Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2016

Kerinduan

Rabu, 09 Maret 2016

Bertahun-tahun setelah Bapak, Mas Jahid dan Mas Huda pergi untuk selamanya. Hari ini di sela doa usai salat gerhana matahari aku merasa rindu suasana keluarga samasa aku masih kecil, saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Semua keluarga masih utuh dan lengkap. Meski Mas Mansur tidak tinggal serumah, tapi keceriaan tergambar jelas dari wajah kami. Tak peduli meski rumah mirip kandang hewan. Tak peduli meski ceracau, tangis dan amarah juga turut serta mewarnai rumah yang amat kecil ini. Aku ingat ketika aku kecil dulu, ketika untuk pertama kalinya bapak mengajari kami mengaji Al Qur’an, kami duduk berbaris menunggu giliran untuk disimak bacaan kami. Hari-hari dimana aku, bapak dan ibu masih sering pergi ke pantai. Hari-hari dimana bapak suka memboncengkan aku di sepeda ontel butut kesayangannya. Hari-hari dimana aku tak perlu cemas berada di dekat Mas Akrom dan Mas Chabib. Hari-hari dimana sahabatku tak perlu bingung serta takut ketika ke rumahku. Hari-hari dimana aku masih gemar menangis berteriak kencang hingga telinga semua tetangga bising karenanya. Hari-hari dimana segalanya terlihat dan akan baik-baik saja. Aku benar-benar rindu masa dulu. Andai waktu bisa terulang, andai cukup banyak kebaikan yang bisa aku lakukan untuk mereka yang sudah tiada. Tapi waktu tak pernah bisa diulang, dan aku hanya mampu mengingat mereka dan masa indah itu hanya sebatas kenangan saja. Ku harap, di alam sana orang-orang yang aku sayangi tersenyum bahagia menatap kami yang ada di dunia ini. Amin.
Read More

