Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2017

Kisah Kelahiran

Pukul 21.30  tepat 23 tahun lalu.  Tangis keras seorang bayi mungil terdengar keras memecah malam. Bayi perempuan yang begitu dinantikan kehadirannya. Putri yang menjadi menyempurna kebahagian keluarga sederhana tersebut. Sempurna sudah, karena kini pasangan itu telah memiliki anak perempuan setelah enam anak sebelumnya berjenis kelamin laki-laki.

Semua orang menyambut gembira kelahirannya. Bapak, Ibu, kakak dan semua kerabatnya. Kehamilan itu sendiri ditempuh penuh resiko, karena si ibu sudah berumur 40 tahun. Untunglah keduanya selamat, bayi lahir dalam keadaan sempurna lagi sehat.
Sejauh yang yang ibu hamil ini alami, bayi ini merupakan bayi yang lahir dengan bobot terberat. Dan pada saat kehamilan, ia telah tercurahi oleh limpahan kasih dan perhatian. Banyak yang mengatakan bahwa pada kehamilan kali ini ia nampak lebih cantik.
Hari itu, ketika ia mulai merasakan tanda-tanda kelahiran si cabang bayi, dukun bayi telah berada di sisinya. Bersiap-siap jika sewaktu-waktu ia akan melahirkan. Tapi rupanya bayi itu tidak mau lahir di tangan dukun. Lama dinanti bayi itu  tak jua mau keluar, padahal rasa nyeri terasa luar biasa.
“Bayinya kalungan usus.”
“Bayinya pasaran dulu.”
Itulah komentar si dukun bayi juga bidan, manakala tak berselang setelah ibu hamil disuntik dan lahirlah bayi yang menggemaskan. Oleh kedua orang tuanya, ia diberi nama “Nur Salamah” yang berarti Cahaya Keselamatan.
Tentu banyak harap serta doa untuk bayi yang berarti cahaya keselamatan itu.
Apakah orang tuanya berharap gadis kecilnya senantiasa dalam cahaya dan keselamatan Allah? Apakah orangtuanya berharap bungsungnya akan menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat bagi dirinya sendiri juga bagi orang di sekitarnya?
Apapun harap dan doa orang tuanya, tentulah adalah doa yang baik.
23 Juni 2017,  bayi itu telah tumbuh dewasa berumur tepat 23 Tahun. Namun bapak yang gembira dengan kelahirannya tak sempat melihatnya dewasa begitu juga kedua kakaknya yang telah berpulang lebih dulu. Entah apa yang akan mereka katakan saat ini, saat gadis kecil mereka telah tumbuh dewasa.
Read More

Senin, 22 Mei 2017

Si Putih dari Bebek Hijau



Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu. (Hadis Riwayat Bukhari)

