Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label pendidikan nonformal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan nonformal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

Diskusi TBM Bersama Bu Tirta (Warung Pasinaon Semarang)

Rabu, 17 Mei 2017 secara mendadak aku tiba-tiba berada di gedung Kesenian Daerah Jepara. Semua ini berawal dari postingan fb-ku hari itu yang berkisah tentang harapan perbukuan di Indonesia dan mimpiku sendiri untuk mendirikan TBM. Akhirnya salah seorang kawan mengajakku ikut diskusi TBM bersama Bu Tirta penggagas dan pendiri Warung Pasinaon, Semarang. TBM terbaik tingkat nasional. Beliau adalah orang yang luar biasa, penuh dedikasi, loyalitas dan berdaya juang tinggi.
Sore itu ketika aku sudah mengkandangkan motor, aku tiba-tiba teringat ajakan Den Hasan (Rumah Belajar Ilalang), motor kemudian kukeluarkan dan kulajukan ke DKD.
Masuk dari pintu depan, ku pikir aku salah tanggal, karena DKD terlampau sepi. Namun dua orang yang berada di gazebo memintaku masuk ke pintu samping. Motor-motor sudah berderet. Sekarang pukul setengah empat lebih, di mana acara sebenarnya dimulai pukul 14.00.
Bismillah, aku kemudian masuk dan bergabung dengan diskusi yang menyenangkan. Beberapa hal yang aku catat dalam pertemuan tersebut adalah untuk mendirikan sebuah TBM setidaknya harus memiliki syarat;
1.      Memiliki koleksi buku 600 eksemplar
2.      Memiliki profile, berupa nama TBM, struktur organisasi, kegiatan, jadwal buka-tutup
3.      Meminta izin domisili ke kelurahan, dan kemudian izin operasional TBM ke Dinas Pendidikan Kabupaten
Dan apabila TBM tersebut berniat bekerja sama dengan mitra CSR maka hal yang harus dipenuhi adalah SK Kemenkumham, akta notaris, NPWP dan no. Rekening.
Meski TBM diniatkan secara mandiri dalam artian tidak tergantung pada program pemerintah, sepatutnya TBM tetap menggabungkan diri ke Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). Karena dengan bergabung forum tersebut TBM memiliki kesempatan untuk memperoleh bantuan buku meski belum memiliki izin operasional, di forum tersebut akan ada teman dan ilmu yang bisa diperoleh.
Sebenarnya banyak pihak yang bisa membantu medonasikan buku seperti : donasi kemendikbud, 1001 buku, 1juta buku, rumah riang, rumah ceria, gramedia maupun penerbit mayor lainnya.  Pengajuan buku itu sendiri tidak mengharuskan TBM memiliki izin operasional, tentunya setiap pihak memilki syarat dan ketentuanya masing-masing.
Kebanyakan yang hadir sore itu adalah mereka yang sudah memiliki TBM dan berkecimpung di dunia TBM, setidaknya hanya ada tiga awam, termasuk aku sendiri. Sore itu juga kami bersepakat membuat grups diskusi WA dengan nama Taman Baca Jepara.
Bu Tirta juga memberikan beberapa tips tentang TBM
1. Jika punya keinginan terjun ke pendampingan minat baca. Yang dibangun adalah komitment. Jangan terburu2 mendapat buku yang banyak.
2. Meski organik, bersinergi dengan FTBM juga diperlukan. Sehingga legalitas ijin operasional mesti digarap bersama
3. Berjejaring dengan komunitas lain. Yang memiliki semangat yang sama

Itu sedikit yang bisa aku ceritakan, semoga bermanfaat. Semoga Allah memudahkan urusan dan menguatkan para pejuang literasi serta menumbuhkan para pejuang literasi yang baru. Semangat kawan J
Read More