Jumat, 01 April 2016

Di Balik Rak itu, Aku Menemukanmu

Di Balik Rak itu, Aku Menemukanmu

Masih di tempat yang sama. Di balik rak itu, aku menemukanmu. Duduk tenang seolah kau hidup dengan duniamu sendiri. Tak terusik, siapapun dan apapun. Bahkan hujan yang turun deras sekali, hanya kau lirik dari kaca jendela di sampingmu. Sesekali kau menaikan kaca matamu yang turun. Beberapa tumpuk buku berada di pinggir mejamu. Sementara itu matamu bergerak fokus mengikuti alur setiap abjad yang tersusun dari buku yang kau pegang. Mencoba memasuki dimensi ruang dan waktu yang dicipta sang penulis. Hanyut dalam emosi, seolah-olah kaulah yang mengalami semua peristiwa itu. Sukmamu mungkin sudah terbang bersama imaji yang kau racik. Dengan bumbu-bumbu fantasi penuh misteri. Di salah satu sudut ruangan ini, kau menyepi sendiri, mengucilkan diri dari hiruk pikuk, sibuknya dunia yang tak pernah sepi. Membenamkan diri di dalam setumpuk buku.
Aku selalu menemukanmu di balik rak itu, selalu di waktu yang sama. Di hari sabtu, di balik rak penuh buku misteri. Sama seperti dirimu yang penuh misteri. Dan kau akan menghabiskan waktumu dari pukul dua siang hingga perpustakaan ini tutup. Dan kaupun akan pergi, dengan ekspresi penuh kesedihan seolah-olah kau telah kehilangan belahan jiwamu. Tapak kakimu terasa berat sekali tatkala kau paksa dirimu tuk pergi. Aku merasakannya, sebagian hatimu sengaja kau tinggalkan disini.
Hari ini kau datang lagi. Selalu seragam coklat itu yang kau kenakan, dan kau terlihat amat manis kali ini, layaknya sebuah coklat. Kau isi kehadirin di komputer dekat tangga. SLTA. Itulah yang kau klik. Kau ambil kunci loker yang aku sodorkan. Membuka loker, menaruh tas. Mengunci kembali loker, lalu kunci itu kau serahkan kembali padaku sedangkan kau hanya memegang selembar kertas tanda nomor loker. Berjalan santai, menuju tempat favoritmu. Dibalik rak buku misteri dekat jendela. Tentu saja sebelumnya kau akan mengambil beberapa buku misteri dari rak di sampingmu. Rak itu berisi buku-buku karya penulis luar negeri, seperti Agatha Christie, Sandra Brown, Jeffery Deaver, Daniellie Steel, Diana Palmer, Rebecca Winters, Barbara Delinsky dan lain-lain. Tak banyak pengunjuang lain yang tertarik dengan buku-buku di rak itu. Alasan pertama kebanyakan buku itu sudah jelek, baik cover maupun kertas isinya. Alasan kedua, kebanyakan buku-buku itu merupakan cetakan lama tahun 90 hingga 20-an. Alasan ketiga, tak banyak yang suka novel terjemahan. Mungkin kau termasuk diantara sedikit yang masih menggemarinya buku-buku jenis itu. Terutama buku yang ditulis Agatha Christie. Ku pikir kalian memiliki kesamaan, sama-sama menyukai kisah penuh misteri. Kasus pembunuhan terutama. Agaknya, kau bercita-cita jadi seorang detektif, yang berhasil mengungkap berbagai kebenaran dibalik teka-teki.
Denting panjang bunyi bel terdengar keras dari setiap spiker yang terpasang di langit-langit ruangan. Tanda bahwa lima menit lagi perpustakaan akan tutup. Kau terlihat sedikit gugup. Kau bergegas pergi menghamipiriku, meminta kunci loker. Pada kesempatan ini aku beranikan diri bertanya padamu.
“Enggak minjem buku Mbak?”
“Enggak Mas, belum punya kartu.”
“Ya buat to Mbak. Caranya mudah kok, tinggal ngisi formulir. Minta tanda tangan guru dan pengesahan dari sekolah. Ini formulirnya.” Aku sodorkan padanya selembar formulir pendaftaran anggota perpustakaan. Dia menerimanya tanpa banyak kata selain mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku.
