Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

Menerbangkan Layang-layang



“Kau tau Dahlia, layang-layang itu tak ubahnya seperti mimpi dan cita-cita kita. Dan kita tak ubahnya anak kecil yang terus belajar dan berjuang untuk menerbangkan layang-layang. Suatu ketika kita mengalami angin kencang yang menggoyahkan kendali layang-layang, atau bahkan ketika kita hendak memulai menerbangkan layang-layang kita tak memiliki cukup angin. Maka apakah kau akan berputus asa menerbangkan layang-layangmu Dahlia? Sementara kau begitu menyukai layang-layang, begitu ingin melihat layang-layang itu terus terbang.”
Dahlia menggeleng kuat, gadis yang masih duduk di bangku SMP kelas satu itu membayangkan dirinya semasa kecil yang begitu gemar bermain layang-layang.
“Benar kau tak boleh berputus asa. Teruslah belajar dan berusaha menerbangkan layang-layangmu. Teruslah belajar dan berusaha untuk mewujudkan mimpimu. Bukankah kau memiliki mimpi?” Dahlia sekali lagi mengangguk, matanya berbinar membayangkan dirinya dalam busana laboratorium, berkutat dengan tabung reaksi. Meramu senyawa kimia yang berguna untuk umat manusia.  “Bagus, pegang eratlah mimpi itu jangan kau lepaskan. Mimpi selalu punya jalan bagi mereka yang selalu berusaha dan tak berputus asa. Nah, hari sudah sore saatnya kita pulang. Mamak pasti sudah ribut karena aku mengajakmu bermain terlampu sore.”
Mereka berdua berjalan bersisian bergandeng tangan. Di tangan Dahlia tergenggam botol plastik berisi uang receh, sementara di tangan Santoso tergenggam ukelele yang biasa mereka gunakan untuk mengamen.
Dahlia menatap pucuk dari Tugu Muda yang tinggi menjulang ke langit luas. Tiba-tiba saja ia teringat kenangan bersama kakaknya beberapa tahun silam persis di tempat ini.
 “Bagaimana tanggapanmu tentang tawaran dari Ibu Atik tadi siang?”
“Entahlah, aku masih ragu untuk memustuskan bagaimana. Mimpi untuk melanjutkan sekolah, seperti mimpi yang terlalu tinggi. Aku anak orang miskin. Bapak pun sudah tak ada. Ibu hanya buruh cuci. Adikku masih dua, kecil-kecil, mereka yang lebih butuh sekolah. Aku, aku terlalu takut menyampaikan tawaran itu kepada ibu,”
“Apa salahnya menerima tawaran itu Dahlia? Menurutku kau lebih beruntung daripada aku. Setidaknya ada orang yang menawarimu, mengulurkan bantuannya untuk membantumu menggapai mimpi. Sementara aku? Boro-borolah ada yang bantu, berpikir bahwa aku juga memiliki mimpi pun nampaknya tidak ada dalam benak mereka. Setidaknya kau masih memiliki peluang, kau cerdas, rajin, dan berbakat dan kau di sukai banyak guru disekolah dapat peringkat disekolah lagi. Apalagi yang menghambatmu untuk meraih mimpi?”
“Mamakku sakit Hani, aku tak tega meninggalkannya sendiri mengurus keluarga. Apalagi jika aku melanjutkan sekolah pasti ibu akan bertambah bebannya,” Hani terdiam, ia sudah tidak ingin lagi berdebat dengan sahabatnya. Hani tau, sudah banyak duka dalam hati Dahlia, terlebih semenjak ia kehilangan kakak yang begitu ia sayangi secara mendadak akibat kecelakaan. Dunianya hampir-hampir saja berubah. Pelita dimatanya semakin redup.
