Inna a’malu binniatSegala sesuatu berawal dari niat. Memang apa yang kita dapatkan sepadan dengan niat kita. Maka dari itu niat menjadi kunci pertama gerbang pembuka kita dalam beramal.
Tulisan ini merupakan beberapa ilmu yang saya dapat ketika pergi ke acara Pesantren Kilat bertempat di Gedung Darul Aitam Jalan Mas Mansyur Jakarta yang merupakan serangkaian acara Majlis Rosulullah.
Betapa pentingnya perihal niat tersebut, maka dalam ta’lim yang di isi oleh ustadzah Khalimah salah seorang alumnis Tarim Yaman menjelaskan bahwa ketika ta’lim/muta’allilm (belajar/mengajar) hendaklah kita niatkan untuk ;
1. Mengambil/memberikan kemanfaatan
2. Mengambil/memberikan peringatan
3. Saling menganjurkan pada kebaikan
4. Menunjukkan dalam kebenaran
5. Mengharap ridlo Allah
6. Mencari pahala disisi Allah
7. Mencari kematian yang khusnul khotimah
8. Mendekatkan diri kepada Allah
Begitulah yang saya tangkap dari dari pembahasan niat tersebut, semoga bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label pondok pesantren durrotu ahlissunnah waljamaah banaran sekaran gunungpati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pondok pesantren durrotu ahlissunnah waljamaah banaran sekaran gunungpati. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 November 2014
by noor salamah
Niat Dalam Ta’lim/muta’allilm
Rabu, 03 September 2014
by noor salamah
Lillah Maka Takkan Lelah
Lillah Maka Takkan Lelah
“فَبِآَيِّ
ءَالآءِ رَبِّكُماَ تُكَذِّباَنِ”
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Rizqi
menutup Al Qur’an. Sejenak ia terdiam, merenungi sebuah kalimat yang terus
diulang-ulang dalam surat yang baru saja selesai ia baca, Surat Ar Rahman.
Kurang lebih tiga puluh satu kali kalimat itu di ulang.
Rizqi
merasa bahwa begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan padanya, nikmat Islam,
nikmat iman, nikmat sehat, dan kenikmatan lain yang tak mampu ia jabarkan satu
persatu.Rizqi bersyukur, mimpinya sedari semester dua kini telah terwujud.
Menjadi Mahasiswa Prestasi Universitas Negeri Semarang Tahun 2014. Baginya
semua tidak lepas dari doa dan dukungan orang-orang di sekitarnya.
“Kang Rizqi..”
“Nggih
pripun Kang?” Rizqi menoleh, menatap Ryan.
“Mangkeh
dalu saged nderek tampil sareng Addurrota?”
“Ngih Kang Insyaallah, saged.”
“Oh ya, selamat ya Kang atas
prestasinya menjadi Mapres. Semoga mberkahi jangan lupa syukurannya.”
Ryan tersenyum menjabat tangan Rizqi.
“Insyaallah
Kang, semoga karunia ini dapat membawa berkah bagi kita semua. Aamiin.”
Hari
sudah sore. Rizqi melihat jam di dinding aula, jam 15.35 WIB. Saatnya ia pergi,
berbagi ilmu dengan teman-temannya di English Rehearsel Club (ERC).
“Assalamualaikum,
saya Wahyu dari Pendidikan Geografi. Mas, boleh dong dibagi pengalamannya
sehingga bisa menjadi Mapres. Apa sih tips dan triknya?”
Adik
tingkat Rizqi itu terlihat begitu antusias menunggu jawaban dari Rizqi.
“Tips
pertama, harus tau kriteria penilaian. Adapun yang termasuk dalam poin penilaian
adalah IPK di atas 3,5, karya ilmiah, prestasi yang diunggulkan dan kemampuan
bahasa Inggris. Tips kedua, maksimalkan potensi yang kamu miliki. Jika kamu
pandai dalam menulis karya ilmiah, maksimalkanlah. Ikuti berbagai even guna
mengasah kemampuan menulismu. Tips ketiga, jika kamu lemah dalam satu poin
kriteria penilaian sebisa mungkin unggulkanlah poin yang lain. Keempat, berdoa.
Jangan lupa selalu minta doalah pada orang tua terlebih Ibu. Karena berkat doa
dan restu Ibulah insyaallah segala urusan akan dipermudah oleh Allah. Kelima,
pinter ngatur niat. Masalah urusan niat, guru saya Abah Kiai M. Masrokhan
pernah berkata, ‘Segala yang kita lakukan hendaknya diniatkan untuk nyari
sangu akhirat’ maka insyaallah akan diberi kemudahan. Berbeda hasilnya,
jika niat kita adalah untuk pamer kesombongan. Ada saja hal yang mencegah kita
untuk meraih apa yang kita inginkan.”
