Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

Menonton Barongsai di Tahun Baru Imlek 2566

Menonton Barongsai di Tahun Baru Imlek 2566

Jalan disepanjang jembatan Kaligarang hari itu mendadak macet. Laju kendaraan yang biasanya normal kini merayap. Jalan baru mulai lenggang setelah melewati Sampokong.
Hari itu, kamis (19/02) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2566 Kuil Sampokong mendadak ramai. Banyak peziarah yang datang untuk berdoa, namun banyak juga wisatawan yang datang untuk menikmati suasana tahun baru imlek.
Sekitar pukul setengah sebelas, saya dan tiga orang kawan saya berhasil masuk di kompleks kuil Sampokong. Setelah berhasil melewati antrian yang panjang tentu saja. Biaya masuk saat itu relatif tidak mahal, karena tidak ada kenaikan harga. Cukup dengan uang Rp. 3000, saya bisa masuk ke Kuil Sampokong. Ketikda berada di dalam, saya melihat nuansa warna merah yang dominan dimana-mana. Komplek Klenteng Sam po Kong terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng).
Menurut cerita, pada awal abad ke-15 Laksamana Zheng He sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah semenanjung. Karena ada awak kapal yang sakit, ia memerintahkan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Zeng He memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Setelah ratusan tahun berlalu, pada bulan Oktober 1724 diadakan upacara besar-besaran sekaligus pembangunan kuil sebagai ungkapan terima kasih kepada Sam Po Tay Djien. Dua puluh tahun sebelumnya diberitakan bahwa gua yang dipercaya sebagai tempat semedi Sam Po runtuh disambar petir. Tak berselang lama gua tersebut dibangun kembali dan didalamnya ditempatkan patung Sam Po dengan empat anak buahnya yang didatangkan dari Tiongkok. Pada perayaan tahun 1724 tersebut telah ditambahkan bangunan emperan di depan gua.
Untuk masuk ke kuil utama tempat sembahyang bagi peziarah tidak dikenakan biaya. Namun bagi wisatawan, dikenakan tarif yang menurut saya cukup mahal. Maklum mahasiswa hidup hanya dengan beasiswa. Untuk wisatawan lokal dikenakan harga Rp. 20.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan harga Rp. 50.000. jadi, dengan mempertimbangan harga dan isi dompet saya urungkan untuk masuk L
Tak apa meski tak bisa masuk, acara cukup ramai dengan hiburan dari Kusuma Band. Kusuma Band menyanyikan beberapa lagu yang sebenarnya adalah dangdut namun di aransemen menjadi jazz. Lagu-lagu tersebut adalah Begadang, Darah Muda, Yuk, Kita Santai, dan Kedatanganmu Kutunggu. Dengan kostume ala chainis, cukuplah tiga biduan wanita plus satu pria itu menghibur hati. Dan inilah yang kami tunggu-tunggu, Pertunjukan Barongsai. Sekitar pukul 11.20, musik mengalun. Seekor naga kecil berwarna kuning maju ke atas panggung. Beratraksi, berjalan di atas tiang-tiang. Yang paling saya suka adalah ketika mata si Barongsai ini berkedip-kedip, ahh imutnya :D
Pertunjukan Barongsai ini dimainkan oleh anggota dari Perkumpulan Elang Terbang dari Timur. Kelompok ini telah show di berbagai daerah hingga mancanegara. Pernah mengikuti lomba tingkat internasional melawan India, China dll dan menjadi Juara. Hal tersebut merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Hidup Pemuda Indonesia! J
Menurut MC yang sedang memandu acara, katanya sih pengunjung tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin. Dan masih menurut MC juga katanya kalau menonton pertunjukan Barongsai di Tahun Baru Imlek dipercaya dapat mendatangkan berkah. Terlepas dari benar atau tidaknya, saya hanya memohon kepada Allah, semoga Allah meridhoi kami, setiap langkah kami, dan mengbulkan hajat-hajat kami.




