Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Oktober 2017

Dari Jepara Ramah Literasi Untuk Indonesia Yang Berdikari


Taman Baca Masyarakat (TBM) tak ubahnya titik cahaya yang menerangi ruang tergelap masyarakat. Bagaikan lilin kecil yang menerangi setiap sudut, hingga teranglah bumi ini. Saya membayangkan masyarakat Indonesia tinggal di pulau tanpa cahaya, hingga mata menjadi buta dan langkah terseok-seok. Bukan cahaya dalam arti fisik, tapi cahaya hidup, cahaya ilmu. Bukankah ilmu adalah cahaya dan buku adalah sumber ilmu. Karena buku adalah jendela dunia. Sebaik apapun tayangan televisi yang katanya mendidik, tetap akan berbeda dengan buku. Buku memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh televisi maupun sumber informasi lain. Buku adalah cara tertua untuk mewariskan ilmu. Lalu bagaimana jika masyarakat kita jauh dari akses buku? Jauh dari suka terhadap buku? Jauh dari minat membaca? apalagi jauh dari minat menulis? Jauh dari aktivitas literasi?
Sudah banyak negara maju yang telah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa tak lepas dari pendidikan, dari budaya baca dan literasi. Seperti Jepang, inggris, amerika, dll. Lalu bagaimana  kondisi Indonesia? Dilansir dari data Unesco pada tahun 2012, minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 % yang berarti hanya satu orang di antara 1000 orang yang memiliki minat baca. Bahkan literasi Indonesia berada di urutan kedua dari bawah diantara 65 negara yang diteliti dalam penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA). Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Indonesia akan siap menghadapi bonus demografi yang disebut sebagai generasi emas? Yakin generasi 2045 bisa menjadi generasi emas melihat kondisinya masih seperti ini?
Saya kagum dan salut sekali, kepada teman-teman yang gigih berjuang lewat TBM demi mempersiapkan bonus demografi untuk Indonesia hebat. Seperti yang di lakukan oleh Bu Tirta (Warung Pasinaon), Den Hasan (RBI), Mbak Lizna (RBC), Mbak Desi (Imara), Mbak Anis (Tabaca) dll. Seringkali saya malu sendiri, kata hati berkata, “Lho Sal, dirimu yang lulusan PLS harusnya bisa lakukan kayak mereka juga dong.” Lalu di jawablah oleh saya sendiri, “Iya, semua ada masanya kok. Sekarang nabung buku dan pengalaman dulu. Besok bareng suami bakal berjuang bareng-bareng.” Diskusi dalam khayalan pun terputus, tersebab sesuatu yang masih rahasia. Hehehe. Ngerasa lebih adem ces pleng lagi ketika ditawari jadi ranger (relawan) untuk bantu kegiatan TBM. Intinya enggak usah nunggu punya TBM baru bergerak dan berjuang mewujudkan Jepara ramah literasi. Apapun sekecil apapun yang dilakukan asal bermanfaat, itu sudah lebih baik daripada hanya diam.
Saya ingin sedikit bercerita, tentang awal mula saya yang enggak punya TBM kok bisa gabung di komunitas TBM Jepara. Hari itu adalah hari buku. Kebetulan teman facebook saya Mas Redy Kuswanto sedang mengadakan give away dengan hadiah buku terbarunya “101 Dongeng Sebelum Tidur” yang berisi 80 dongeng Nusantara dan 21 dongeng mancanegara. Sejak lihat covernya jauh-jauh hari saya sudah naksir. Namun saya belum bisa beli, karena uang sedang dianggarkan untuk yang lain. Kebetulan pas ada GA iseng-iseng saya coba ikut, syaratnya menuliskan harapan tentang perbukuan di Indonesia. Dari tulisan itu saya kemudian update status tentang cita-cita saya mendirikan TBM. Bukan main beruntungnya saya ketika kemudian Den Hasan menawari mengajak acara diskusi TBM bersama Bu Tirta di Dewan Kerja Jepara.  Dan beruntung pula karena meski telat saya masih sempat ikut acara itu. Peserta yang hadir kemudian sepakat membuat grup WhatsApp sebagai ajang komunikasi. Diskusi berlanjut hingga visi untuk membentuk  Jepara ramah literasi.
Berdasarkan pertemanan yang sederhana itu, saya kemudian dapat menyimpulkan bahwa tidak penting kamu lulusan apa, dari sekolah mana, bagaimana status sosialmu, asal bisa menjadikan hidup yang amat singkat ini menjadi bermanfaat untuk sesama, bangsa dan agama. Itu baru hebat. Karena mereka yang hebat bukan mereka yang berdasi, berlabel PNS, atau memilki rekening gendut. Mereka yang hebat adalah mereka yang tak henti belajar dan mengabdi. Banyak belajar banyak berbagi. Dan semua itu kuncinya hanya mau, mampu dan menyempatkan. Sebagaimana apa yang di dawuhkan oleh Abah M. Masyrokhan (Pengasuh PP. Durrotu Aswaja Gunungpati Semarang) bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan adalah pengorbanan. Pengorbanan adalah keihkhlasan. Keikhlasan adalah ruh penggerak kehidupan. Hidup itu indahnya menggarap PR surga.
Memiliki kemauan, niat, tekad, adalah awal membuka jalan. Banyak tokoh anime seperti Naruto dan Luffy (one piece) mampu melampaui batas kekuatan mereka karena tekad mereka kuat dan kokoh. Apalagi kemauan yang baik, niat yang sholih itu akan membuka 70 pintu hidayah Allah. Dan barang siapa yang mendapat hidayah tentulah mendapat kemuliaan dari Allah. Hal tersebut disampaikan oleh Al Habib Hasan Al Jufry (Semarang) dalam majlis selapanan Nurusholihin di Masjid Agung Jepara. Selanjutnya adalah kemampuan. Kemampuan bisa dimiliki dengan belajar. Namun yang tersulit dari semua itu adalah menyempatkan, istiqomah. Mempertahankan TBM tetap eksis, bermanfaat dan menarik minat warga. Karena kecenderungan setiap orang adalah mementingkan ego sendiri dan mudah bosan.
Saya berharap visi Jepara ramah literasi, dapat terwujud. Tentu hal tersebut membutuhkan bantuan dan kerjasama dari semua pihak tidak saja TBM di Jepara namun juga keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat Jepara pada umumnya. Dari Jepara ramah literasi untuk Indonesia yang berdikari.
Jepara, 29 Juli 2017
Identitas Penulis
Noor Salamah, atau akrab juga disapa Salma. Saking lebih populer nama akun medsosnya Salma Van Licht daripada nama aslinya. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadikan hidup lebih bermaanfaat dan berguna. Lahir bulan Juni tahun 1994, berzodiak cancer. Bercita-cita sebagai penulis dan mendirikan TBM.
Read More