Rabu, 24 Februari 2016

SKB UNTUK BANGSA

SKB UNTUK BANGSA

Bangsa ini tidak bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat apabila dalam hal pendidikan saja hak setiap warga negara tidak bisa terpenuhi. Bangsa ini tidak bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat apabila belum mampu menemukan serta memaknai ciri khas dan keunikan pendidikan lokal yang tepat untuk kemajuan bangsa. Bangsa ini tidak bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat jika semua elemen bangsa tidak bisa gotong-royong memajukan pendidikan bangsa.
Sebagaimana kita ketahui bersama pendidikan merupakan hak setiap warga negara Indonesia sebagai upaya untuk mencapai cita-cita konstitusi yang termaktub dalam undang-undang dasar 1945. Sebagai kebutuhan dasar, pendidikan wajib dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan ini selain merupakan amanat konstitusi namun juga menjadi satu-satunya jalur untuk mewujudkan bangsa yang maju, merdeka dan berdaulat. Mengapa demikian? Karena hanya melalui pendidikan pola pikir bisa berubah yang bermuara pada perubahan prilaku. Tentu saja perubahan disini menuju ke hal yang lebih baik. Banyak orang mempercayai keberhasilan hanya bisa ditempuh melalui jalur pendidikan formal dari SD hingga S1,S2, S3,S4 dan S-S lainnya. Tak cukup banyak yang sadar dan paham bahwa disisi lain dunia pendidikan ini ada pendidikan nonformal yang juga mempengaruhi keberhasilan pendidikan bangsa. Justru tanpa adanya pendidikan nonformal, pendidikan akan terlihat angkuh dan arogan. Bagaimana tidak? Pendidikan, apabila hanya mengandalkan pendidikan formal tentu tidak akan menjangkau semua lapisan masyarakat. Apakah ada layanan pendidikan yang benar-benar murah bahkan gratis bagi masyarakat miskin? Apakah ada layanan pendidikan bagi mereka masyarakat miskin yang sibuk bekerja? Apakah ada layanan pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung? Apakah ada layanan pendidikan bagi mereka kaum pinggiran dan marginal? Tidak. Pendidikan formal takkan mampu menjangkau itu semua seorang diri. Pendidikan formal membutuhkan partner dan partner yang paling tepat adalah pendidikan nonformal. Sesuai dengan fungsi pendidikan nonfomal yaitu sebagai pelengkap, penambah dan pengganti pendidikan formal, pendidikan nonformal bagaikan sahabat sejati pendidikan formal dimana mereka saling melengkapi.
            “Kementrian pendidikan dan kebudayaan akan memulai rintisan Wajib Belajar atau wajar 12 tahun pada tahun 2016.”
Begitulah berita yang dilansir dari Antaranews.com (23/06/2015). Berdasarkan laporan Unicef pada tahun 2012, menyatakan bahwa sebanyak 2,3 juta anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat yang yang memiliki penduduk terbanyak, setidaknya terdapat 42% anak putus sekolah. Sedangkan menurut Data Kementerian Pendidikan (Voice of America, 12-02-2013) menunjukkan setiap tahunnya lebih dari 1,5 juta anak tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Unicef juga menyatakan bahwa anak-anak dari keluarga miskin memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk putus sekolah dibanding dari keluarga kaya. Kondisi ini menghawatirkan mengingat wajib belajar 12 yang sedang di gadang pemerintah. Ada banyak sebab mengapa seorang anak bisa sampai putus sekolah, secara sederhana ada dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal rendahnya motivasi/ minat anak untuk bersekolah dan mengidap suatu penyakit dan faktor eksternal seperti keterbatasan ekonomi orang tua, faktor sosial/ budaya dan faktor geografis (Mutiara: 2014)