Menabung adalah investasi masa depan. Investasi itu sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti, penanaman uang atau modal dl suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Maksudnya dengan kita menabung kita telah menanam modal yang selanjutnya keuntungan dari modal itu akan kita petik di masa depan. Dalam pepatah arab sering dikatakan, barang siapa menaman maka ia akan memanen. Islam sebagai agama yang rahmatal lil alamin, mengatur umatnya untuk tidak hidup boros juga tidak hidup pelit. Islam mengatur umatnya agar hidup sederhana, Islam juga menganjurkan umatnya untuk menabung. Anjuran ini tertuang dalam Al Qur’an dan hadis berikut ini:
1.      "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (pelit) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” QS. Al Isra' (17) ayat 29
2.       “...Rasulullah saw pernah membeli kurma dari Bani Nadhir dan menyimpannya untuk perbekalan setahun buat keluarga...” Hadis Riwayat Bukhari
3.      “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” Hadis Riwayat Bukhari
Al Qur’an surat Al Isra’ diatas secara tersurat meminta umat untuk tidak berlsaya pelit dan tidak pula berlsaya boros, secara tersirat dapat dipahami bahwa umat diminta berada ditengah-tengah diantara kedunya, atau dalam artian sederhana. Kesederhanaan ini bisa terbentuk apabila umat mencukupi kebutuhannya bukan memuaskan hawa nafsunya. Salah satu bentuk perilsaya hidup sederhana itu adalah dengan cara menabung seperti yang sudah dicontohkan oleh Rosulullah dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari tersebut.
Apakah benar menabung itu investasi masa depan? Saya jawab dengan yakin iya. Karena saya sudah membuktikannya sendiri, kisah ini tentang laptop putih pertama yang saya beli, sebut ia Si Putih. Sebagian uang pembelian ini saya dapatkan dari hasil menabung sejak SD, sebuah proses menabung yang penuh lika-liku dan Ia bermula dari sebuah celengan bebek berwarna hijau. Berikut kisahnya.
Hidup dalam keluarga sederhana, membuat saya terbiasa hidup prihatin. Bapak hanya buruh mebel tukang amplas dan plitur, Ibu dagang warung kecil-kecilan. Memiliki anak banyak yang masih kecil-kecil membuat Bapak dan Ibu tidak terbiasa memanjakan kami. Saya sendiri adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara, dan saya adalah anak perempuan satu-satunya. Meski boleh dibilang rasa sayang mereka kapada saya lebih besar, tidak lantas membuat saya dimanja.
Saya masih ingat ketika dulu masih kecil sekali, saya menginginkan sebuah mainan boneka barbie dan pasar-pasaran. Saat itu ibu tidak punya uang, dan hanya menjawab, “Engko ya Nduk Ibu tumbaske nek wes ana duit.” Mendengar itu saya hanya diam, berjalan kembali mengikuti Ibu disisinya. Sejak itu saya ingin memiliki sebuah celengan, ya celengan untuk tempat saya menyimpan sisa uang jajan. Saat itu saya pergi kepasar bersama ibu, sedikit berbisik pada ibu bahwa saya ingin dibelikan celengan. Langkah kami pun menuju blok penjual plastik-plastik, saya melihat sebuah celengan berbentuk bebek berwarna hijau toska. Ukurannya tidak kecil juga tidak terlalu besar. Saya lupa harga pastinya berapa, mungkin sekitar Rp. 2.500,- dengan hati riang gembira saya meneteng celengan baru menuju rumah. Sepanjang perjalanan dalam becak, saya membayangkan betapa asyiknya melihat perut si bebek hijau penuh dengan uang receh. Suaranya yang nyaring dan berat ketika di goyang membuat semangat untuk menabung saya semakin tinggi.