Sosok
Wahyu yang tersenyum senang, membawa Rizqi bercermin pada masa lalu. Wahyu
serupa dengan Rizqi dahulu. Antusias, enerjik, dan penuh semangat berprestasi.
Rizqi
terheran-heran. Di pandangnya sosok yang tak asing lagi baginya. Sosok itu,
laki-laki berkulit putih, berwajah cerah, cukup tinggi dan memiliki suara yang
khas. Rizqi tidak menemukan sosok itu dalam bingkisan peci hitam seperti yang
selalu ia lihat tiap selasa sore. Rizqi menemukan sosok itu dalam padanan
celana hitam, kemeja putih dengan rambut tersisir rapi. Dalam suasana berbeda,
Rizqi menemukan sosok itu menjadi berbeda. Sosok itu tidak sedang duduk di
balik meja kecil menjelaskan kitab I’dhotun Nasii’n. Sosok itu sedang
menerangkan tentang konsep diri, salah satu materi yang diberikan dalam acara
pelatihan yang sedang ia ikuti. Dialah Eko Heriyanto, senior Rizqi yang dulu pernah
menjadi Mapres dan sekarang bekerja di LP3 Pusat Bahasa Unnes.
“Acara
selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Kami membuka satu termin yang terdiri dari
tiga penanya. Silahkan bagi peserta yang ingin bertanya.” Ucap moderator. Serentak
tangan-tangan teracung. “Silahkan kepada peserta yang duduk paling depan
mengenakan batik biru.”
“Terima
kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Perkenalkan saya Mochamad Rizqi Adhi Pratama,
mahasiswa jurusan Bahasa Inggris semester dua. Bisakah kakak bagi kepada kami tips
dan trik agar bisa menjadi Mapres?”
bukan bermaksud bertanya tentang hal yang klise, tapi memang pertanyaan itulah
yang terlintas pertama kali di benak Rizqi.
Semenjak
saat itu, Rizqi mulai terlibat diskusi serius dengan Eko. Seorang ustad di pondok
pesantren tempat dia belajar yang juga senior Rizqi di kampus. Sosok Eko begitu
Rizqi kagumi, ialah yang kemudian menginspirasi untuk terus berprestasi dunia
dan akhirat.
“Kang, masih ingat dengan saya?”
Perhatiannya
kini beralih dari standart motor ke asal suara. Parkiran pondok cukup sepi kala itu.
Tak banyak orang disana. Hanya ada Rizqi dan sosok yang berdiri di hadapannya. Rizqi rasa, sosok tersebut tidak asing dalam ingatannya. Namun Rizqi lupa
siapa namanya dan dimana mereka pernah bertemu.
“Saya
Wahyu, mahasiswa Pendidikan Geografi semester dua yang juga salah satu santri
pondok pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah.”
“Ah
iya saya ingat, kamu salah satu peserta ERC yang tadi nanya to?”
“Iya
Kang, sebenarnya selain apa yang saya tanyakan tadi masih banyak ilmu yang
pengen saya gali dari njenengan.”
“Monggo,
tapi saya juga sedang menggali ilmu dari banyak orang.”
“Saya
itu begitu heran dan terkagum-kagum sama njenengan. Dengan kesibukan
kuliah dan kesibukan di pondok tapi njenengan tetap bisa terus
berprestasi. Menjadi Kartono Terbaik FBS Unnes 2012, Papika, Mapres, Denok dan Kenang,
Duta Wisata, Duta Bahasa, belum lagi njenengan juga pernah jadi santri
berprestasi. Sungguh luar bisa. Lalu bagaimana njenengan ngatur waktunya?
Dengan kesibukan yang tentu saja menyita banyak waktu dan tenaga. Tapi
njenengan tetap bisa berprestasi dan berpartisipasi dalam kegiatan pondok.
Sebenarnya apa sih kuncinya?”
“Kuncinya adalah lillah maka
takkan lelah. Semuanya diniatkan untuk ibadah, mencari sangu di akhirat nanti.
Insyaallah, jalan kita akan dimudahkan, fisik kita dikuatkan, mental kita di
teguhkan. Bukankah Abah juga sering ngendika, tentang 3M : mau, mampu,
dan menyempatkan.” Rizqi tersenyum, dalam hati ia berharap semoga apa yang ia
capai saat ini, dapat menginspirasi
santri dan mahasiswa lain. Bahwa kuliah dan mondok tidak menjadi alasan
untuk tidak bisa berprestasi. Lillah maka takkan lelah, itulah motto
hidupnya.