Dalam situasi ini apa yang harus aku lakukan Mas? Akankah sudah menjadi takdirku untuk tidak sekolah? Akankah sudah menjadi takdirku untuk terus mengamen di jalanan yang kejam ini? Tuhan bimbinglah aku. Berikan petunjuk-Mu. Mudahkanlah jalanku.
Bisik Dahlia, sebuah bisikan yang hanya didengar oleh angin sore.
Sekar mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Atik, guru muda yang begitu peduli dengan Dahlia. Hampir-hampir ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Atik tentang anaknya, Dahlia. Dahlia tidak pernah bercerita tentang masalah ini kepadanya. Memang Dahlia adalah sosok yang pendiam dan tertutup, tapi Sekar tak menyangka bahwa dalam hal sepenting ini pun Dahlia tidak bercerita padanya.
“Dahlia gadis yang cerdas, rajin dan berbakat Bu, sangat disayangkan apabila Dahlia tidak melanjutkan pendidikannya.”
Kalimat itu terus berulang di benak Sekar. Sementara di balik tirai jarik, Dahlia mencuri dengar pembicaraan ibunya bersama Ibu Atik, wali kelasnya. Ingatan Dahlia melesat jauh kembali ke masa lalu, tentang sore yang begitu indah bersama almarhum sang kakak. Akankah ia harus menyerah menerbangkan layang-layangnya?
“Tapi Bu, saya tidak punya cukup biaya untuk menanggung biaya sekolah Dahlia. Kami hanya hidup sebatang kara, Mas Didik dan Santoso sudah tiada, sementara Dahlia masih memiliki adik yang kecil-kecil.”
“Soal biaya, jangan terlalu dipikirkan Bu. Banyak beasiswa yang bertebaran di luar sana. Kami dari pihak sekolah akan membantu Dahlian dan kawan-kawan dalam hal pengajuan beasiswa bidikmisi dan pemilihan jurusan serta universitas. Tapi kami tentu tak bisa berjuang sendirian. Dahlia butuh motivasi, dukungan, restu dan doa dari Ibu untuk melanjutkan pendidikannya.”
“Tapi tentu beasiswa-beasiswa itu belumlah cukup untuk membiayai sekolah Dahlia. Seberapa besar sih beasiswa itu? Tentu ada biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan. Bukannya saya keberatan Dahlia sekolah lagi, tapi kami ini orang miskin Bu. Apalah yang bisa kami lakukan sebagai orang miskin ditengah kehidupan yang semakin kejam dan tak adil?”
“Kalau beasiswa bidikmisi itu berbeda Bu. Beasiswa ini insyaallah menjamin penerimanya. Karena, penerima bidikmisi sudah dibebaskan dari biaya perkuliahan ditambah lagi setiap bulannya akan mendapatkan living cost atau biaya hidup, untuk membayar tempat kost, buku, makan dan lain-lain. Kalau di sekiatar semarang ya berkisar enam ratus ribu lah. Tinggal anak itu mengelolanya bagaimana sehingga dana beasiswa yang diberikan untuknya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhannya,” sekali lagi Atik berusaha menyakinkan Sekar agar merestui Dahlian melanjutkan sekolah.
Diseberang sana, Sekar nampak berpikir. Apakah enam ratus ribu sebulan itu cukup untuk Dahlia?
“Bagaimana jika begini saja Bu? Mari kita tanyakan Dahlia, apakah ia berkeinginan untuk melanjutkan sekolah atau tidak? Jika dia memang berniat melanjutkan sekolah, pihak sekolah akan membantunya. Dan mohon pihak keluarga juga mendukung Dahlia.”
            “Dahlia, kemarilah Nduk!” Dahlia yang sedari tadi mencuri dengar dari balik tirai jarik datang memenuhi panggilan mamaknya. Ia duduk dengan tatapan menunduk disisi mamak.