Jumat, 01 April 2016

The Chronicle of Kartini



Sebenarnya buku ini sudah sering aku lihat rak perpustakaan daerah Jepara. Namun entah mengapa aku belum tersentuh untuk membacanya, baru beberapa hari yang lalu aku akhirnya memilih buku ini menjadi salah satu buku yang aku pinjam. Buku berjudul “The Chronicle of Kartini” karya Wiwid Prasetyo. Sebuah novel tentang tokoh perempuan besar Jepara, yang namanya akan selalu harum dan akan selalu terpatri dalam ingatan, Kartini. Novel ini cetak pertama kali pada September 2010, diterbitkan oleh penerbit Laksana salah satu anak perusahaan Divapress.
Baru-baru ini saya memang sedang tertarik pada novel sejarah, mengenal pertama kali novel sejarah melalui karya Pramoedya Ananta Toer. Dan saat ini saya sedang terpikat oleh karya Krisna Langit Hariadi.
Kembali lagi ke novel The Chronicle of Kartini, novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang gadis ningrat yang penuh gejolak pemberontakan. Ia berusaha keras membebaskan diri dari kungkungan adat Jawa yang membuatnya terperangkan dalam penjara istana, terhalang untuk menggapai cita-citanya bersekolah. Seorang gadis ningrat pengubah wajah wanita Jawa dan pencetus sekolah wanita pertama. Ialah Kartini anak dari seorang Bupati Jepara yang bernama Sosronigrat. Secara garis besar novel ini menarik, jalan ceritanya baik. Hanya sebagai seorang penulis novel berlatar belakang secara apalagi yang angkat ceritanya adalah tokoh penting, novel tersebut haruslah dapat dipertanggung jawabkan. Dari sisi sejarahnya, benarkah peristiwa-peristiwa itu, di tulisan dari sumber mana. Inilah satu kekurangan dari novel ini, tidak disertakannya sumber referensi, pun tidak ada ada biodata penulis sehingga bisa dijadikan penimbang tingkat kepercayaan atas isi novel, selain itu yang membuat saya kurang nyaman membaca novel ini adalah ketidak konsistenan penulis dalam memposisikan diri, apakah sebagai orang pertama, kedua, atau ketika semuanya serba tumpang tindih.

