis itu pergi. Tak lama datang tiga orang pengemis, lalu datang lagi lima, lalu datang lagi tujuh, hingga takmir masjid sibuk untuk menghalau datangnya para pengemis yang seolah tak pernah habis. Petugas yang jengkel itu akhirnya menutup akses menuju masjid untuk menghindari datangnya pengemis dadakan yang lebih banyak. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa sampai demikian? Tiba-tiba saja ada begitu banyak pengemis dadakan? Benarkah tindakan petugas masjid itu untuk tidak memberikan daging bagi para pengemis?
Setiap tanggal 10 Dzulhijah, umat muslim dibelahan dunia manapun memperingatinya sebagai Hari Raya Idul Adha. Pada momen itu dilaksanakan pula suatu ibadah sesuai dengan perintah Allah dalam firman-Nya, “Sesunggguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah….”. (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).
Qurban yang sebenarnya adalah ibadah ghairu mahdhah, masih banyak dirasakan masyarakat muslim berorientasi kepada pahala semata. Sehingga melupakan dimensi ibadah yang berorientasi fungsional demi kemaslahatan kemanusiaan dan karakter ibadah (amal shalih), baik yang bersifat vertikal ataupun horizontal pada hakikatnya tidak semata berorientasi pahala. Akan tetapi lebih kepada sejauh mana ibadah itu memberikan konstribusi sosial-kemanusiaan.
Secara keuntungan ekonomis daging yang diberikan kepada sesama mungkin tidaklah berdampak besar. Berbeda dengan adanya zakat, infak, dan shodaqoh yang lebih berdampak pada aspek ekonomi. Labih dari itu dengan memberikan daging kepada yang berhak, timbul semacam perasaan emosional antara pemberi dan penerima. Penerima merasa bahwa keberadaanya masih dipedulikan oleh saudara sesama muslim yang kaya. Si miskin merasa tidak dihinakan, tidak dikucilkan namun si miskin merasa ia dengan ketidak mampuannya merupakan bagian tanggung jawab dari saudara muslim yang kaya. Secara serempak semua umat muslim merasakan makan enak, makan daging. Tak peduli kaya atau miskin. Bukankah itu adalah wujud dari pengurangan kesenjangan sosial? Hemm, betapa indahnya Islam dengan segala aturannya.
Momen Idul Adha juga tidak pernah lepas dari fenomena pengemis dadakan dan tindak kekerasan ketika pembagian daging. Tiba-tiba saja ada banyak sekali pengemis yang turun ke masjid, mushola bahkan rumah-rumah. Dari sebuah berita yang dilansir TRIBUNNEWS.COM, Pada 2012 misalnya, setelah tuntas ibadah Shalat Idul Adha di masjid Al-Akbar, sebanyak 40 pengemis dari Krian, Sidoarjo, berhasil mereka jaring dan bawa ke Liponsos. Berdasarkan data Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, untuk yang tingkat kasihannya standar berpenghasilan Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu (merdeka.com). mengherankan bukan? Untuk itulah kita perlu lebih berhati-hati ketika beramal. Bukannya berprasangka buruk, tapi waspada dan berdoa semoga amal kita tepat sasaran J
Berbicara mengenai qurban, benak kita pun tak lepas dari sebuah peristiwa yang sering terjadi di bumi Indonesia. korban luka bahkan tewas saat pembagian daging qurban kepada warga. Korban meninggal bernama Sukiyo, seorang kakek berusia 74 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya saat hendak mengantre pembagian daging hewan kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat (liputan6.com).
Lantas bagaimana cara untuk menghindari jatuhnya korban saat pembagian daging qurban?
Mungkin alternatif solusi ini bisa dicoba,
1.      Panitia terlebih dahulu menyiapkan ruangan yang cukup.
2.      Setelah Persiapan pembagian qurban dimulai, panitia membuka pintu masjid seperti biasanya dan menyilakan para penerima qurban untuk menempatkan diri ruang majlis yang telah disediakan. Setiap yang datang duluan akan mempati shof yang terdepan agar manjadi lebih tertib maka yang paling belakang akan diisi oleh orang yang datang terlambat.
3.      Setelah teratur terbentuk shof baru diadakan acara pemberitahun tehnik pembagiannya dan selanjutnya bisa diisi siraman rohani kemudian jika sudah siap dibagi cara pembagiannya, yakni dengan cara menyilakan peserta untuk diam duduk manis di tempat dan panitia akan membagi secara berkeliling menghampiri peserta penerima satu peratu secara berkeliling mulai dari shof terdepan .
4.      Untuk menjaga pemerataan jatah qurban setiap peserta yang yang telah menerima qurban langsung menuju pintu keluar dan dipersilakan celup jari dengan tinta seperti sistim pemilu. Namun jika tidak memungkinkan acara celup tinta ini tidak perlu dilakukan namun bisa diganti dengan menerapkan pembagian kupon terlebih dahulu setelah peserta duduk tertib dan peserta akan dipersilakan duduk tenang menukarkan kupon tadi dengan daging qurban. (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com ditulis oleh Mohamad Ab)
Nah dengan begini insyaallah, ibadah qurban akan lebih bermakna sebagai ibadah sosial, kan tepat sasaran dan diberikan dengan cara yang baik tanpa ada yang terluka. (Noor Salamah)
Sumber :
diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
2.      http://www.merdeka.com/jakarta/8-modus-sindikat-pengemis-tipu-warga-jakarta.html, diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30
3.      http://news.liputan6.com/read/721416/daging-kurban-makan-korban, diakses pada Jumat, 19 September 2014 pukul 23.30