Saya masih ingat saat SD uang saku saya hanya Rp. 500,- biasanya seratus untuk beli minum es teh satu plastik kecil dan Rp. 250 untuk makan kecil ketika istirahat. Jarang uang saku saya itu kurang, seringnya lebih. Jajan di rumahpun saya tidak perlu mengambil dari uang saku, cukup ambil jajan di warung atau minta uang ke Ibu. Dari sisa-sisa uang saku itulah saya kemudian menabung, sedikit demi sedikit uang koin saya masukkan ke lubang si bebek hijau. Seringkali saya intip lubang si bebek atau saya kocok-kocok perutnya hanya untuk mendengarkan bunyinya yang berat. Momen yang paling saya suka adalah ketika lebaran, rasanya ketika lebaran rejeki saya begitu banyak. Maklum saya anak paling kecil, perempuan satu-satunya, dan memiliki saudara banyak tak jarang mereka begitu dermawan dengan sedikit membagi rizkinya kepad saya. Alhamdulillah. Mulai dari Rp. 2000, Rp. 5000, hingga Rp. 20000 saya masukkan ke perut si bebek hijau. Memang tak jarang pula, saya mecukil lubang si bebek hijau untuk mengambil uang ketika saya membutuhkan sesuatu, entah mainan, jajan atau baju. Saya merasa lebih aman ketika saya memiliki cadangan uang hasil tabungan saya itu. Tak jarang pula kakak dan ibu saya meminjam uang kepad saya. Hingga saya harus merelakan membedah perut si bebek hijau.
Memasuki SMP saya sempat tidak istiqomah menabung lagi. Namun Alhamdulillah, Allah masih menyadarkanku dan mengembalikanku ke jalan yang benar. Ketika saya SMP kelas 1 semester 2, ada sebuah bank kecil di dekat rumah yang baru berdiri, namanya BMT Artha Abadi. Maka saya putuskan kembali menabung, dengan target minimal perminggu saya menabung Rp. 5000. Bersama Ibu, kami menjadi nasabah di sana. Kadang pergi berdua, kadang saya berangkat sendiri entah dengan menaiki sepeda atau dengan jalan kaki. Jadwal rutin saya ke bank biasanya hari Kamis, pulau sekolah mampir ke bank. Kadang ketika ibu memint saya menabungkan uangnya sementara saya sedang tidak punya uang, ibu berbaik hati memberi uang untuk saya tabungkan di rekening saya sendiri. Saat SMP uang saku saya  Rp. 2000, biasanya hanya terpakai di Rp. 1000, untuk beli minum dan jajan.
Entah sudah berapa saldoku dulu tapi yang pasti saldo segitu bagiku sudah sangat banyak. Sepertinya pernah mencapai Rp. 500.000. rencananya uang itu akan saya pergunakan untuk membeli sepeda sebagai pengganti seped saya yang sudah butut dan berkarat, tapi saya harus merelakan uang itu untuk dipergunakan kakak saya yang lebih membutuhkan. Saat itu kakak saya yang kelima namanya Mas Syukron, sedang menempuh S1 Akutansi di Unnes semester tua, mungkin tujuh. Waktu itu ia sangat membutuhkan komputer dan printer. Keluarga pun bermusyawarah, dan memutuskan mengambil uang tabungan, meminjam uang kesana kemari termasuk tabungan saya. Alhamdulillah akhirnya bisa terbeli juga komputer dengan seperangkat alat pendukungnya. Saya turut bahagia. Mas Syukron wisuda bulan November 2008, satu bulan setelah Bapak meninggal dunia dan saya lulus SMP bulan Mei 2009.  Sedikit menyingung soal sepeda yang tidak jadi terbeli dengan uang tabungan saya, saya justru mendapatkan sepeda baru atas wasiat Bapak yang meminta keluarga segera membelikan saya sepeda dengan uang zakat. Saya ingat itu hanya beberapa hari sebelum Bapak meninggal, hari itu hari minggu hanya ada satu toko sepedadi kota yang buka kebetulan juga masih libur lebaran. Saya pun memilih sebuah sepeda polygon berwarna biru, dan sepeda itu pun menjadi kenang-kenangan terakhir dari bapak kepad saya sebelum ia pergi.
SMK saya justru kurang bisa mengistiqohkan menabung, meski uang sakuku bertambah menjadi Rp. 5000, tapi rasanya kebutuhan juga bertambah. Saya mulai mengenal pulsa, pembersih muka, handbody, dll. Perjalananku ke sekolah pun kini tidak lagi jalan kaki atau bersepeda, tapi naik bus otomatis kebutuhan juga bertambah. Kesibukan di sekolah maupun di luar sekolah juga semakin menyulitkanku untuk datang ke bank. Meski begitu saya berusaha masih menyempatkan untuk menabung di bank. Sedikit demi sedikit. Saldo pun bertambah.