Menyajikan biografi tokoh hebat melalui novel memang sebuah cara jitu jika ingin memberikan pembelajaran pada pembaca dengan cara yang menyenangkan. Dengan mudah pemikiran-pemikiran sang tokoh, nilai-nilai moral dan pesan lainnya akan dapat dicerna oleh pembaca. Oleh karena itu amat riskan apabila pembaca yang terlalu polos secara gamblang menerima saja apa-apa yang tersaji sekalipun itu keliru.
Read More

Kamis, 30 April 2015

Memaknai Kartini di Era Globalisasi

Memaknai Kartini di Era Globalisasi

“Habis gelap terbitlah terang,” quotes itu begitu terkenal dan melekat erat dengan sosok Kartini. Namun tak banyak orang yang tau dengan quotes Kartini yang lain yaitu, “Perempuan itu jadi soko guru peradaban.” Quotes itu ditulis Kartini dalam sebuah suratnya yang dikirim kepada Abendanon pada tanggal 21 Januari 1901. Pernyataan itu menjelaskan bahwa jauh dimasanya Kartini telah berpikir tentang kemajuan bangsanya, Bangsa Indonesia, dan kemajuan bangsa tidak akan lepas dari peran seorang wanita sebagai pendidik di dalam keluarga.
Tugas utama Ibu adalah mendidik anak. Ia adalah guru pertama dan yang utama. Ironis bila pendidikan anak yang nantinya akan jadi penentu peradaban bangsa justru diserahkan kepada orang lain, baby sitter misalnya hanya karena orang tua terutama Ibu sibuk dengan pekerjaannya. Berdasarkan data dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi diketahui jumlah wanita bekerja pada tahun 2006 sejumlah 33.312.775.000 orang. Berdasarkan hasil penelitian Deni (2008), terkait dampak peran ganda pada ibu bekerja menunjukkan bahwa 1) Bagi ibu yang berperan ganda, keluaga dan pekerjaan sama pentingnya, meski begitu keluarga tetap menjadi prioritas utama. 2) Usia anak sangat berpengaruh pada tingkat bersalah kecemasan dan kesedihan yang dialami ibu bekerja. 3) Penyebab utama stres pada ibu bekerja adalah perannya sebagai pekerja yang meliputi beban pekerkaan dan konflik rekan kerja namun keluarga yang menjadi "kambing hitam". 4) Ketidakberdayaan muncul sebagai akibat dari frustasi yang dialami ibu bekerja karena tidak mampu menjalankan perannya dengan maksimal. 5) kondisi ekstrim yang sangat berpengaruh pada kondisi ibu bekerja dalam menjalankan peran gandanya adalah ketika anak sedang sakit. 6) Sekalipun lebih banyak dampak negatif dibandingkan dampak postif yang muncul saat menjalankan peran gandanya namun tidak semua ibu bekerja bersedia meninggalkan pekerjaannya.
Meskipun ibu bekerja tetap memprioritaskan keluarga namun padanya kenyataanya ketika terdapat masalah seputar pekerjaan keluarga pulalah yang menjadi kambing hitam. Dalam kondisi seperti ini siapakah yang mampu menenangkan sang Ibu? Apakah ayah? Sangat riskan jika pada saat itu Ayah juga mengalami masalah dengan pekerjaannya. Konflik bukannya mereda tapi justru semakin memanas. Akibat terparah yang muncul adalah perceraian. Lagi keluarga terutama anak menjadi korban.
Apakah Tenaga Kerja Wanita (TKW) penyumbang devisa terbesar negara adakah sosok Kartini di era globalisasi?
Jika predikat Kartni dilekatkan dengan indikator pengabdian kepada negara dan seberapa besar ia menyumbang uang untuk negara, barangkali TKW termasuk sosok Kartini di era globalisasi. Namun, apakah kriteria itu benar-benar mencerminkan Kartini? Jika dilihat dari pemikiran Kartini, betapa Kartini begitu memperhatikan kaum perempuan terutama nasib dan pendidikannya hal ini didasari bahwa Kartini percaya perempuan adalah soko guru peradaban. Kartini sadar betul bahwa seorang Ibu secara kodrati adalah seorang pendidikan yang pertama dan pertama. Keberhasilan pendidikan anak tidak akan lepas dari seberapa terdidiknya sang Ibu. Keberhasilan pendidikan anak inilah yang kemudian menjadi penentu maju tidaknya peradaban sebuah bangsa.