            “Dahlia, soal tawaran dari sekolah untuk melanjutkan sekolah, Bu Atik sudah menceritakannya pada mamak. Sekarang mamak ingin bertanya padamu. Apakah kamu berniat dengan sungguh-sungguh tidak sekedar ikut temanmu yang kaya-kaya dan suka gaya itu untuk melanjutkan sekolah?” Dahlia mengangguk. Ia sudah memantapkan hati. Mencoba tak ingin memikirkan apa reaksi mamaknya. Dahlia ingin layang-layangnya terbang tinggi, untuk itu Dahlia tidak boleh berhenti berusaha, tidak boleh berputus asa. Atik tersenyum mendapati jawaban Dahlia. Inilah jawaban yang ditunggu-tunggu. “Baiklah kalau, begitu. Jika Dahlia memang sudah mantap dengan pilihannya. Mamak bisa apa? Mamak hanya bisa berdoa untuk kebaikannya,” terharu Dahlia mendengar jawaban mamak. Dipeluknya mamak erat dan hangat. Mamak membalasnya dengan pelukan dan tepukan sayang.
            “Tapi Mak, jika Dahlia benar-benar bisa melanjutkan sekolah. Mamak nanti sendirian di rumah, trus yang mengurus adik-adik nanti siapa? Sementara Mamak sendiri sering sakit- sakitan?” pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Dahlia ketika Atik sudah pulang.
            “Sudah jangan kau pikirkan. Mamak sudah sehat kok. Mamak masih mampu mengurus rumah dan adik-adikmu. Toh adik-adikmu adalah anak yang mandiri, mereka pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Lihatlah Rara, ia sudah mulai belajar mencuci pakaiannya sendiri. Sementara Kholil sepulang sekolah ia membantu di warung Cik Akong. Jadi janganlah terlalu cemaskan adik-adikmu. Belajarlah yang tekun, banyaklah berdoa dan jadilah kebanggaan mamak dan keluarga kita. Sebentar lagi kamu ujian to? Jadi jangan bebanban pikiranmu untuk hal-hal seperti ini. Oh ya mamak juga minta, berhentilah mengamen di jalanan. Mamak tak ingin pikiranmu pecah. Apalagi tindak kriminal semakin tinggi. Mamak khawatir padamu,” Dahlia sekali lagi mengangguk, tak tau lagi harus berkata apa.
            Tengah malam, katika rumah sudah sepi sekali. Di atas depan kayu beralas tikar lusuh, Dahlia mendengar rintih, tangis serta doa mamak dalam salat malamnya.
            “Ya Allah yang Maha Mendengar. Mudahkanlah urusan Dahlia, berikanlah ia ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Ya Allah, bimbinglah ia agar ia senantiasa berada di jalan yang Enagkau ridai. Hanya atas kuasa dan kehendakmu ya Allah, Dahlia bisa melanjutkan sekolah menggapai cita-citanya. Menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Tuhan, Dahlia adalah yang membanggakan bagiku, tapi janganlah ia Engkau jadikan hanya kebanggaanku seorang tapi juga kebanggan-Mu, kebanggaan nusa, bangsa dan agama. Ya Allah mantapkanlah hatinya dalam melangkah. Kuatkanlah hamba, agar bisa selalu mendampinginya agar selalu mampu mendidik anak-anak hamba menjadi hambamu yang Engkau banggakan,”
            Tanpa Dahlia sadari tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia peluk erat Rara dan Khalil yang tertidur pulas di sampingnya. Air mata semakin turun deras, manakala terdengar suara batuk Mamaknya.
            Ya Allah, kuatkanlah aku. Bimbinglah aku. Mudahkanlah urusanku. Mamak, aku berjanji padamu. Aku akan berusaha menjadi apa yang engkau harapkan. Selalu menjadi anak yang membanggakan dan membahagiakanmu.
***



Noor Salamah, putri pasangan M. Ma’ruf (Alm) dan S. Muzaronah lahir pada  23 Juni 1994. Beralamat di Jalan H.M. Sahid No. 11 Panggang Jepara. 