Semarang, 19 Februari 2015



Read More

Rabu, 26 November 2014

Catatn dari Darul Aitam

Darul Aitam (17/11), masih serangkain acara Majlis Rosulullah. Acara berlangsung dari pagi hingga siang. Acara ini diisi oleh Hubabah Nur, dan juga alumni Ponpes tarim.
-          Terdapat dua kewajiban yaitu kewajiban mualamah kepada Allah, dan juga muamalah kepada makhluk
-          Siapa yang jalannya menuju ilmu, maka akan dipermudah jalannya menuju surga
-          Ketika melihat ulama, pandanglah dengan baik, perbanyak niat yang baik
-          Ilmu dan amal adalah cara dekat dengan waliyullah
-          Jadikan ilmu seperti garam dan adabmu seperti tepung.
-          Niat itu tempatnya di hati. Melafalkan hukumnya sunnah. Dan niat itu mendahului amal.
-          Maksiat membuat ilmu menajdi susah masuk ke dalam hati
-          Bersyukur adalah cara untuk menjaga nikmat dari Allah
-          Dagangan akhirat adalah amal. Modal utamanya adalah waktu. dan hartanya adalah masa muda. Maka manfaatkanlah dengan baik.
-          Diantara tujuh golongan yang dilindungi kelak di akhirat adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah
-          Dizikir adalah ibadah yang paling tinggi disisi Allah
-          Amal lebih utama daripada puasa sunnah, sholat sunnah, syuhada, sedekah, berdizikir
-          Ramaikanlah waktumu dengan berdizikir
-          Iman seperti bisa yang bisa berkarat, oleh karenanya harus diperbaharui dengan cara memperbanyak berdizikir
Dari Hubabah Khodijah, beliau merupakan besan dari Hubabah Nur, berasalah dari Abu Dhabi yang tak lain adalah muris dari Habib Ali.
-          Pergi ke majlis dengan niat ingin mengambil manfaat lantas mengamalkannya dapat membaut derajat menjadi naik
-          Salah satu perkumpulan/majlis yang penuh barokah adalah, perkumpulan di padang arafah, sholat jama’ah dan majlis ilmu
Ummu Muhammad, berasalah dari New Zeeland,
-          Kelak ketika tiba masanya, kuburan kita akan terbagi. Berkumpulnya waktu kita ketika maksiat, kosong, dan ketika taat. Ketika kita diperlihatkan saat dimana kita senantiasa taat, kita akan bahagia dan penuh dengan cahaya. Ketika diperlihatka, waktu kosong kita didunia, kita akan merasa penuh sesal dan sekeliling kita menjadi gelap. Sedangkan ketika diperlihatkan kepada kita saat dimana kita maksiat, kita akan menangis, dan sekeliling kita menjadi penuh api neraka.
-          Dikisahkan oleh beliau, bahwa Nabi Muhammad ketika duduk di majlis bisa taubat sampai 70x, karena sesunguhnya penyakit maksiat hanya bisa obati dengan banyak beristigfar.
n-anganBetapa ruginya manusia jika waktunya digunakan untuk berangan-angan serta menunda untuk taat.
Kebahagiaan terletak pada keterikatan kita dengan sang pencipta, Allah
 -          Ada tiga sayarat, wanita bolehmembuka mukakanya
1.       Janganlah berbdandan,, termasuk tanpa pacar, tanpa celak, tanpa cincin dsbg
2.       Bukan wanita yang cantik
3.       Yakin tidak dilihat oleh laki-laki
Hak suami atas istri hanya dua, yiatu
1.       Ketika suami minta jima’
2.       Tidak keluar dari rumah tanpa seijin suami
   
Read More

Minggu, 27 April 2014

Kuliah dan Mondok itulah Pilihan Hidupku ..