Apakah kondisi seperti ini dimana banyak ibu menjalani peran ganda, menjadikan keluarga sebagai kambing hitam dikala ada masalah pekerjaan, rasa frustasi yang seringkali muncul, serta dampak negatif lainnya merupakan bentuk emansipasi yang diharapkan dari Kartini?
Bukan maksud penulis melarang wanita untuk bekerja. Namun sebagai wanita yang cerdas dan tau kodrat, seorang wanita harus pintar memilih pekerjaan. Mencari nafkah adalah tugas utama Ayah, Ibu hanya membantu sedangkan fungsi utama ibu dalam keluarga adalah mendidik anak, sebaliknya Ayah hanya membantu. Pernyataan ini juga tidak bermaksud mengesampingkan peran Ayah sebagai seorang pendidik, bagaimana pun keberhasilan pendidikan anak sangat dipengaruhi oleh kedua orang tua. Mengapa peran Ibu lebih dominan dalam usaha pendidikan anak? Karena sejak di dalam kandungan anak telah mendapatkan pendidikan dari sang Ibu. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah jenis pekerjaan apakah yang bisa dijalankan seorang Ibu agar tetap mampu menjalankan perannya sebagai pendidik secara optimal? Ada banyak sekali jenis pekerjaan di dunia ini, setidaknya kriteria yang bisa digunakan untuk menjadi masukan bagi ibu bekerja adalah sebagai berikut ;
1.      Prosentase waktu bekerja lebih sedikit daripada prosentase waktu di rumah bersama keluarga
2.      Jenis pekerjaan tidak terlalu mengikat sang Ibu, akan lebih baik jika Ibu menjadi pengusaha home industry yang bebas dan bisa mengatur waktunya sendiri tanpa aturan dari siapapun
3.      Libatkan sang anak dalam pekerjaan sang Ibu, hal ini akan membuat anak paham kondisi Ibu di dalam keluarga selain itu menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi anak tentang nilai-nilai kerja keras dan berbakti pada orang tua
4.      Hindari pekerjaan yang menuntut waktu lebih lama di luar rumah seperti TKW, buruh yang seringkali lemburan
5.      Libatkan Ayah-suami dalam memutusakan pekerjaan, karena mau tidak mau jika nanti Ibu tidak mampu menjalankan perannya maka Ayahlah yang akan mengambil alih peran Ibu.
6.      Ibu yang mawas diri haruslah mampu bertindak profesional dengan tidak mencampur adukkan urusan/masalah pekerjaan dengan urusan rumah
7.      Jika memang sangat terpaksa delegasikankan anak kepada orang yang dipercaya, bisa orang tua, saudara, tetangga atau baby sitter.
Sekali lagi, yang diharapkan Kartini adalah seorang Ibu yang mampu menjalankan perannya sebagai pendidik secara optimal terlebih di era globalisasi yang seluruh informasi entah baik atau buruk membaur menjadi satu. Ironis ketika penulis membaca dalam sebuah artikel bahwa ada ibu baru yang lebih mempercayakan mekanisme perlakuan kepada anaknya yang masih kecil berdasarkan informasi di internet semata. Ironis pula bila predikat wanita hebat lebih dilekatkan pada sosok wanita yang hanya sukses karirnya di dunia saja. Wanita yang hebat adalah wanita yang sukses menghantarkan suami dan anak-anaknya menjadi pribadi yang hebat, membanggakan agama, bangsa dan negara, mewujudkan peradaban bangsa sesuai dengan yang dicita-citakan. Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
***
Daftar Pustaka : Ratnawati, Deni. 2008. Dampak Peran Ganda Pada Ibu Bekerja. Semarang : Skripsi Universitas Katolik Sugiprajanoko.
***
Biodata Penulis
Noor Salamah, lahir di Kota Ukir Jepara. Putri pasangan Bapak M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah yang berzodiak cancer ini sangat hobi menulis dan membaca. Ia bisa dihubungi melalui fb : salma van licht, twitter :@salma_skylight.