Read More

Kamis, 30 April 2015

Memaknai Kartini di Era Globalisasi

Memaknai Kartini di Era Globalisasi

“Habis gelap terbitlah terang,” quotes itu begitu terkenal dan melekat erat dengan sosok Kartini. Namun tak banyak orang yang tau dengan quotes Kartini yang lain yaitu, “Perempuan itu jadi soko guru peradaban.” Quotes itu ditulis Kartini dalam sebuah suratnya yang dikirim kepada Abendanon pada tanggal 21 Januari 1901. Pernyataan itu menjelaskan bahwa jauh dimasanya Kartini telah berpikir tentang kemajuan bangsanya, Bangsa Indonesia, dan kemajuan bangsa tidak akan lepas dari peran seorang wanita sebagai pendidik di dalam keluarga.
Tugas utama Ibu adalah mendidik anak. Ia adalah guru pertama dan yang utama. Ironis bila pendidikan anak yang nantinya akan jadi penentu peradaban bangsa justru diserahkan kepada orang lain, baby sitter misalnya hanya karena orang tua terutama Ibu sibuk dengan pekerjaannya. Berdasarkan data dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi diketahui jumlah wanita bekerja pada tahun 2006 sejumlah 33.312.775.000 orang. Berdasarkan hasil penelitian Deni (2008), terkait dampak peran ganda pada ibu bekerja menunjukkan bahwa 1) Bagi ibu yang berperan ganda, keluaga dan pekerjaan sama pentingnya, meski begitu keluarga tetap menjadi prioritas utama. 2) Usia anak sangat berpengaruh pada tingkat bersalah kecemasan dan kesedihan yang dialami ibu bekerja. 3) Penyebab utama stres pada ibu bekerja adalah perannya sebagai pekerja yang meliputi beban pekerkaan dan konflik rekan kerja namun keluarga yang menjadi "kambing hitam". 4) Ketidakberdayaan muncul sebagai akibat dari frustasi yang dialami ibu bekerja karena tidak mampu menjalankan perannya dengan maksimal. 5) kondisi ekstrim yang sangat berpengaruh pada kondisi ibu bekerja dalam menjalankan peran gandanya adalah ketika anak sedang sakit. 6) Sekalipun lebih banyak dampak negatif dibandingkan dampak postif yang muncul saat menjalankan peran gandanya namun tidak semua ibu bekerja bersedia meninggalkan pekerjaannya.
Meskipun ibu bekerja tetap memprioritaskan keluarga namun padanya kenyataanya ketika terdapat masalah seputar pekerjaan keluarga pulalah yang menjadi kambing hitam. Dalam kondisi seperti ini siapakah yang mampu menenangkan sang Ibu? Apakah ayah? Sangat riskan jika pada saat itu Ayah juga mengalami masalah dengan pekerjaannya. Konflik bukannya mereda tapi justru semakin memanas. Akibat terparah yang muncul adalah perceraian. Lagi keluarga terutama anak menjadi korban.
Apakah Tenaga Kerja Wanita (TKW) penyumbang devisa terbesar negara adakah sosok Kartini di era globalisasi?
Jika predikat Kartni dilekatkan dengan indikator pengabdian kepada negara dan seberapa besar ia menyumbang uang untuk negara, barangkali TKW termasuk sosok Kartini di era globalisasi. Namun, apakah kriteria itu benar-benar mencerminkan Kartini? Jika dilihat dari pemikiran Kartini, betapa Kartini begitu memperhatikan kaum perempuan terutama nasib dan pendidikannya hal ini didasari bahwa Kartini percaya perempuan adalah soko guru peradaban. Kartini sadar betul bahwa seorang Ibu secara kodrati adalah seorang pendidikan yang pertama dan pertama. Keberhasilan pendidikan anak tidak akan lepas dari seberapa terdidiknya sang Ibu. Keberhasilan pendidikan anak inilah yang kemudian menjadi penentu maju tidaknya peradaban sebuah bangsa.