Lulus dari SMK Islam Jurusan Multimedia, hanya ada dua keinginan saya, kuliah dan mondok atau mondok saja. Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya kuliah dan mondok di Semarang. Tepatnya S1 Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Semarang dan mondok di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah. Alhamdulillah pula keluarga tidak harus memikirkan biaya pendidikan karena saya berkesempatan memperoleh Beasiswa Bidikmisi dari pemerintah. Sebuah anugrah dan kenikmatan tak terkira ketika saya dinyatakan diterima sebagai penerima beasiswa. Mengetahui itu, Mas Syukron langsung menyarankan saya untuk membeli laptop. Ya laptop memang sebuah kebutuhan dalam dunia kampus, banyak tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan dengan laptop. Saya sepakat dengan usulnya, saya pun melihat saldo di tabunganku tak banyak hanya ada sekitar Rp. 600.000,-an. Kesedihan datang menghinggapiku tiba-tiba, uangku tak cukup, batinku.
Saya teringat soal uang tabungan saya dulu yang katanya dipinjam Mas Syukron, meski berat dan sungkan untuk bertanya, toh saya beranikan bertanya pula soal uang itu. Barangkali uang itu bisa membantu menutupi kekurangan membeli laptop. Alhamdulillah, berkat pengertian Mas Syukron dibantu Ibu dan Mas Mansur (kakak pertama saya) akhirnya bisa terbeli juga laptop pertama saya. Warnanya putih, merknya Asus, ukuran 14 inchi, tepatnya Asus X401U. Sebuah slimbook, dengan processor AMD C-60 APU with Radeon(tm) HD Grapihics. RAM 2,00 GB, system type 32-bit operating system. Dengan tanpa dvd player karena ASUS X401U memang slimbook, harga belinya tak sampai tiga juta.
Sebenarnya ASUS X401U bukan incaran pertama, tapi dengan pertimbangan harga, stok barang dan kebutuhan desain grafis Mas Syukron kemudian membelikan saya ASUS X401U saja. Kenyatannya ASUS X401U cukup tangguh jika saya gunakan untuk desain grafis, meneruskan hobi saya yang suka mengutak atik corel, photoshop dan ulead. Si putih begitu panggilan romantisku kepada ASUS X401U, begitu setia menemani menggapai cita-cita saya. Bergadang malam-malam untuk merampungkan sebuah tulisan/naskah. Si putih yang sudah tiga terakhir menamaniku, selalu mengingatkanku bahwa menabung itu penting.
Kisah saya tentang Si Putih dari Bebek Hjau itu membuat semakin jelas bahwa menabung itu penting. Menabung sendiri adalah perbuatan yang sangat dianjurkan Islam. Maka jangan berpikir terlalu lama, mulailah menabung. Sedikit berbagi saya punya tips untuk memperoleh hasil yang maksimal ketika menabung laksanakanlah 3M ini:
1.      Mau: mau dalam artian kuatkan komiten dan tekad untuk menabung serta tau orientasi (tujuan) menabung. Tanamkan pada diri sendiri motivasi menabung, saperti dengan cara menulis dalam sebuah kertas tulisan. “SAYA AKAN ISTIQOMAH MENABUNG. Karena dengan menabung saya akan bisa membeli ..... (tulis apa saja yang diinginkan dari hasil tabungan) atau tidak perlu ditulispun asal sudah termindset di otak kita seperti itu tak masalah.
2.      Mampu: kemampuan keuangan tiap orang tentu berbeda-beda, maka kita harus punya target dalam kurun waktu tertentu minimal kita harus menabung berapa sesuaikan dengan kemampuan dan harus rasional.
3.      Menyempatkan: seringkali kita ada uang, ingin menabung dan malas keluar rumah untuk pergi ke bank. Dengan membuat jadwal rutin ke bank, kita akan terbiasa disiplin pergi ke bank untuk menabung. Atau bisa juga memanfaatkan jasa penjemputan uang bank, tentu kita akan sungkan jika petugas datang tapi kita tidak menabung.
Ingat menabung adalah investasi masa depan, jangan sia-siakan waktu dan uangmu kini secara tidak bijaksana jika kelak kau tidak ingin masuk dalam golongan orang yang menyesal. Maka mulailah menabung.
***
Nama               : Noor Salamah
Alamat                        : Jalan H.M Syahid No. 11 Rt 03 Rw V Panggang Jepara
Pendidikan      : Mahasiswa S1 Semester 6 Prodi Pendidikan Nonformal Universitas Negeri semarang, sekaligus santri di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah.
Pekerjaan         : Mahasiswa dan santri
Contak Person: 089668214948
E-mail              : salamah_chan@yahoo.com / pls2.12046@gmail.com