                                                                                                                           
Read More

Jepara Kota Kartini

Jepara Kota Kartini

Tersebutlah Kartini, maka orang akan ingat Jepara
Bukan Kartini pemiliki pasir putih yang indah
Bukan pula Kartini pemilik kura-kura yang gagah
Ia Kartini sang penyuluh suci sang penyuluh budi
Jepara tentu bangga memiliki putri seperti Kartini
Penerus perjuangan Ratu Shima juga Ratu Kalinyamat yang kharismatik

Jepara tak rindukah kau pada Kartini?
Ataukah kau kini telah temukan sosok Kartini dalam diri putri-putrimu?
Apakah sosok itu kau temukan dalam ajang pemilihan putra-putri Jepara?
Atau kau temukan sosok itu dalam diri seorang guru yang tengah mendidik bangsamu?
Ataukah kau temukan sosok itu dalam diri seorang ibu yang sedang berjuang mendidik anaknya?

Kartini, dengan obornya yang terus membara ia tegak berdiri di jantung peradaban Jepara
Menjadi saksi hasil pendidikan bangsa
Tak miriskah engkau Kartini melihat putri-putrimu berlalu lalang dengan rok mini?
Muda-mudi menyudutkan diri di sudut kota yang remang-remang?
Apakah pendidikan seperti ini yang kau harapkan terwujud?
Sebuah pendidikan yang terus kau perjuangan.
Ahh Kartini, barangkali bangsa ini telah membuatmu terluka lagi kecewa
Tentulah dalam diammu dalam tegak tegarmu kau teteskan air mata untuk bangsamu
***
Biodata Penulis

Noor Salamah, lahir di Kota Ukir Jepara. Putri pasangan Bapak M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah yang berzodiak cancer ini sangat hobi menulis dan membaca. Ia bisa dihubungi melalui fb : salma van licht, twitter :@salma_skylight.
Read More