Apakah kondisi seperti ini dimana banyak ibu menjalani peran ganda, menjadikan keluarga sebagai kambing hitam dikala ada masalah pekerjaan, rasa frustasi yang seringkali muncul, serta dampak negatif lainnya merupakan bentuk emansipasi yang diharapkan dari Kartini?
Bukan maksud penulis melarang wanita untuk bekerja. Namun sebagai wanita yang cerdas dan tau kodrat, seorang wanita harus pintar memilih pekerjaan. Mencari nafkah adalah tugas utama Ayah, Ibu hanya membantu sedangkan fungsi utama ibu dalam keluarga adalah mendidik anak, sebaliknya Ayah hanya membantu. Pernyataan ini juga tidak bermaksud mengesampingkan peran Ayah sebagai seorang pendidik, bagaimana pun keberhasilan pendidikan anak sangat dipengaruhi oleh kedua orang tua. Mengapa peran Ibu lebih dominan dalam usaha pendidikan anak? Karena sejak di dalam kandungan anak telah mendapatkan pendidikan dari sang Ibu. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah jenis pekerjaan apakah yang bisa dijalankan seorang Ibu agar tetap mampu menjalankan perannya sebagai pendidik secara optimal? Ada banyak sekali jenis pekerjaan di dunia ini, setidaknya kriteria yang bisa digunakan untuk menjadi masukan bagi ibu bekerja adalah sebagai berikut ;
1.      Prosentase waktu bekerja lebih sedikit daripada prosentase waktu di rumah bersama keluarga
2.      Jenis pekerjaan tidak terlalu mengikat sang Ibu, akan lebih baik jika Ibu menjadi pengusaha home industry yang bebas dan bisa mengatur waktunya sendiri tanpa aturan dari siapapun
3.      Libatkan sang anak dalam pekerjaan sang Ibu, hal ini akan membuat anak paham kondisi Ibu di dalam keluarga selain itu menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi anak tentang nilai-nilai kerja keras dan berbakti pada orang tua
4.      Hindari pekerjaan yang menuntut waktu lebih lama di luar rumah seperti TKW, buruh yang seringkali lemburan
5.      Libatkan Ayah-suami dalam memutusakan pekerjaan, karena mau tidak mau jika nanti Ibu tidak mampu menjalankan perannya maka Ayahlah yang akan mengambil alih peran Ibu.
6.      Ibu yang mawas diri haruslah mampu bertindak profesional dengan tidak mencampur adukkan urusan/masalah pekerjaan dengan urusan rumah
7.      Jika memang sangat terpaksa delegasikankan anak kepada orang yang dipercaya, bisa orang tua, saudara, tetangga atau baby sitter.
Sekali lagi, yang diharapkan Kartini adalah seorang Ibu yang mampu menjalankan perannya sebagai pendidik secara optimal terlebih di era globalisasi yang seluruh informasi entah baik atau buruk membaur menjadi satu. Ironis ketika penulis membaca dalam sebuah artikel bahwa ada ibu baru yang lebih mempercayakan mekanisme perlakuan kepada anaknya yang masih kecil berdasarkan informasi di internet semata. Ironis pula bila predikat wanita hebat lebih dilekatkan pada sosok wanita yang hanya sukses karirnya di dunia saja. Wanita yang hebat adalah wanita yang sukses menghantarkan suami dan anak-anaknya menjadi pribadi yang hebat, membanggakan agama, bangsa dan negara, mewujudkan peradaban bangsa sesuai dengan yang dicita-citakan. Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
***
Daftar Pustaka : Ratnawati, Deni. 2008. Dampak Peran Ganda Pada Ibu Bekerja. Semarang : Skripsi Universitas Katolik Sugiprajanoko.