Read More

Rabu, 17 Mei 2017

Diskusi TBM Bersama Bu Tirta (Warung Pasinaon Semarang)

Rabu, 17 Mei 2017 secara mendadak aku tiba-tiba berada di gedung Kesenian Daerah Jepara. Semua ini berawal dari postingan fb-ku hari itu yang berkisah tentang harapan perbukuan di Indonesia dan mimpiku sendiri untuk mendirikan TBM. Akhirnya salah seorang kawan mengajakku ikut diskusi TBM bersama Bu Tirta penggagas dan pendiri Warung Pasinaon, Semarang. TBM terbaik tingkat nasional. Beliau adalah orang yang luar biasa, penuh dedikasi, loyalitas dan berdaya juang tinggi.
Sore itu ketika aku sudah mengkandangkan motor, aku tiba-tiba teringat ajakan Den Hasan (Rumah Belajar Ilalang), motor kemudian kukeluarkan dan kulajukan ke DKD.
Masuk dari pintu depan, ku pikir aku salah tanggal, karena DKD terlampau sepi. Namun dua orang yang berada di gazebo memintaku masuk ke pintu samping. Motor-motor sudah berderet. Sekarang pukul setengah empat lebih, di mana acara sebenarnya dimulai pukul 14.00.
Bismillah, aku kemudian masuk dan bergabung dengan diskusi yang menyenangkan. Beberapa hal yang aku catat dalam pertemuan tersebut adalah untuk mendirikan sebuah TBM setidaknya harus memiliki syarat;
1.      Memiliki koleksi buku 600 eksemplar
2.      Memiliki profile, berupa nama TBM, struktur organisasi, kegiatan, jadwal buka-tutup
3.      Meminta izin domisili ke kelurahan, dan kemudian izin operasional TBM ke Dinas Pendidikan Kabupaten
Dan apabila TBM tersebut berniat bekerja sama dengan mitra CSR maka hal yang harus dipenuhi adalah SK Kemenkumham, akta notaris, NPWP dan no. Rekening.
Meski TBM diniatkan secara mandiri dalam artian tidak tergantung pada program pemerintah, sepatutnya TBM tetap menggabungkan diri ke Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). Karena dengan bergabung forum tersebut TBM memiliki kesempatan untuk memperoleh bantuan buku meski belum memiliki izin operasional, di forum tersebut akan ada teman dan ilmu yang bisa diperoleh.
Sebenarnya banyak pihak yang bisa membantu medonasikan buku seperti : donasi kemendikbud, 1001 buku, 1juta buku, rumah riang, rumah ceria, gramedia maupun penerbit mayor lainnya.  Pengajuan buku itu sendiri tidak mengharuskan TBM memiliki izin operasional, tentunya setiap pihak memilki syarat dan ketentuanya masing-masing.
Kebanyakan yang hadir sore itu adalah mereka yang sudah memiliki TBM dan berkecimpung di dunia TBM, setidaknya hanya ada tiga awam, termasuk aku sendiri. Sore itu juga kami bersepakat membuat grups diskusi WA dengan nama Taman Baca Jepara.
Bu Tirta juga memberikan beberapa tips tentang TBM
1. Jika punya keinginan terjun ke pendampingan minat baca. Yang dibangun adalah komitment. Jangan terburu2 mendapat buku yang banyak.
2. Meski organik, bersinergi dengan FTBM juga diperlukan. Sehingga legalitas ijin operasional mesti digarap bersama
3. Berjejaring dengan komunitas lain. Yang memiliki semangat yang sama

Itu sedikit yang bisa aku ceritakan, semoga bermanfaat. Semoga Allah memudahkan urusan dan menguatkan para pejuang literasi serta menumbuhkan para pejuang literasi yang baru. Semangat kawan J
Read More