SKB merupakan sebuah unit pelaksana teknis daerah dibawah naungan dinas pendidikan kebudayan daerah. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi. Beberapa kegiatan yang diselenggaran adalah program kesetaraan paket B (setara SMP), paket C (setara SMA), pendidikan anak usia dini, kursus, Life skill, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat. Peraturan Mentri Pendidikan (Permendiknas) No. 03 Tahun 2008 tentang standar proses pendidikan kesetaraan menyatakan bahwa alasan mengapa harus ada standar proses karena kondisi sosial-kultural yang beragam, kesempatan dan kecepatan belajar yang beragam.  Disamping itu adanya tuntutan mencetak lulusan yang bermutu membuat perlu adanya standar pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C  harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,  memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.
Banyak manusia matahari yang mendedikasikan dirinya untuk bangsa ini melalui SKB. Mereka orang hebat yang memiliki mental baja, semangat bara api dan keahlian yang berbeda-beda dimana dengan itu mereka saling melengkapi. Satu hal yang saya sadari betul, mereka semua adalah manusia pembelajar sejati yang siap untuk belajar segala hal baru. Sikap ini penting, mengingat mereka akan menjadi garda terdepan penggerak perubahan. Mereka rela menempuh perjalanan malam hanya untuk mengajar warga belajar paket C meskipun jarak yang mereka tempuh sangat jauh dengan medan yang tak mudah. kesepakatan telah dibuat dengan warga belajar. Pendekatan dari pintu ke pintu untuk menyuarakan ayo belajar pun di lakukan. Selain itu, mereka juga begitu memperhatikan standar pendidikan nasional terhadap pendidikan kesetaraan, ada di dalamnya standar proses, standar isi, standar biaya, standar sarana-prasarana. Bayangkan sebuah pendidikan setara SMA dalam program kejar paket, warga belajar hanya akan mengerluarkan uang SPP sebesar 25-30 ribu. Biaya itu hanya untuk membayar tutor serta ujian nasional. Pada warga belajar kejar paket C di Polosiri Bawen hal itu terjadi. Kebanyakan warga belajar adalah warga putus sekolah yang sekarang bekerja di garment. Tentu kondisinya berbeda di pendidikan formal dimana siswa belajar di gedung megah, berseragam, bersepatu, usia relatif sama, wajib membeli buku, peraturan kaku dll. Pembelajaran di Polosiri berlangsung di gedung masjid lama dimana hanya tersedia papan tulis, itu sudah cukup untuk memenuhi standar sarana-prasarana. Tenaga pengajarnya sesuai standar yaitu minimal S1. Bagi mereka warga belajar kejar paket C tersedia beasiswa Indonesia Pintar yang bisa diakses dengan syarat dan ketentuan khusus, diantaranya usia maksimal 21 tahun. Banyaknya nominal beasiswa adalah satu juta pertiap tahun ajaran. Berdasarkan standar isi, kurikulum program kesetaraan sama seperti kurikulum di formal, perbedaanya hanya terletak pada komposisinya. Pembelajaran kejar paket tidak saja mentitikberatkan pada kognitif, namun juga skill dimana warga belajar diberikan keterampilan fungsional yang bisa membantu kehidupannya diantaranya adalah membatik, memasak, menjahit, membuat kerajinan tangan dll.
Penting untuk dicatat dan diperhatikan, bahwa seyogyanya setiap pelaksana kejar paket haruslah memperhatikan standar-standar yang sudah di atur oleh pemerintah agar mewujudkan lulusan yang bermutu dan berkompetensi unggul. Sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 Tentang Standar Isi untuk program paket A, B, dan C.Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang standar lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang tenaga kependidikan. Terwujudnya pendidikan yang bermutu menuju bangsa yang memiliki kehidupan yang cerdas harus disokong oleh semua pihak pemerintah, keluarga dan masyarakat. Percayalah kemerdekaan dan kedaulatan sejati bangsa Indonesia tidak akan di dapat apabila warga masyarakatnya berhenti belajar. Ingatlah pula bahwa tanggung jawab mencerdaskan bangsa tidak hanya dibebankan pada pemerintah, tapi juga segenap warga masyarakat Indonesia.