Kartini Masih Tegak Berdiri

Kartini Masih Tegak Berdiri

Dari kecil hingga aku dewasa, ia masih saja tegak berdiri. Tangannya memegang obor sedangkan satu tangan lainnya memegang erat lengan seorang anak kecil. Aku tak tau pun aku tak kenal siapakah anak kecil yang mendapat kehormatan dipegang oleh sang penerang di kala gelap. Apakah aku iri kepada si anak kecil itu, tidak buat apa aku iri. Apakah aku cemburu, entahlah barang kali iya.
Hari ini genap sudah 136 sang penerang itu hadir dengan obor mimpi dan cita-citanya, sudah sangat tua namun ia masih tegak berdiri. Ia masih saja awet muda, dan anak kecil itu tak kunjung dewasa jua. Ia menjadi saksi perjalanan peradaban negeri ini. Apakah pencapaian peradaban bangsa ini sekarang sudah sesuai dengan yang dicita-citakannya dahulu, entahlah. Banyak demonstrasi menuntut diwujudkannya emansipasi wanita, katanya kesetaraan gender. Seperti inikah yang diharapkan sang penerang di kala gelap? Entahlah. Pertanyaan pertanyaan itu masih juga belum terjawab, begitu pula dengan sebuah pertanyaan besar dalam hidupku. Mengapa aku dilahirkan di dunia ini? Apa tujuan hidupku? Dan mengapa aku mesti memiliki nama yang sama dengan sang penerang?
            Namaku Kartini, tapi aku bukan ningrat yang menyandang gelar raden ayu. Apakah aku keturunan Kartini yang diidolakan semua  anak bangsa? Bukan. Aku hanya anak Jepara yang terlahir dari keluarga biasa. Tinggal di desa anak seorang petani biasa. Sekolahku tak tinggi, hanya mampu tamat SMK. Sudah setahun lebih aku bekerja di sebuah meubel di Jepara Kota, alhamdulillah keahlianku di bidang akutansi cukup mampu menolongku untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik daripada sekedar buruh amplas atauh buruh semprot.
            Setiap hari ketika pagi dan sore aku selalu melewati tugu Kartini yang masih berdiri tegak di lingkar jalan RA. Kartni, Jalan Pemuda, jalan KS. Tubun dan jalan HOS Cokroaminoto. Dalam perjalanan itu waktuku seringkali tersita dengan berbagai pertanyaan dalam hidup, terutama tentang maksud dari namaku.
            “Happy Kartini Day’s and Happy Birthday Kartini.”
            Teman satu kerjaku, Retha mencium pipi kiri dan kananku. Aku cukup glagapan dengan tingkahnya. Terakhir ia memasukkan sebuah kado besar dan berat ke dalam tasku sambil mengedipkan mata dan tersenyum centil.
            “Terima kasih Retha,” ucapku singkat, Retha kembali tersenyum.
            Mataku masih mengekor sosok patung Kartini yang semakin mengabur. Angkot ini rasanya berjalan terlalu cepat sehingga aku tidak bisa lama-lama menikmati perjumpaanku dengan sang penerang.
            “Kakak sudah pulang?”
            Adikku Sarah yang berumur empat belas tahun menyodorkan segelas air putih untukku. Aku menerimnya, meneguknya air di dalamnya tandas tak bersisa.
            “Adik mau kemana?”
            “Ngaji kak, sebuah kelas pengajian Al Qur’an baru saja di bukak di mushola depan rumah. Ustadznya cakep lho kak, hehehe... Sarah berangkat dulu ya Kak, assalamualaikum,” Sarah mencium punggung tanganku lantas pergi.
            Sebentar mengendorkan badan, aku lantas mandi dan mendirikan salat magrib. Membaca beberapa lembar Al Quran, dilanjut beberapa doa yang aku hapal. Tiba-tiba aku teringat kado pemberian Retha. Aku ambil tas kerja, membuka kado. Ternyata isinya sebuah buku biografi RA. Kartini. Di sana terselip sebuah tulisan tangan Retha yang rapi.
            Aku masih ingat kau pernah bercerita bahwa kau belum juga menemukan jawaban atas pertanyaanmu. Mengapa namamu Kartini? Sahabat aku tidak tau bagaimana cara pasti yang bisa membantumu menjawab pertanyaan itu. Buku ini hanyalah kado sederhana yang semoga bisa membantu menjawab pertanyaanmu. Kartini, jika kedua orang tuamu mengharapkan kau mampu mewujudkan cita-cita RA. Kartini, dan menjadi sosok Kartini masa kini, maka hendaknya kamu harus membaca biografi Kartini. Memahami pemikiran RA. Kartini, memahami apa yang benar-benar dicitakannya, dan memahami pergolakannya. Semangat Kartni J
            Rasa penasaran membuat Kartini segera membuka lembar demi lembar buku biografi itu. Malam semakin larut, ketika ia sudah mencapai cerita masa kanak-kanak kartini. Sebuah paragraf begitu melekat dihatinya.
            Tanda-tanda perjuangan emansipasi yang dilakukan Kartini, telah nampak sejak ia baru berumur enam setengah tahun. Kartini ingin sekolah. Inilah yang menimbulkan kebingungan keluarganya. Sebab pada masa itu, yang boleh sekolah hanya anak laki-laki  dan anak perempuan keturunan Belanda yang boleh sekolah. Sementara anak perempuan orang pribumi, dilarang.
