Islam di Bumi Papua
oleh Musa
oleh Musa
Islam di Papua adalah agama minoritas yang dipeluk oleh dari sekitar 16%
menjadi 22% hasil sensus 2010 penduduk provinsi ini, dari keseluruhan 2.833.381 jiwa
penduduk berdasarkan sensus tahun 2010. Mayoritas umat Islam tersebut adalah dari non-suku asli Papua (439.337 jiwa, atau 15.51%),
sedangkan sisanya adalah dari suku asli Papua(10.759
jiwa, atau 0.38%).
Bukti-bukti peninggalan sejarah mengenai agama Islam yang ada di pulau
Papua ini, antara lain: (1) terdapat living monument
yang berupa makanan Islam yang dikenal di masa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di daerah Papua kuno di Desa Saonek, Lapintol,
dan Beo di distrik Waigeo, (2) tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang
berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih, (3) naskah-naskah dari masa
Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno, (4) di Fakfak, Papua Barat
dapat ditemukan delapan manuskrip kuno berhuruf Arab. Lima
manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran
kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Alquran yang ditulis dengan tulisan
tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab
lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu Tauhid, dan kumpulan
doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1214 dibawa oleh Syekh
Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka
masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab
lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat
ini.
Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari
bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun
lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur. Masjid Patimburak yang didirikan di tepi Teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak
yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.
Pengaruh Islam terhadap
penduduk Papua dalam hal kehidupan sosial budaya memperoleh warna baru, Islam
mengisi suatu aspek kultural mereka, karena sasaran pertama Islam hanya tertuju kepada soal
keimanan dan kebenaran tauhid saja, oleh karena itu pada masa dahulu
perkembangan Islam sangatlah lamban selain dikarenakan pada saat itu
tidak ada generasi penerus untuk terus mengeksiskan Islam di Pulau Papua, dan mereka pun tidak memiliki
wadah yang bisa menampungnya.
Namun perkembangan
Islam di Papua mulai berjalan marak dan dinamis sejak Irian Jaya berintegrasi
ke Indonesia, pada saat ini mulai muncul pergerakan dakwah Islam, berbagai
institusi atau individu-individu penduduk Papua sendiri atau yang berasal dari
luar Papua yang telah mendorong proses penyebaran Islam yang cepat di seluruh
kota-kota di Papua. Hadir pula organisasi keagamaan Islam di Papua,
seperti Muhammadiyah, Nahdlatul
Ulama, LDII, dan pesantren-pesantren dengan tradisi ahlussunah waljama'ah.
0 komentar:
Posting Komentar