Sumber
1.      Farah, Mutiara. 2014. Faktor Penyebab Putus Sekolah Dan Dampak Negatifnya Bagi Anak. Universitas Muhamadiyah Surakarta
2.      Ghofar, M. 2015. “Kemendikbud: Wajib Belajar 12 Tahun dimulai 2016.” Terbit pada 23 Juni 2015. Di unduh pada tanggal 13 Agustus 2015 di  http://www.antaranews.com/berita/503076/kemendikbud-wajib-belajar-12-tahun-dimulai-2016
3.      Wardah, Fathiyah. 2013. “Pemerintah Indonesia Canangkan Gerakan Anti Putus Sekolah.” Terbit pada 12 Februari 2013. Di unduh pada tanggal 13 Agustus 2015 di  http://www.voaindonesia.com/content/pemerintah-indonesia-canangkan-gerakan-anti-putus-sekolah/1601826.html
4.      Laporan Unicef tahun 2012
5.      Fathurrohman, Muhammad. 2012. “Sistem Kejar Paket dalam kebijakan pendidikan nasional” di akses pada tanggal 15 Agusttus 2015 di laman muhfathurrohamn http://www.worpress.com 
Profil :
Noor Salamah, masih berstatus mahasiswa Prodi Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Semarang.




Read More

Selasa, 17 Februari 2015

Kartu Kuzimang (Kartu Kuartet Gizi Seimbang)

Kartu kuzimang adalah singkatan dari Kartu Kuartet Gizi Seimbang yang merupakan salah satu modifikasi dari kartu kuartet. Pada kartu-kartu tersebut tertera keterangan berupa tulisan yang menerangkan berbagai gambar tentang gizi seimbang. Pengenalan jenis kartu kuartet ini merupakan salah satu inovasi pengembangan media pengetahuan tentang gizi seimbang. Tujuan jangka pendek dari jenis permainan ini yaitu mengedukasi anak anak tentang gizi seimbang dengan cara yang menyenangkan sedangkan jangka panjang diharapkan dapat mencegah adanya kekurangan dan kelebihan gizi.
Teman2, kami Salma Van Licht, Diyan Sitimawaddah, Apri Ningsih, Isti Khasanah, lagi ikut lomba cipta media gizi seimbang yang diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia
klik link ini https://t.co/mkC6MyiOdf, lalu bantu ngeshare, like & comment di link youtube-nya ya...
terimakasih :)
Read More

Rabu, 19 November 2014

Niat Dalam Ta’lim/muta’allilm

Inna a’malu binniatSegala sesuatu berawal dari niat. Memang apa yang kita dapatkan sepadan dengan niat kita. Maka dari itu niat menjadi kunci pertama gerbang pembuka kita dalam beramal.
Tulisan ini merupakan beberapa ilmu yang saya dapat ketika pergi ke acara Pesantren Kilat bertempat di Gedung Darul Aitam Jalan Mas Mansyur Jakarta yang merupakan serangkaian acara Majlis Rosulullah.
Betapa pentingnya perihal niat tersebut, maka dalam ta’lim yang di isi oleh ustadzah Khalimah salah seorang alumnis Tarim Yaman menjelaskan bahwa ketika ta’lim/muta’allilm (belajar/mengajar) hendaklah kita niatkan untuk ;
1.       Mengambil/memberikan kemanfaatan
2.       Mengambil/memberikan peringatan
3.       Saling menganjurkan pada kebaikan
4.       Menunjukkan dalam kebenaran
5.       Mengharap ridlo Allah
6.       Mencari pahala disisi Allah
7.       Mencari kematian yang khusnul khotimah
8.       Mendekatkan diri kepada Allah
Begitulah yang saya tangkap dari dari pembahasan niat tersebut, semoga bermanfaat.
Read More