            Membaca paragraf itu membuat aku berpikir tentang mimpi yang sempat aku kubur. Melanjutkan studi. Jika dimasa RA. Kartini, halangan untuk belajar terletak pada tradisi, lain halnya dengan diriku halangan itu ada pada biaya. Aku anak pertama, kedua orang tuaku sudah tiada, aku masih harus menanggung biaya kehidupan keluarga juga sekolah adik-adikku. Ada Sarah yang masih SMP dan ada Faruq yang masih SD. Melanjutkan studi, bisakah  mimpi itu terwujud? S1, S2, hingga S3? Bayang bayang diriku memakai kebaya yang indah bertutup jubah serta toga melayang-layang dalam khayalku. Hingga bayang-bayang itu menghantarkanku terlelap terbuai dengan mimpi indah.
            Disela-sela pekerjaanku aku menyempatkan untuk membaca biografi RA. Kartini. Hasratku untuk menuntaskan buku itu sungguh menggebu-gebu. Kali ini aku sampai pada surat-surat Kartini. Bergetar hatiku membaca surat-surat itu. Membayangkan betapa Kartini amat tersiksa dengan problematika bangsa. Kartini begitu memikirkan nasib kaum perempuan pribumi. Mereka kaum yang mendapatkan perlakuan tidak adil.
            Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
            Kalimat itu begitu melekat di hatinya. Apa maksudnya kalimat itu?
            Sabtu itu, aku pula lebih cepat. Kesempatan ini kemudian aku gunakan untuk jalan-jalan sekedar menikmati suasana kota. Tanpa arah aku berjalan seturut langkah. Langkahku melambat ketika aku menyaksikan, di dalam sebuah balai dengan atap rumbia seorang wanita seumuranku sedangkan mengajar sekelompok anak usia dini. Anak-anak itu terlihat ceria dan bersemangat tak kalah dengan sang guru. Tiba-tiba segerombolan anak itu berpencar, aku masih berdiri mematung, menyaksikan setiap adegan yang diputar dihadapanku. Seorang gadis kecil berkuncir dua, matanya besar dan jernih mengingatkan aku pada Sarah di waktu kecil, menyodorkanku sebungkus permen. Dengan lidah cadelnya ia berkata.
            “Emen, ukak...”
            Aku membungkuk agar lebih dekat dengan gadis kecil itu, aku sobek bungkus permen lalu aku serahkan permen itu untuknya. Ia balik badan, tapi dihalangi oleh sang guru. Guru itu menuntun gadis kecil ke arahku.
            “Ayo bilang apa sama kakak? Makasih...”
            Gadis kecil itu menirukan ucapan sang guru.
“Makashih..”
“Pintar, salim dulu sama kakak,” guru itu mengarahkan tangan gadis kecil arahku, aku menerimanya. “Tiara gabung sama temen-temennya ya disana,” gadis kecil bernama Tiara itu menurut.
“Apakah Mbak calon guru baru disini? Kenalkan namaku Rukmini,” pertanyaan itu membuatku kaget.
“Namaku Kartini, tapi aku bukan calon guru baru Mbak. Aku kesini sekedar jalan-jalan aja, hehe...”
“Oh begitu, tak kira calon guru baru. Maklumlah disini kita kekurangan guru. Barangkali Mbak berminat? Datang aja kesini, minimal lulusan SMA sederajat, sabar, cinta sama anak-anak, itu udah cukup. Oh ya namaku Rukmini namamu Kartini barangkali kita kakak adik? Hehehe...”
“Bisa jadi Mbak, dikehidupan sebelumnya tapi. Atau kita adalah Rukmini dan Kartini masa kini?” balasku dengan canda.
“Wah bisa jadi itu mbak.”
            Mengobrol sebentar aku lantas ijin pamit. Aku terus berjalan tanpa terasa aku sudah berada di depan Tugu Kartini. Menyaksikan sosoknya yang masih tegak berdiri.
            Atau kita adalah Rukmini dan Kartini masa kini?
            Kartini itu adalah namaku, namun apakah aku telah mampu menjadi representasi dari RA. Kartini? Apa sebenarnya yang diharapkan Bapak dan Ibu ketika menamakanku Kartini?
            Perempuan itu jadi soko guru peradaban.
            Kalimat itu masih terngiang di telingaku. Semakin aku renungkan, yang muncul justru sebuah bayangan tawaran membantu mengajar ngaji anak-anak kampung di mushola depan rumah. Pekerjaan kantor, guru PAUD, guru ngaji? Manakah yang terbaik untukku? Jika aku menjadi guru  PAUD aku harus meninggalkan pekerjaan lamaku. Tapi jika kau menjadi guru ngaji aku tidak harus meninggalkan pekerjaan lamaku. Dunia dapat akhirat dapat. Ya, itu sepertinya keputusan yang bagus dan sesuai untukku. Meski kontribusiku kecil tak sebesar RA. Kartini, tapi aku ingin mengadikan diri untuk negeri ini demi menyongsong peradaban yang lebih baik. Aku, dan perempuan lain negara ini adalah soko guru peradaban, kami adalah guru utama bagi anak-anak kami bagi lingkungan kami. Anak-anak kami itulah yang kemudian akan berwarnai peradaban negeri ini. Di masa kini, berkat suara-suaramu wahai Ibu Kita Kartini, kami perempuan Indonesia telah mempu merasakan manisnya pendidikan setara dengan kaum pria. Tugas berikutnya adalah memanfaatkan fasilitas yang sudah kami terima untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini melalui peran kami sebagai soko guru peradaban. Betapa bahagianya, aku telah menemukan jawaban atas pertanyaan terbesarku. Terima kasih Ibu Kartini tanpamu apa jadinya aku.
***
Biodata Penulis
Noor Salamah, lahir di Kota Ukir Jepara. Putri pasangan Bapak M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah yang berzodiak cancer ini sangat hobi menulis dan membaca. Ia bisa dihubungi melalui fb : salma van licht, twitter :@salma_skylight.