***
Biodata Penulis
Noor Salamah, lahir di Kota Ukir Jepara. Putri pasangan Bapak M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah yang berzodiak cancer ini sangat hobi menulis dan membaca. Ia bisa dihubungi melalui fb : salma van licht, twitter :@salma_skylight.

                                                                                                                           
Read More

Kartini Masih Tegak Berdiri

Kartini Masih Tegak Berdiri

Dari kecil hingga aku dewasa, ia masih saja tegak berdiri. Tangannya memegang obor sedangkan satu tangan lainnya memegang erat lengan seorang anak kecil. Aku tak tau pun aku tak kenal siapakah anak kecil yang mendapat kehormatan dipegang oleh sang penerang di kala gelap. Apakah aku iri kepada si anak kecil itu, tidak buat apa aku iri. Apakah aku cemburu, entahlah barang kali iya.
Hari ini genap sudah 136 sang penerang itu hadir dengan obor mimpi dan cita-citanya, sudah sangat tua namun ia masih tegak berdiri. Ia masih saja awet muda, dan anak kecil itu tak kunjung dewasa jua. Ia menjadi saksi perjalanan peradaban negeri ini. Apakah pencapaian peradaban bangsa ini sekarang sudah sesuai dengan yang dicita-citakannya dahulu, entahlah. Banyak demonstrasi menuntut diwujudkannya emansipasi wanita, katanya kesetaraan gender. Seperti inikah yang diharapkan sang penerang di kala gelap? Entahlah. Pertanyaan pertanyaan itu masih juga belum terjawab, begitu pula dengan sebuah pertanyaan besar dalam hidupku. Mengapa aku dilahirkan di dunia ini? Apa tujuan hidupku? Dan mengapa aku mesti memiliki nama yang sama dengan sang penerang?
            Namaku Kartini, tapi aku bukan ningrat yang menyandang gelar raden ayu. Apakah aku keturunan Kartini yang diidolakan semua  anak bangsa? Bukan. Aku hanya anak Jepara yang terlahir dari keluarga biasa. Tinggal di desa anak seorang petani biasa. Sekolahku tak tinggi, hanya mampu tamat SMK. Sudah setahun lebih aku bekerja di sebuah meubel di Jepara Kota, alhamdulillah keahlianku di bidang akutansi cukup mampu menolongku untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik daripada sekedar buruh amplas atauh buruh semprot.
            Setiap hari ketika pagi dan sore aku selalu melewati tugu Kartini yang masih berdiri tegak di lingkar jalan RA. Kartni, Jalan Pemuda, jalan KS. Tubun dan jalan HOS Cokroaminoto. Dalam perjalanan itu waktuku seringkali tersita dengan berbagai pertanyaan dalam hidup, terutama tentang maksud dari namaku.
            “Happy Kartini Day’s and Happy Birthday Kartini.”
            Teman satu kerjaku, Retha mencium pipi kiri dan kananku. Aku cukup glagapan dengan tingkahnya. Terakhir ia memasukkan sebuah kado besar dan berat ke dalam tasku sambil mengedipkan mata dan tersenyum centil.
            “Terima kasih Retha,” ucapku singkat, Retha kembali tersenyum.
            Mataku masih mengekor sosok patung Kartini yang semakin mengabur. Angkot ini rasanya berjalan terlalu cepat sehingga aku tidak bisa lama-lama menikmati perjumpaanku dengan sang penerang.
            “Kakak sudah pulang?”
            Adikku Sarah yang berumur empat belas tahun menyodorkan segelas air putih untukku. Aku menerimnya, meneguknya air di dalamnya tandas tak bersisa.
            “Adik mau kemana?”
            “Ngaji kak, sebuah kelas pengajian Al Qur’an baru saja di bukak di mushola depan rumah. Ustadznya cakep lho kak, hehehe... Sarah berangkat dulu ya Kak, assalamualaikum,” Sarah mencium punggung tanganku lantas pergi.