Rabu, 03 September 2014

Paket Alternatif menuju Cita-cita

Paket Alternatif menuju Cita-cita
Oleh Noor Salamah

Hari masih pagi ketika Umar bersama sepeda ontel tua milik Bapaknya berjalan menyusuri jalan-jalan kecil menuju sekolah. Sebuah sekolah yang berbeda dengan sekolah kebanyakan, sebuah sekolah yang banyak orang memandang rendah derajatnya tak terkecuali murid yang belajar disana. Tapi Umar tidak peduli. Umar mengabaikan omongan orang tentang sekolahnya. Bagi Umar, sekolahnya sangat berharga. Ada pelajaran yang tentu tak akan ia dapatkan ketika belajar di sekolah biasa. Lebih dari itu, sekolah seperti inilah yang memang sesuai dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Umar memasuki ruang kelas. Sepuluh menit lagi pelajaran akan dimulai. Teman-teman Umar sudah banyak yang datang. Tak lama, Pak Mul datang dengan baju dinas dan tas hitam kesayangannya serta sebuah map berwarna merah di tangan kirinya.
Assalamualaikum. Selamat pagi, anak-anak!”
Waalaikum salam. Selamat pagi, Pak Guru!” Jawab anak-anak kompak.
“Siapa Kalian?” Pak Mul membuka pelajaran pagi itu dengan teriakan seperti yang biasa ia ucapkan setap harinya.
“Aku anak Indonesia!” Jawab anak-anak serempak dan bersemangat.
“Apa bahasa persatuan kalian?”
“Bahasa Indonesia dan Aku cinta Bahasa Indonesia.” Jawab anak-anak lebih keras dan lebih bersemangat. Pak Mul tersenyum, sebuah pemanasan yang bagus. Pikirnya.
Ok. Anak-anak, pelajaran pagi ini adalah pembahasan mengenani cerita-cerita yang telah kalian tulis minggu lalu. Mungkin ada di antara kalian yang mengajukan diri untuk tampil ke depan menceritakan kembali tulisannya?”
Anak-anak saling pandang, melirik teman mereka. Tidak ada yang mengacungkan tangan. Sepi, semua saling lirik, saling bisik.
Pak Mul terus menunggu. Menanti hingga ada salah seorang diantara muridnya bersedia mengacungkan jari. Penantiannya membuahkan hasil. Umar salah seorang muridnya mengacungkan jari.
 “Ya Umar silahkan maju. Ceritakan kembali apa yang kamu tulis minggu lalu.” Umar beranjak dari tempat duduknya berdiri di depan, tangan kirinya memegang teks yang ia tulis. Umar menarik napas dalam.
“Selamat pagi teman-teman. Namaku Umar, tapi bukan Umar Bakri seperti di lagunya Iwan Fals. Teman-teman, aku di sini hanya ingin bercerita tentang sekolah dan cita-citaku. Sekolah kita, banyak orang mencibir tentang sekolah kita. Katanya sekolah kita sekolah murahan, tidak berkualitas. Katanya, kita murid-murid di sini anak pinggiran, miskin, terbelakang, dan urakan. Kata mereka juga guru-guru kita di sini tidak berkualitas, tidak punya dedikasi dan tidak punya integritas. Mereka salah. Mereka keliru. Aku, kamu, dan semua murid di sini boleh jadi memang miskin tak punya uang. Tapi kami tidak bodoh, tidak juga terbelakang apalagi urakan.”
“Huu!” terdengar sorak dari teman-teman sekelas Umar.
Cerita terus mengalir dari sepasang bibirnya. Kertas di tangannya ia abaikan. Ia telah leluasa menyampaikan semua gagasan dan idenya.
“Sebenarnya kami sama seperti anak yang lain selalu condong pada hal baik. Kami di sini belajar, belajar pada guru-guru kami yang berkualitas, pada guru-guru kami yang penuh dedikasi dan integritas. Di sekolah kami yang apa adanya, murah, namun tetap berkualitas. Kami belajar. Kami belajar seperti yang di ajarkan murid murid di sekolah biasa. Ada matematika, Bahasa Inggris, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran umum lainnya. Lebih dari itu, kami disini juga belajar pelajaran yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Kami belajar mengukir, menjahit, dan membatik. Sebuah keterampilan yang tidak mungkin di dapatkan jika belajar di SMP biasa."
“Setuju! Mereka saja yang sombong, selalu anggap diri kita rendah martabatnya. Padahal semua manusia di mata Allah sama. Juga di mata hukum, setiap warga negara itu sama.” Yunus yang duduk di bangku belakang menimpali.  
“Aku memilih sekolah di sini karena biayanya murah, jadi aku tak begitu memberatkan orang tuaku, aku juga masih bisa membantu Bapak di sawah selepas atau sebelum ke sekolah. Dengan biaya lebih murah daripada sekolah biasa, aku justru bisa memperoleh keterampilan yang pasti akan bermanfaat bagiku. Siapa tau jika aku tidak bisa melanjutkan sekolah. Aku masih bisa bekerja, aku punya keterampilan mengukir. Aku pasti bisa mandiri. Tapi tidak teman, aku tak ingin putus sekolah. Apalagi berhenti belajar. Belajar itu seumur hidup. Belajar itu dimana saja, kapan saja, dan dengan apa saja. Meski begitu aku tetap ingin melanjutkan sekolahku. Aku ingin menjadi seorang guru. Seorang guru yang mendedikasikan dirinya bagi masyarakat. Bukan seorang guru yang hanya mengejar jabatan PNS, memperoleh gaji dan tunjangan pensiunan, serta dikenal dan disegani orang. Aku ingin bermanfaat bagi orang banyak. Itulah tujuanku. Itulah cita-citaku. Dan aku memulai meniti jalan cita-citaku di sini di sekolahku, di kejar paket B.”
Riuh tepuk tangan terdengar dari penjuru kelas.
Umar, anak dari keluarga miskin yang memiliki tujuan mulia serta tekad yang kuat. Belajar di sekolah yang banyak dicibir orang tidak lantas menyurutkan semangat untuk mewujudkan cita-citanya.
“Itulah teman, sepenggal cerita tentang sekolah dan cita-citaku. Terima kasih.”
Umar berjalan kembali ke bangkunya.
“Ada lagi yang ingin menceritakan tentang cita-citanya?” serentak anak-anak itu mengacungkan tangan.
Pak Mul, guru Bahasa Indonesia di SKB Jepara itu tersenyum. Ia bangga memiliki murid seperi Umar dan murid-muridnya yang lain. Ia bangga dapat mengajar di sini sebuah sekolah yang memberikan ruang dan kesempatan bagi anak kurang mampu untuk berprestasi dan untuk mewujudkan mimpinya.
***