Hujan turun semakin deras, dari yang tadinya hanya sekedar rintik-rintik ketika aku mengunci pintu perpustakaan ini. Dan betapa aku terkejut, melihat dia masih berada di sini. Duduk sendiri di bangku kayu panjang depan pintu perpustakaan. Matanya menerawang menatap ke langit yang gelap. Mendung semakin tebal nan pekat, pun hari semakin sore.
“Nunggu siapa Mbak?”
Dia menggelang lemah. Tidak menunggu siapa-siapa, tidak menunggu jemputan, jadi mungkin dia menunggu hujan reda untuk pulang.
“Hujannya mungkin akan berlangsung lama. Rumahmu dimana?”
Wajahnya kini semakin sedih, ketika aku mengatakan hujannya mungkin akan lama.
“Potroyudan, Mas.”
Tak terlalu jauh, batinku.
“Mau tak anter?”
Aku menawarkan sebuah solusi. Tapi ia justru memandangku dengan tatapan aneh. Mungkin aku dianggap lancang, baru ngobrol pertama kali. Tau-tau menawari sebuah boncengan.
“Ndak Mas, ndak usah repot-repot. Saya nunggu hujan reda aja.”
Aku terdiam. Menatap langit yang kian gelap. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku buka kembali pintu perpustakaan. Ketemu, ini akan menolong. Aku kembali lagi duduk di sampingnya. Menyodorkan sebuah payung kepadanya. Matanya menatapku, mengisyaratkan sebuah tanya.
“Pakailah, tak apa. Ini adalah inventaris perpus. Boleh digunakan kok.”
“Terima kasih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Mas. Assalamualaikum.”
Dia pun pergi, berlalu bersama payung yang melindunginya. Semakin jauh, hilang diantara tetes air hujan.
Seminggu kemudian, kau datang lagi kesini. Masih mengenakan seragam coklat. Dengan rutinitas seperti biasa. Sepertinya kau menyengaja menjadi pengunjung terakhir kali ini. Bahkan kau juga sepertinya sengaja menungguku, hingga perpustakaan ini hendak aku tutup. Saat itulah kau mencegahku.
“Tunggu Mas, jangan di tutup dulu.”
Aku menoleh heran menatapmu. Kau kemudian menyerahkan sebuah payung yang dulu aku pinjamkan.
“Saya cuma mau mengembalikan ini Mas, makasih.”
“Tapi di luar gerimis, tak apa kalau kamu mau minjam lagi.”
“Enggak Mas, enggak perlu. Saya sudah bawa payung sendiri kok. Terima kasih saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Kau mekarkan sebuah payung berwarna hijau emarld dengan hiasan sedikit bunga. Kau pun kemudian berlalu, pergi menghilang diantara tetes hujan. Mungkinkah besok aku memiliki alasan lagi untuk bercakap-cakap denganmu? Semoga, kesempatan yang baik itu akan datang lagi.
Rupanya doaku tidak di ijabah. Kesempatan itu tidak datang lagi. Bahkan aku tak lagi menemukanmu di balik rak itu. Aku selalu menunggu hari sabtu tiba, namun ketika sabtu bersua kecewa jua yang kudapat. Aku bahkan belum sempat tau siapa namamu. Dimana kamu sekolah. Rindu ini sungguh menyesak di dada. Semakin lama semakin membuat aku susah bernapas. Setiap ada gadis berseragam coklat datang ke perpustakaan di hari sabtu, aku selalu berharap itu kamu. Namun aku hanya berhalusinasi. Faktanya kamu tak pernah datang. Dan aku baru sadar bahwa, benang merah jambu sudah terlanjur menjerat hatiku. Aku pun belum sempat menyampaikan kegelisahan hatiku kepadamu. Mengutarakan isi hatiku, betapa aku menyukaimu.
***
Noor Salamah, lahir pada tanggal 23 Juni 1994. Putri pasangan M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah ini hobinya membaca dan menulis. Sejak 2012 melanjutkan studi S1 Pendidikan Luar Sekolah di Unnes. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail : salamah_chan@yahoo.com, fb : salma van licht atau twitter : @salma_skylight.