Read More

Rabu, 03 September 2014

Lillah Maka Takkan Lelah

Lillah Maka Takkan Lelah

فَبِآَيِّ ءَالآءِ رَبِّكُماَ تُكَذِّباَنِ
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Rizqi menutup Al Qur’an. Sejenak ia terdiam, merenungi sebuah kalimat yang terus diulang-ulang dalam surat yang baru saja selesai ia baca, Surat Ar Rahman. Kurang lebih tiga puluh satu kali kalimat itu di ulang.
Rizqi merasa bahwa begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan padanya, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat sehat, dan kenikmatan lain yang tak mampu ia jabarkan satu persatu.Rizqi bersyukur, mimpinya sedari semester dua kini telah terwujud. Menjadi Mahasiswa Prestasi Universitas Negeri Semarang Tahun 2014. Baginya semua tidak lepas dari doa dan dukungan orang-orang di sekitarnya.
            “Kang Rizqi..”
“Nggih pripun Kang?” Rizqi menoleh, menatap Ryan.
Mangkeh dalu saged nderek tampil sareng Addurrota?”
            “Ngih Kang Insyaallah, saged.
            “Oh ya, selamat ya Kang atas prestasinya menjadi Mapres. Semoga mberkahi jangan lupa syukurannya.” Ryan tersenyum menjabat tangan Rizqi.
“Insyaallah Kang, semoga karunia ini dapat membawa berkah bagi kita semua. Aamiin.”
Hari sudah sore. Rizqi melihat jam di dinding aula, jam 15.35 WIB. Saatnya ia pergi, berbagi ilmu dengan teman-temannya di English Rehearsel Club (ERC).
Assalamualaikum, saya Wahyu dari Pendidikan Geografi. Mas, boleh dong dibagi pengalamannya sehingga bisa menjadi Mapres. Apa sih tips dan triknya?”
Adik tingkat Rizqi itu terlihat begitu antusias menunggu jawaban dari Rizqi.
“Tips pertama, harus tau kriteria penilaian. Adapun yang termasuk dalam poin penilaian adalah IPK di atas 3,5, karya ilmiah, prestasi yang diunggulkan dan kemampuan bahasa Inggris. Tips kedua, maksimalkan potensi yang kamu miliki. Jika kamu pandai dalam menulis karya ilmiah, maksimalkanlah. Ikuti berbagai even guna mengasah kemampuan menulismu. Tips ketiga, jika kamu lemah dalam satu poin kriteria penilaian sebisa mungkin unggulkanlah poin yang lain. Keempat, berdoa. Jangan lupa selalu minta doalah pada orang tua terlebih Ibu. Karena berkat doa dan restu Ibulah insyaallah segala urusan akan dipermudah oleh Allah. Kelima, pinter ngatur niat. Masalah urusan niat, guru saya Abah Kiai M. Masrokhan pernah berkata, ‘Segala yang kita lakukan hendaknya diniatkan untuk nyari sangu akhirat’ maka insyaallah akan diberi kemudahan. Berbeda hasilnya, jika niat kita adalah untuk pamer kesombongan. Ada saja hal yang mencegah kita untuk meraih apa yang kita inginkan.”
Sosok Wahyu yang tersenyum senang, membawa Rizqi bercermin pada masa lalu. Wahyu serupa dengan Rizqi dahulu. Antusias, enerjik, dan penuh semangat berprestasi.
Rizqi terheran-heran. Di pandangnya sosok yang tak asing lagi baginya. Sosok itu, laki-laki berkulit putih, berwajah cerah, cukup tinggi dan memiliki suara yang khas. Rizqi tidak menemukan sosok itu dalam bingkisan peci hitam seperti yang selalu ia lihat tiap selasa sore. Rizqi menemukan sosok itu dalam padanan celana hitam, kemeja putih dengan rambut tersisir rapi. Dalam suasana berbeda, Rizqi menemukan sosok itu menjadi berbeda. Sosok itu tidak sedang duduk di balik meja kecil menjelaskan kitab I’dhotun Nasii’n. Sosok itu sedang menerangkan tentang konsep diri, salah satu materi yang diberikan dalam acara pelatihan yang sedang ia ikuti. Dialah Eko Heriyanto, senior Rizqi yang dulu pernah menjadi Mapres dan sekarang bekerja di LP3 Pusat Bahasa Unnes.
“Acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Kami membuka satu termin yang terdiri dari tiga penanya. Silahkan bagi peserta yang ingin bertanya.” Ucap moderator. Serentak tangan-tangan teracung. “Silahkan kepada peserta yang duduk paling depan mengenakan batik biru.”
“Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Perkenalkan saya Mochamad Rizqi Adhi Pratama, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris semester dua. Bisakah kakak bagi kepada kami tips dan trik agar bisa menjadi Mapres?” bukan bermaksud bertanya tentang hal yang klise, tapi memang pertanyaan itulah yang terlintas pertama kali di benak Rizqi.
Semenjak saat itu, Rizqi mulai terlibat diskusi serius dengan Eko. Seorang ustad di pondok pesantren tempat dia belajar yang juga senior Rizqi di kampus. Sosok Eko begitu Rizqi kagumi, ialah yang kemudian menginspirasi untuk terus berprestasi dunia dan akhirat.
 “Kang, masih ingat dengan saya?”
Perhatiannya kini beralih dari standart motor ke asal  suara. Parkiran pondok cukup sepi kala itu. Tak banyak orang disana. Hanya ada Rizqi dan sosok yang berdiri di  hadapannya. Rizqi rasa, sosok tersebut  tidak asing dalam ingatannya. Namun Rizqi lupa siapa namanya dan dimana mereka pernah bertemu.
“Saya Wahyu, mahasiswa Pendidikan Geografi semester dua yang juga salah satu santri pondok pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah.”
“Ah iya saya ingat, kamu salah satu peserta ERC yang tadi nanya to?”
“Iya Kang, sebenarnya selain apa yang saya tanyakan tadi masih banyak ilmu yang pengen saya gali dari njenengan.
Monggo, tapi saya juga sedang menggali ilmu dari banyak orang.”
“Saya itu begitu heran dan terkagum-kagum sama njenengan. Dengan kesibukan kuliah dan kesibukan di pondok tapi njenengan tetap bisa terus berprestasi. Menjadi Kartono Terbaik FBS Unnes 2012, Papika, Mapres, Denok dan Kenang, Duta Wisata, Duta Bahasa, belum lagi njenengan juga pernah jadi santri berprestasi. Sungguh luar bisa. Lalu bagaimana njenengan ngatur waktunya? Dengan kesibukan yang tentu saja menyita banyak waktu dan tenaga. Tapi njenengan tetap bisa berprestasi dan berpartisipasi dalam kegiatan pondok. Sebenarnya apa sih kuncinya?”
“Kuncinya adalah lillah maka takkan lelah. Semuanya diniatkan untuk ibadah, mencari sangu di akhirat nanti. Insyaallah, jalan kita akan dimudahkan, fisik kita dikuatkan, mental kita di teguhkan. Bukankah Abah juga sering ngendika, tentang 3M : mau, mampu, dan menyempatkan.” Rizqi tersenyum, dalam hati ia berharap semoga apa yang ia capai saat ini, dapat  menginspirasi santri dan mahasiswa lain. Bahwa kuliah dan mondok tidak menjadi alasan untuk tidak bisa berprestasi. Lillah maka takkan lelah, itulah motto hidupnya.
***

Noor Salamah, lahir di Jepara. Sedang menempuh S1 Pendidikan Luar Sekolah Unnes dan nyantri di PP. Durrotu Ahlissunnah Waljamaah. Pernah meraih juara III even menulis surat untuk calon presidenku oleh Meta Kata.  Penulis dapat dihubungi melalui facebook: Salma van licht, e-mail di salamah_chan@yahoo.com, atau di 089668214948.
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com