Tentang Penulis
Nama Lengkap              : Noor Salamah
Tempat, tanggal lahir     : Jepara, 23 Juni 1994
Alamat Lengkap            : Jalan HM. Syahid No. 11 rt 03 rw 05 Panggang Jepara Kode Pos 59411
Akun Twitter                 : @salma_skylight
Akun Facebook             : salma van licht
E-mail                            : salamah_chan@yahoo.com / pls2.12046@gmail.com
Status                             : Mahasiswa di Universitas Negeri Semarang Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Harapan untuk pendidikan di Indonesia

Sebagai seorang mahasiswa jurusan pendidikan luar sekolah, saya merasa prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini. Terutama perhatian yang diberikan pemerintah terhadap pendidikan nonformal. Meskipun dalam UU No 20 tahun 2003 sudah dijelaskan bahwa Indonesia mengakui tiga jalur pendidikan. Yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Namun kenyataanya perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah lebih condong pada pendidikan formal daripada dua jalur pendidikan lainnya. Banyak dari pegiat PNF mengeluhkan hal ini, meski begitu mereka tak menyerah untuk tetap mengabdikan dirinya. Saya berharap dengan pemberian perhatian yang sama dari pemerintah kepada ketiga jalur pendidikan tersebut akan mampu menyeimbangkan dan memajukan Indonesia. Indonesia dengan karakter Pancasila yang dimilikinya. Semoga pendidikan Indonesia lebih baik lagi.
Read More