            Sebentar mengendorkan badan, aku lantas mandi dan mendirikan salat magrib. Membaca beberapa lembar Al Quran, dilanjut beberapa doa yang aku hapal. Tiba-tiba aku teringat kado pemberian Retha. Aku ambil tas kerja, membuka kado. Ternyata isinya sebuah buku biografi RA. Kartini. Di sana terselip sebuah tulisan tangan Retha yang rapi.
            Aku masih ingat kau pernah bercerita bahwa kau belum juga menemukan jawaban atas pertanyaanmu. Mengapa namamu Kartini? Sahabat aku tidak tau bagaimana cara pasti yang bisa membantumu menjawab pertanyaan itu. Buku ini hanyalah kado sederhana yang semoga bisa membantu menjawab pertanyaanmu. Kartini, jika kedua orang tuamu mengharapkan kau mampu mewujudkan cita-cita RA. Kartini, dan menjadi sosok Kartini masa kini, maka hendaknya kamu harus membaca biografi Kartini. Memahami pemikiran RA. Kartini, memahami apa yang benar-benar dicitakannya, dan memahami pergolakannya. Semangat Kartni J
            Rasa penasaran membuat Kartini segera membuka lembar demi lembar buku biografi itu. Malam semakin larut, ketika ia sudah mencapai cerita masa kanak-kanak kartini. Sebuah paragraf begitu melekat dihatinya.
            Tanda-tanda perjuangan emansipasi yang dilakukan Kartini, telah nampak sejak ia baru berumur enam setengah tahun. Kartini ingin sekolah. Inilah yang menimbulkan kebingungan keluarganya. Sebab pada masa itu, yang boleh sekolah hanya anak laki-laki  dan anak perempuan keturunan Belanda yang boleh sekolah. Sementara anak perempuan orang pribumi, dilarang.
            Membaca paragraf itu membuat aku berpikir tentang mimpi yang sempat aku kubur. Melanjutkan studi. Jika dimasa RA. Kartini, halangan untuk belajar terletak pada tradisi, lain halnya dengan diriku halangan itu ada pada biaya. Aku anak pertama, kedua orang tuaku sudah tiada, aku masih harus menanggung biaya kehidupan keluarga juga sekolah adik-adikku. Ada Sarah yang masih SMP dan ada Faruq yang masih SD. Melanjutkan studi, bisakah  mimpi itu terwujud? S1, S2, hingga S3? Bayang bayang diriku memakai kebaya yang indah bertutup jubah serta toga melayang-layang dalam khayalku. Hingga bayang-bayang itu menghantarkanku terlelap terbuai dengan mimpi indah.
            Disela-sela pekerjaanku aku menyempatkan untuk membaca biografi RA. Kartini. Hasratku untuk menuntaskan buku itu sungguh menggebu-gebu. Kali ini aku sampai pada surat-surat Kartini. Bergetar hatiku membaca surat-surat itu. Membayangkan betapa Kartini amat tersiksa dengan problematika bangsa. Kartini begitu memikirkan nasib kaum perempuan pribumi. Mereka kaum yang mendapatkan perlakuan tidak adil.
            Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
            Kalimat itu begitu melekat di hatinya. Apa maksudnya kalimat itu?
            Sabtu itu, aku pula lebih cepat. Kesempatan ini kemudian aku gunakan untuk jalan-jalan sekedar menikmati suasana kota. Tanpa arah aku berjalan seturut langkah. Langkahku melambat ketika aku menyaksikan, di dalam sebuah balai dengan atap rumbia seorang wanita seumuranku sedangkan mengajar sekelompok anak usia dini. Anak-anak itu terlihat ceria dan bersemangat tak kalah dengan sang guru. Tiba-tiba segerombolan anak itu berpencar, aku masih berdiri mematung, menyaksikan setiap adegan yang diputar dihadapanku. Seorang gadis kecil berkuncir dua, matanya besar dan jernih mengingatkan aku pada Sarah di waktu kecil, menyodorkanku sebungkus permen. Dengan lidah cadelnya ia berkata.