Kamis, 01 September 2016

Aku Bulan dan Kau Matahari

Aku Bulan dan Kau Matahari

Aku bulan dan kau matahari yang akan selalu dibutuhkan Sang Hari untuk menjadi sempurna. Aku penerang di kala malam, dan kau penerang di kala siang. Aku memang selalu ada setiap harinya, selalu setia mengirinya harinya, tapi aku hanyalah bayanganmu meski aku dan kamu adalah berbeda. Kedatanganmu selalu merubah segalanya. Kau menjauhkanku darinya. Aku tak lagi ada baginya, tak lagi penting. Siapa yang peduli rembulan di kala siang? Tidak ada. Karena tiada gunanya. Aku hanya dibutuhkannya dikala malam, di kala kau pergi. Itupun biasan sinar darimu. Sejatinya aku bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa baginya meski kami dekat, begitu dekat.
Berada dalam satu garis takdir, selalu membuat hubunginku dengan dirimu berjalan mulus dan akur. Kediaman yang tercipta, kebekuan yang tak jua cair, dan hati yang tak kunjung merasa mencintaimu. Adakah yang salah atas semua ini? Entahlah aku juga tak tau. Terlalu besar kebencian dan kekecewaan bersemayam di hati pada diriku sendiri. Melebihi rasa benciku pada dirimu. Hati ini terlalu rapuh, dengan mudahnya ia menangis. Meski tak jelas jua apa yang ditangisi. Kebencian. Kekecewaan. Penyesalan. Ketakutan. Kecemasan. Barangkali perasan-perasaan itulah yang ada di hatiku.
Setiap kali hatiku remuk, aku selalu berakting. Selalu berhasil di hadapan semua orang, kecuali kau dan dirinya. Aku bahkan tak sanggup bertemu denganmu pun dengan dirinya. Rapuh. Fisikku tiba-tiba saja rapuh, keropos di mana-mana. Aku muak dengan semua ini, dengan diriku sendiri, denganmu, dengan dirinya dan dengan takdir yang katanya selalu memberikan yang terbaik.
Jika akalku masih bekerja, aku tentu takkan seperti ini. Tapi kali ini aku seolah menjadi orang hilang akal, hilang logika. Hati yang gelap seringkali lebih mendominasi. Berkali aku ucap istigfar, sebentar sehat tapi tak lama kambuh lagi.
Aku menangis dalam diam. Aku menjerit takut dalam kesendirian. Tak satupun yang tau, termasuk dirinya. Andai aku diizinkan menukar takdir, tapi itu tak mungkin. Takdir ini sudah tersurat bahkan sebelum aku ada di dunia. Takdir punya kekuatan besar untuk menjerat aku, kamu dan dia dalam pusaran yang membingungkan ini. Ini mungkin mudah bagimu, juga baginya, tapi bagiku? Teramat sulit. Aku tak bisa mengendalikan sekeping hati ini. Aku sudah berjuang, dan selalu berjuang untuk mengedepankan akal. Tapi akal tak selalu menang.  Dan akhirnya aku terpuruk lagi. Satunya-satunya obatku hanyalah waktu. Ia menelan segala kepahitan lukaku. Kegelisahan jiwaku. Tapi waktu berjalan lambat bagi hati yang rapuh ini...