Minggu, 27 April 2014

Paket Alternatif menuju Cita-cita

Sebagai seorang mahasiswa jurusan pendidikan luar sekolah, saya merasa prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini. Terutama perhatian yang diberikan pemerintah terhadap pendidikan nonformal. Meskipun dalam UU No 20 tahun 2003 sudah dijelaskan bahwa Indonesia mengakui tiga jalur pendidikan. Yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Namun kenyataanya perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah lebih condong pada pendidikan formal daripada dua jalur pendidikan lainnya. Banyak dari pegiat PNF mengeluhkan hal ini, meski begitu mereka tak menyerah untuk tetap mengabdikan dirinya. Saya berharap dengan pemberian perhatian yang sama dari pemerintah kepada ketiga jalur pendidikan tersebut akan mampu menyeimbangkan dan memajukan Indonesia. Indonesia dengan karakter Pancasila yang dimilikinya. Semoga pendidikan Indonesia lebih baik lagi.
Cerita ini aku persembahkan untuk warga belajar PNF. Tetap semangat dalam belajar.
Read More

Sabtu, 29 Maret 2014

Surat untuk Calon Presiden-Pendidikan Nonformal yang Terabaikan

Semakin dalam aku masuk, semakin aku akan paham kondisi mereka. Semakin kencang aku akan mendengar deru suara hati mereka. Aku ingin menenggelamkan diri diantara mereka dan merangsek maju. Tetaplah semangat wahai pegiat pendidikan non formal. Tetaplah semangat wahai teman-temannku PLS calon pegiat Pendidikan Non Formal.
Tulisan ini aku persembahkan untuk kalian semua. Insyaallah akan dimuat dalam salah satu buku yang diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, merupakan juara tiga dalam even menulis "Surat untuk Calon Presiden" oleh Pena Meta Kata.
Teruntuk calon presiden Republik Indonesia yang saya hormati..
Pendidikan adalah aspek terpenting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Saya percaya Anda setuju, begitu juga dengan saya. Saya percaya Anda juga tau bahwa Indonesia mengenal tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Saya percaya Anda tau maksud dan penjabaran dari ketiga jalur pendidikan tersebut. Dan disini saya hanya ingin mengabarkan kepada Anda tentang perasaan saya. Perasaan saya sebagai seseorang yang menggeluti pendidikan nonformal. Seseorang yang merasa bahwa jalur pendidikan yang digelutinya diabaikan dan dianak tirikan oleh jalur pendidikan formal.
Ketika orang mendengar kata pendidikan, yang terlintas di benaknya adalah sebuah jenjang pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi. Banyak yang mengabaikan sebuah jalur pendidikan yang berpusat pada masyarakat, ya pendidikan nonformal. Sebuah pendidikan yang sudah berjasa besar pada bangsa Indonesia jauh sebelum kita mengenal pendidikan formal. Melalui jalur pendidikan nonformalah buta aksara dapat terentaskan, melalui jalur pendidikan nonformalah peserta didik yang tidak memiliki cukup biaya untuk bersekolah di jalur pendidikan formal yang mengeluarkan biaya besar dengan sebentuk peraturan pendidikan di dalamnya tetap dapat memperoleh pendidikan yang terlayani dalam jalur pendidikan nonformal. Tapi mengapa dibalik jasa-jasanya, jalur pendidikan nonformal tetap saja terabaikan? Peraturan hukum yang tidak berpihak pada PNF. Fasilitas yang tidak merata dan tidak mencukupi bagi para pegiat PNF, anggaran dana pendidikan terutama dari APBD yang seringkali tidak tersedia bagi program PNF, badan induk PNF yang berubah nama hanya demi menuruti tren, dan lain-lain. Saya berharap, Anda dapat lebih memerhatikan PNF untuk Indonesia yang lebih maju.
Biodata penulis
Nama Noor Salamah, lahir di Jepara sekarang sedang menempuh S1 Pendidikan Luar Sekolah di Universitas Negeri Semarang. Dapat dihubungi melalui facebook : salma van licht atau e-mail di salamah_chan@yahoo.com
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com