***
Noor Salamah,
lahir di Jepara. Sedang menempuh S1 Pendidikan Luar Sekolah Unnes dan nyantri
di PP. Durrotu Ahlissunnah Waljamaah. Pernah meraih juara III even menulis
surat untuk calon presidenku oleh Meta Kata.
Penulis dapat dihubungi melalui facebook: Salma van licht, e-mail di salamah_chan@yahoo.com, atau di 089668214948.
Minggu, 11 Mei 2014
by noor salamah
Hukum Puasa Daud
Kajian Interaktif
Berpikir Logis dan
Agamis
Hukum Puasa Daud
Kita mengenal banyak
jenis puasa sunnah, ada puasa senin kami, puasa as syuro, puasa arafah, puasa
tarwiah dan lain sebagainya. Bagaimana dengan puasa Daud? Tak ayal puasa sunah
ini pun sudah familiar dengan kita. Tapi bagaimana hukummnya jika berpuasa Daud
tidak dengan ijazah sang guru ? mari kita lihat jawaban Abah
Jawab :
Menurut Abah Kyai
Masrokhan jika puasa Daud dilakukan untuk hajat maka menggunakan ijazah. Hajat yang dimaksud adalah hajat keperluan
dunia. Jika tidak dengan ijazah guru hukumnya tetap sah. Puasa Daud tanpa
ijazah diperuntukan untuk hajat akhirat, adapun soal bonusnya hanya Allah yang
tau entah di dunia juga diberikan entah hanya di akhirat saja. Jadi akan lebih
baik jika hajatnya dunia dan akhirat maka puasanya dengan ijazah guru.
Sering kita melihat
orang berpuasa bertahun-tahun. Ada yang satu tahun, dua tahun, tiga tahun dan
seterusnya. Lantas adakah batasan hari dalam menjalankan ibadah puasa Daud ?
Jawab :
Menurut Abah Kyai
Masrokhan tidak ada batasan dalam melakukan puasa Daud, kalau bisa sampai ajal
menjemputpun tidak apa-apa seperti yang dicontohkan oleh Nabi Daud As.
Kita sudah mengetahui
hukum puasa Daud dan harinya lalu apa faedahnya jika melakukan puasa daud ?
Jawab :
Menurut Abah Kyai
Masrokhan faedahnya banyak, diantaranya yaitu menjadi wali Allah, sehat badan,
sehat hati, membuat pikiran menjadi cemerlang dan lain sebagainya. Di antara
kesemua faedah tersebut, faedah menjadi wali Allah-lah yang paling utama
diantara yang utama. Karena dengan menjadi wali Allah, kekasih Allah tentu
Allah tidak akan membiarkan kita berada dalam kesusahan. (Ulfi)rujukan redaski Satrul Qolam Aswaja, Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah Banaran Sekaran Gunungpati
Langganan:
Postingan (Atom)
Follow
Popular Posts
-
Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu Judul Buku : Rindu Karya : Tere Liye Penerbit : Re...
-
Hidup itu pilihan. Kita boleh memilih A juga boleh memlih B, tapi bagaimana jika aku memutuskan bahwa aku memilih A juga memilih B? Sulit ...
-
Kajian Interaktif Berpikir Logis dan Agamis Hukum Puasa Daud Kita mengenal banyak jenis puasa sunnah, ada puasa senin kami, puasa ...
-
Rufaidah, Teladan Juru Rawat Islam Buku ini mengisahkan tentang sosok wanita bernama Rufaidah. Seorang perawat muslim pertama di zamanny...
-
Teringat dulu ketika aku masih bersekolah di SMP N 5 Jepara, dimana disitu ada pelajaran ukir. Setiap pertemuan kami diminta untuk membuat ...
-
Sebenarnya buku ini sudah sering aku lihat rak perpustakaan daerah Jepara. Namun entah mengapa aku belum tersentuh untuk membacanya, b...
-
Memaknai Kartini di Era Globalisasi “Habis gelap terbitlah terang,” quotes itu begitu terkenal dan melekat erat dengan sosok Kartini....
-
Prularisme dalam Novel Dua Ordo Karya Hermes Dione adalah karya risensi pertama saya. Sebelumnya saya belum pernah merisensi buku. Iseng m...
-
Saya menyukai hujan, terlebih gerimis. Maka ketika saya mendapatkan informasi bahwa ada lomba cerpen bertema hujan. Saya tertarik untuk me...
-
اِنَّ صَلاَ تِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَا تَى الِلهِ رَبِّ العَا لَمِيْنَ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku han...