Read More

Jumat, 27 Februari 2015

Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu

Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu

Judul Buku          : Rindu
Karya                     : Tere Liye
Penerbit              : Republika
Cetakan               : 1
Tahun                   : Oktober, 2014
Tebal                     : ii+544 hal, 13.5 x 20,5 cm
ISBN                      : 978-602-8997-90-4

Tere Liye, siapa tak kenal nama penulis berbakat ini? Ia telah mengahasilkan begitu banyak karya. Dan kali ini ia mengusung tema rindu dalam novelnya yang berjudul Rindu, tepat seperti namanya. Namun perlu diketuahi bahwa rindu ini bukan rindu kepada sesama manusia biasa. Novel ini tidak bercerita tentang romantisme rindu muda-mudi yang dimabuk cinta. Rindu ini lebih murni, datang dari hati tergerak oleh iman.
Novel ini bermula tentang kisah para jama’ah haji nusantara dengan setting tahun 1938 yang hendak memuaskan rasa rindu mereka. Melihat ka’bah dan masjidil haram. Menunaikan rukun iman terakhir. Ada banyak jama’ah yang berangkat haji tentu dari berbagai wilayah di Nusantara. Persinggahan kapal Blitar Holland, kapal pengangkut jama’ah haji dimulai dari Makassar, berlanjut ke Surabaya, Semarang, Batavia, Bengkulu, Padang, dan Aceh. Dikisahkan bahwa terdepat lima penumpang yang membawa berbagai pertanyaan tentang hidup ini. Pertanyaan yang sebenarnya begitu dekat dengan kita. Namun mungkin kita sendiri tak tau jawabannya atau barangkali lalai untuk melihat pembelajaran disekitar kita yang semestinya sudah menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan pertama datang dari seorang tokoh bernama Bonda Upe atau Ling-ling, ibu-ibu chainis dengan masa lalu kelam. “Aku seorang cabo (pelacur), Gurutta, Apakah Allah, apakah Allah akan menerimaku di tanah suci?” Seorang ulama’ masyhur dari Gowa, menjawab, “Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain. Dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin. Pahami tiga hal itu Nak, semoga hati kau menjadi lebih tenang.”
Pertanyaan kedua muncul dari seorang berpendidikan, pedagang kaya, memiliki keluarga bahagia, orang selalu menyangka ia, Daeng Andipati hidup bahagia. Tapi apakah benar ia hidup bahagia? Padahal yang sesungguhnya ia menyimpan kebencian yang amat sangat terhadap ayahnya sendiri. Ayahnya seorang yang ringan tangan, pedagang culas yang suka menggunakan tukung pukul. “Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini?” kembali ulama’ yang biasa dipanggil Gurutta itu yang menjawab. “Berhenti membenci ayahmu, karena kau sedang membenci dirimu sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru, buka lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil dihatimu.”
Pertanyaan ketiga muncul dari Mbah Kakung, ia begitu sedih mendapati kenyataan Mbah Putri Slamet telah mininggalkannya. Tak bisalagi mereka bergandeng tangan menyaksikan megahnya Masjidil Haram. Mereka pasangan suami istri yang terlihat selalu mesrameski di usia yang begitu sepuh. “Kenapa harus sekarang Mbah Putri pergi? Kenapa sekarang? Disaat mereka sedang dalam perjalanan haji? Menunaikan bukti cinta mereka?” lagi-lagi Gurutta yang menjawabnya. “Pertama, yakinlah kematian Mbah Putri adalah takdir Allah yang terbaik. Kedua, biarkan waktu mengobati semua kesedihan. Ketiga, lihatlahdari penjelasan ini dari kacamata berbeda.”
Pertanyaan keempat datang dari satu-satunya kelasi pribumi, Ambo Uleng yang bermakna pemuda yang bersinar bak purnama. Seorang pemuda usia dua puluhan yang sedang patah hati karena cinta. Pergi melamar menjadi kelasi kapal Blitar Holland hanya karena ingin lari sejauh-jauhnya dari masa lalu. Melupakan orang yang amat ia cintai. “Apa itu cinta sejati? Apakah esok lusa Ambo akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah ia masih memiliki kesempatan?” “Cinta sejati adalah melepaskan. Jika ia cinta sejatimu, dia akan kembali dengan cara mengagumkan. Jika ia tidak kembali, maka sederhana jadinya itu bukan cinta sejatimu. Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud maka teruslah memperbaiki diri sendiri. Sibuklah dengan belajar teruslah berbuat baik. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan kau akan siap menghadapinya.”
Dan ini adalah pertanyaan terakhir, dari seseorang yang selama ini selalu mampu menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang. Namun pertanyaannya sendiri justru tak mampu ia jawab. “Apakah kemerdekaan harus dibayar dengan harga mahal? Dengan darah dan air mata? Tiadakah cara lain?” dan jawaban atas pertanyaanya ia dapat dari seseorang pelaut bugis paling tangguh, pemuda dengan sinar rembulan, Ambo Uleng. “Saat ini kemerdakaan memang hanya bisa didapat dengan pengorbanan air mata darah, tidak ada cara lain!.”
Begitu seiring berjalannya waktu, seirama kapal yang mengikuti gelombang lautan. Satu demi satu pertanyaan telah terjawab. Dengan latar belakang pra kemerdekaan, novel ini tidak saja menyajikan sebentuk pemahaman akan para perindu pemilik Cinta yang Hakiki. Namun ada sisi historisnya, sejarah para pejuang dan inilah salah satu bagian menarik dari serangkain cerita Rindu. Secara tidak langsung, penulis berusaha mengkritik model pembelajaran zaman sekarang. Sebuah pendidikan yang terlalu terpaku pada ruang kelas dan nilai-nilai raport. Diceritakan dalam novel ini bahwa Gurutta menggagas sebuah sekolah sementara untuk anak-anak penumpang kapal. Tidak ada sistem nilai, guru bekerja ikhlas tanpa memikirkan gaji, proses belajar bisa dimana saja di pantai, di dek kapal, di kantin, di ruang mesin, di pelabuhan dan dimana saja. Yang utama adalah bagaimana anak memiliki pemahaman yang baik tentang alam, tentang dunia, tentang negaranya, tentang kehidupan sosialnya. Bukankah ini salah satu bentuk kritik akan sistem pendidikan kita? Mari renungkan.

Pada bab bab awal membaca buku ini saya merasa cukup jenuh, saya pikir basa-basinya terlalu panjang. Kenapa konfliknya tidak mulai terlihat? Kenapa semuanya seolah datar? Kenapa semuanya seolah tidak saling terpaut. Tapi demi melihat bahwa penulisnya adalah Tere Liye, penulis terkenal favorit saya. Saya kembali meneruskan membaca, pasti ada sesuatu yang mengejutkan. Batin saya. Dan benar, di bab tengah hingga akhir semuanya mulai terang. Hingga akhirnya lengkap sudah rangkaian panjang ceritanya. Semuanya berakhir bahagia. Bahkan Ambo Uleng dapat menikah dengan kekasih idamannya. Tak terlalu banyak alur mundur atau flash back yang panjang dalam cerita ini. Seperti biasa Tere Liye selalu mempu mengemas pesan moral, tanpa harus terkesan menggurui. Bahasanya indah. Enak dibaca. (Salamah)
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com