Jepara, 31 Agustus 2016
Read More

Sabtu, 27 Agustus 2016

Galau, Justru Setelah Lulus Kuliah

Selasa, 02 Agustus 2016
Beberapa tahun setelah peristiwa di A3 yang melibatkan ketua jurusanku. Akhirnya pada 23 Juni 2016 tepat pada ulang tahunku yang ke 22, aku dinyatakan lulus dan diwisuda pada tanggal 27 Juli 2016. Alhamdulillah, atas izin Allah aku mampu lulus tepat waktu meski aku berstatus sebagai mahasiswa dan juga santri.
Jika ada yang bertanya dapat apa kamu selama kuliah dan mondok? Akan aku jawab, insyaallah dapat ilmu, pengalaman dan barokah. Lha mana buktinya? Lha ini aku sedang dalam proses terus membuktikannya? Okke aku lulus kuliah dapat iajzah dan transkrip. Lha kalau pondok? Kalau boleh lulus saja sebenarnya aku belum. Hehe.. aku merasa aku masih belum bisa apa-apa. Terlalu susah menguasai kitab-kitab. Lha wong membaca kitab bermkana pegon tulisanku sendiri aja masih gratal-gratul. Apalagi diminta baca kitab kosong. Demikian dengan ngaji Qur’anku. Aku masih belum bisa fasih pun istiqomah. Sempat kemarin ditawari masku, aku disuruh ngulang ngaji privat anak-anak kecil. Aku enggan, bukan enggan karena malas. Aku engggan karena aku tidak percaya diri. Aku masih bodoh dalam banyak hal, terutama agama. Aku yang justru masih harus banyak belajar. Memang sih kataku guruku, ilmu itu belum bisa dirasakan ketika masih belajar. Ilmu itu milik Allah, justru dengan mengajar maka kita akan belajar. Tapi yang jadi pertanyaanku disini adalah, jika aku privat ngaji atau ngelesi. Aku belum punya pengalaman soal itu. Jika aku butuh teman bertanya, aku bertanya pada siapa? Aku tak begitu dekat dengan orang disini yang sekiranya bisa aku tanyai. Daripada privat akan lebih baik untukku di lembaga pendidikan agama saja. Maksudnya jelas disana bakal ada teman diskusi dan berguru begitu, dan aku merasa tidak sendiri. Sebenarnya soal ngulang ngaji itu pun adalah pesan dan wasiat Abah (alm) yang disalurkan ke Guse, ketika aku pamit boyong.
Oke, soal nanti aku bakal ngulang pikirkan besok-besok lagi saja.
Sekarang aku mau berbagi kegalauanku setelah aku lulus kuliah. Yah masa transisi memang selalu bikin galau. Sebagai lulusan PLS aku belajar banyak hal, yang justru semakin membuatku sadar bahwa aku belum bisa banyak hal. Dalam perjalanan belajar dan pengembaraanku, aku sadar bahwa keterampilan amat sangat penting. Keterampilan adalah asset kesuksesan dan kebahagiaan. Kenapa aku bilang begitu? Aku adalah lulusan PLS, secara teknis aku tak memiliki keterampilan selain hal-hal teoritis. Aku tak mendapatkannya di kampus. bukan bidangku untuk jadi guru PAUD, TK, SD, SMP, SMA-SMK. Karena memang aku bukan guru pendidikan formal, aku aku tak memiliki kompetensi itu. Sejak dulu, kepala SKB Jepara (tempat observasi), keluarga SKB Ungaran (tempat ppl) dan dosen, selalu menekankan betapa pentingnya memiliki keterampilan. Bagaimana tidak, akan sulit misalnya bagi sarjana PLS masuk dan bekerja di SKB apabila ia tidak memiliki keterampilan. Ia mau mengajar apa? Ketika terjun ke masyarakat, butuh pemberdayaan butuh pelatihan. Ilmu apa yang bisa kau berikan? Hal-hal seperti itu mengusikku.
Memang selaman ini hobiku menulis cita-citaku menjadi penulis. Tapi apakah ilmu kepenulisan menarik bagi orang-orang desa yang justru kurang bisa membaca dan menulis? Apakah menghasilkan uang? Sementara mereka mengoperasikan komputer saja belum bisa? Apalagi sejauh ini aku sendiri belum cakap benar, terbukti dari belum bisanya aku produktif (menghasilkan uang) dalam aktivitas menulisku. Maka aku melirik keterampilan yang lain, tentu yang aku suka. Menjahid? Aku sudah pernah kursus menjahid ketika SMP, tapi tidak tuntas. Saat itu aku tidak tau kalau ada ujian tes kompetensi segala. Tidak ada yang memberitahuku pun tidak ada yang membimbingku. Jadi aku tak bisa membuktikan kalau aku cakap menjahid, pertama karena aku tidak memiliki sertifikat kedua karena aku sudah jarang latihan menjadit baju. Tapi kalau untuk yang ringan-ringan bisalah. Menjahid sarung, bikin celemek, bisalah. Meskipun enggak bagus amat. Keterampilan multimedia yang aku dapat di SMK juga rasa-rasanya juga kurang cocok untuk masyarakat yang masih buta teknologi, lagi pula modalnya terlalu besar. Aku butuh keterampilan lain untuk memperkaya diriku. untuk menjadikan diriku manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Pilihanku jatuh pada keterampilan membatik. Batik, iya batik. Aku cinta batik. Aku suka mengenakan batik. Batik adalah budaya khas indonesia. Perlu dilestarikan. Aku suka menggambar (meski hasilnya masih jauh dari bagus). Aku suka mendesain. Aku suka hal-hal yang menggunakan daya kreatifitas (karena logika matematiku lemah, dan malas berhitung). Dan potensi itu ada di sekitar rumahku sendiri. Aku sadar kalau ikut kursus biayanya mahal pun belum tentu aku bisa langsung mahir. Karena dan untuk menjadi terampil perlu banyak sekali latihan. Akan lebih baik bagiku belajar sambil bekerja. Tentu aku sadar dengan metode ini gajiku tentu tidak seberapa. Tak apa, wong aku niatnya belajar. Berinvestasi untuk masa depan. Gaji adalah nilai plus saja. Ibu mendukung keinginan ini. Tapi godaan datang dari banyak sisi. Tawaran bekerja datang dari beberapa orang (meski belum pasti adanya, yang bilang kan pihak kedua), tentu dengan gaji yang keliatannya lebih besar. Aku kembali berpikir.
Akhirnya kemarin sore aku menemui Mbak Ira, wanita muda pemiliki Batik Sekar Panggang Jepara. Aku melamar bekerja. Awalnya Mbak Ira keget. S1 melamar bekerja sebagai pembatik di tempatnya, hal pertama yang ia pikirkan tentu saja ketidak mampuan menggaji standar S1. Dan itu diutarakannya padaku, tak masalah aku niatkan ini untuk belajar, berinvestasi masa depan. Sebenarnya aku datang diwaktu yang tepat, ketika salah satu pekerja Mbak Ira keluar karena hamil. Namun aku masih menunggu kepastiannya. Kata Mbak Ira beberapa hari kedepan ia akan menghubungiku. Semoga ini jalanku untuk meraih kesuksesan dunia akhirat. Menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Bismillah.