Read More

Jumat, 20 Desember 2013

Mumu Chan

Sebuah kreasi untuk memenuhi tugas ketika masih bersekolah di SMK Islam Jepara pada jurusan Multimedia. Meniru mimik expresi dikomik Sugar Pot yang aku pinjam di Perpusda. Mulailah aku berkarya, dan dnegan sedikit sentuhan photoshop, taraaaa ..







Read More

Ukiran motif Jepara

Teringat dulu ketika aku masih bersekolah di SMP N 5 Jepara, dimana disitu ada pelajaran ukir. Setiap pertemuan kami diminta untuk membuat gambar ukiran. dan inilah salu satu gambarku, yang kemudian aku warnai melalui Photoshope. Aku pikir ini adalah ukiran motif Jeprara :)


Read More

Senin, 25 November 2013

Ombrophobia

Saya menyukai hujan, terlebih gerimis. Maka ketika saya mendapatkan informasi bahwa ada lomba cerpen bertema hujan. Saya tertarik untuk mencoba. Namun sayangnya, partisipasi saya mengirimkan cerpen ini tidak membuahkan hasil. Saya tak berhasil masuk nominasi. Cerpen itu pun akhirnya kembali tersimpan rapi di lapyku tercinta. 
Kesemapatan lain datang dari Ikatan Santri Aswaja Jepara (Iswara), yang menagdakan lomba cipta cerpen puisi satu tema dengan hadiah juara pertama Rp.100.00,00. Cukuplah bagi saya yang sedang mencari pengalaman serta mengukur kemampuan diri. Namun permasalahan lain datang, saya belum menciptakan puisinya. Malam itu dengan meminjam lapy teman karena lapyku sendiri rusak, saya ngebut membuat puisi. 
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com