            “Emen, ukak...”
            Aku membungkuk agar lebih dekat dengan gadis kecil itu, aku sobek bungkus permen lalu aku serahkan permen itu untuknya. Ia balik badan, tapi dihalangi oleh sang guru. Guru itu menuntun gadis kecil ke arahku.
            “Ayo bilang apa sama kakak? Makasih...”
            Gadis kecil itu menirukan ucapan sang guru.
“Makashih..”
“Pintar, salim dulu sama kakak,” guru itu mengarahkan tangan gadis kecil arahku, aku menerimanya. “Tiara gabung sama temen-temennya ya disana,” gadis kecil bernama Tiara itu menurut.
“Apakah Mbak calon guru baru disini? Kenalkan namaku Rukmini,” pertanyaan itu membuatku kaget.
“Namaku Kartini, tapi aku bukan calon guru baru Mbak. Aku kesini sekedar jalan-jalan aja, hehe...”
“Oh begitu, tak kira calon guru baru. Maklumlah disini kita kekurangan guru. Barangkali Mbak berminat? Datang aja kesini, minimal lulusan SMA sederajat, sabar, cinta sama anak-anak, itu udah cukup. Oh ya namaku Rukmini namamu Kartini barangkali kita kakak adik? Hehehe...”
“Bisa jadi Mbak, dikehidupan sebelumnya tapi. Atau kita adalah Rukmini dan Kartini masa kini?” balasku dengan canda.
“Wah bisa jadi itu mbak.”
            Mengobrol sebentar aku lantas ijin pamit. Aku terus berjalan tanpa terasa aku sudah berada di depan Tugu Kartini. Menyaksikan sosoknya yang masih tegak berdiri.
            Atau kita adalah Rukmini dan Kartini masa kini?
            Kartini itu adalah namaku, namun apakah aku telah mampu menjadi representasi dari RA. Kartini? Apa sebenarnya yang diharapkan Bapak dan Ibu ketika menamakanku Kartini?
            Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
            Kalimat itu masih terngiang di telingaku. Semakin aku renungkan, yang muncul justru sebuah bayangan tawaran membantu mengajar ngaji anak-anak kampung di mushola depan rumah. Pekerjaan kantor, guru PAUD, guru ngaji? Manakah yang terbaik untukku? Jika aku menjadi guru  PAUD aku harus meninggalkan pekerjaan lamaku. Tapi jika kau menjadi guru ngaji aku tidak harus meninggalkan pekerjaan lamaku. Dunia dapat akhirat dapat. Ya, itu sepertinya keputusan yang bagus dan sesuai untukku. Meski kontribusiku kecil tak sebesar RA. Kartini, tapi aku ingin mengadikan diri untuk negeri ini demi menyongsong peradaban yang lebih baik. Aku, dan perempuan lain negara ini adalah soko guru peradaban, kami adalah guru utama bagi anak-anak kami bagi lingkungan kami. Anak-anak kami itulah yang kemudian akan berwarnai peradaban negeri ini. Di masa kini, berkat suara-suaramu wahai Ibu Kita Kartini, kami perempuan Indonesia telah mempu merasakan manisnya pendidikan setara dengan kaum pria. Tugas berikutnya adalah memanfaatkan fasilitas yang sudah kami terima untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini melalui peran kami sebagai soko guru peradaban. Betapa bahagianya, aku telah menemukan jawaban atas pertanyaan terbesarku. Terima kasih Ibu Kartini tanpamu apa jadinya aku.
***
Biodata Penulis
Noor Salamah, lahir di Kota Ukir Jepara. Putri pasangan Bapak M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah yang berzodiak cancer ini sangat hobi menulis dan membaca. Ia bisa dihubungi melalui fb : salma van licht, twitter :@salma_skylight.


Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com