Setelah ini, aku juga masih harus memikirkan caraku menambah penghasilan dan menabung untuk mewujudkan mimpi menerbitkan buku. Yah, naskah sudah hampir jadi. Tinggal diedit, diberi cover dan mengumpulkan uang. Tentu aku tak bisa meminta uang pada Ibu. Terutama karena kondisi Ibu pun sedang sulit. Ahh, andai ada naskahku yang lolos masuk koran. Nampaknya aku masih harus banyak belajar, latihan, bersabar, dan berdoa. 
Read More

Kerinduan

Rabu, 09 Maret 2016

Bertahun-tahun setelah Bapak, Mas Jahid dan Mas Huda pergi untuk selamanya. Hari ini di sela doa usai salat gerhana matahari aku merasa rindu suasana keluarga samasa aku masih kecil, saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Semua keluarga masih utuh dan lengkap. Meski Mas Mansur tidak tinggal serumah, tapi keceriaan tergambar jelas dari wajah kami. Tak peduli meski rumah mirip kandang hewan. Tak peduli meski ceracau, tangis dan amarah juga turut serta mewarnai rumah yang amat kecil ini. Aku ingat ketika aku kecil dulu, ketika untuk pertama kalinya bapak mengajari kami mengaji Al Qur’an, kami duduk berbaris menunggu giliran untuk disimak bacaan kami. Hari-hari dimana aku, bapak dan ibu masih sering pergi ke pantai. Hari-hari dimana bapak suka memboncengkan aku di sepeda ontel butut kesayangannya. Hari-hari dimana aku tak perlu cemas berada di dekat Mas Akrom dan Mas Chabib. Hari-hari dimana sahabatku tak perlu bingung serta takut ketika ke rumahku. Hari-hari dimana aku masih gemar menangis berteriak kencang hingga telinga semua tetangga bising karenanya. Hari-hari dimana segalanya terlihat dan akan baik-baik saja. Aku benar-benar rindu masa dulu. Andai waktu bisa terulang, andai cukup banyak kebaikan yang bisa aku lakukan untuk mereka yang sudah tiada. Tapi waktu tak pernah bisa diulang, dan aku hanya mampu mengingat mereka dan masa indah itu hanya sebatas kenangan saja. Ku harap, di alam sana orang-orang yang aku sayangi tersenyum bahagia menatap kami yang ada di dunia ini. Amin.
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com