Hidup itu pilihan. Kita boleh memilih A juga boleh memlih B, tapi bagaimana jika aku memutuskan bahwa aku memilih A juga memilih B? Sulit memang, banyak konsekuensi-konsekuensi yang harus di hadapi.  Kuliah dan mondok. Itulah pilihanku.
“Hidup itu pilihan. Kamu pilih kuliah saja atau mondok saja. Tidak mungkin kamu bisa melakukan dua-duanya sekaligus, salah satu pasti ada yang dikorbankan. Kalau pengen mondok, nanti setelah lulus kuliah mondok 50 tahun lalu jadi pendakwah wanita. Daripada kamu kuliah malah ngantuk tidur terus sedangkan di pondok kepikiran kuliah. Enggak lulus-lulus 14 semester, kalau luluspun karena dapet kasihan dari dosen. Enggak mungkin mbak kamu bisa dapat dua-duanya, kamu mesti h pilih salah satu. Kuliah saja atau mondok saja. Kalau kamu memang pengen belajar agama, kamu seharsnya di IAIN aja bukannya di kampus ini. Saya tidak bilang kalau kamu mondok itu buruk, tidak itu adalah hal baik. Tapi hidup adalah pilihan mbak.”
Dadaku terasa sesak mendengar pernyataan itu keluar dari salah satu dosenku. Tak terasa air mata mulai merembes dari kedua mataku. Ingin aku menyanggah. Tapi urung kulakukan, nyatanya aku memang suka tidur di kelas dan itu tidak terbantahkan. Aku pun tak ingin masalah ini  menjadi runyam, apalagi aku dikira mahasiswa yang tidak sopan. Biarlah beliau dengan prinsipnya seperti itu dan aku dengan prinsipku seperti ini.
Ya hidup itu memang pilihan, dan salah satu dari pilihan hidupku adalah kuliah dan mondok. Memang tidak mudah, ini penuh dengan tantangan. Bagaimana aku dituntut untuk dapat membagi waktu antara tugas kuliah dan tugas pondok, bagaimana aku dituntut untuk prihatin dengan keadaan pondok, bagaimana aku dituntut untuk tetap amanah dalam mengemban tugas-tugas di pondok. Semunya penuh dengan tantangan dan pengorbanan.
Aku bahagia dapat merasakan nikmatnya di pondok pesantren. Alasan pertama karena mata pelajaran yang aku pelajari di pondok adalah tentang agama. Dimana ilmu agamalah yang wajib pertama kali di pelajari oleh setiap mu’min dan mu’minah. Terlebih ilmu fikih yang berkaitan dengan ibadah kita kepada Allah, selain ada ilmu bermuamalah juga. Pondok sebagai miniatur masyarakat yang memiliki beragam kompleksitas, disanalah aku belajar praktiknya langsung tidak secara teori seperti banyak yang di ajarkan di kampus. Entah dengan materi  teori humanistik, pendidikan multikultural, pendidikan orang dewasa, dll. Aku bersyukur meski aku terhitung kurang cepat dalam belajar, meski ini kali pertama aku mondok tak apa setidaknya Allah masih mengijinkanku mondok. Alasan kedua, aku percaya pada keberkahan yang Allah berikan kepadaku ketika aku di pondok. Sesuatu yang membuat apa yang aku miliki menjadi lebih baik dzahir maupun batin yang kadang sulit untuk di logika. Dengan kita mendapat barokah, hidup akan terasa aman, nyaman, semua di mudahkan Allah. Alasan ketiga, dengan aku mondok aku lebih dekat dengan kiai. Kiai tidak seperti dosen yang hanya menolong ketika bimbingan skripsi, menolong dalam memahami materi perkuliahan. Lebih dari itu kiai dengan ilmunya dengan keberkahannya, InsyaAllah beliau bisa menolong kita dari panasnya api neraka, menolong kita yang tersesat kebingungan di pada mahsyar, menolong kita ketika di hisab, menolong kita fitnah dunia dan fitnah kubur.
Hidup di dunia itu sementara, hanya mampir minum. Buat apa kita membanggakan kesuksesan kita dunia, apa kah sukses kita dunia akan menjamin sukses di akhirat nanti? Memangnya apa definisi sukses? Apakah dikatakan sukses jika kita bergelimang harta? Nyatanya manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Sukses tidak selalu apa yang terlihat oleh mata. Sukses itu letaknya di hati, ketika kita bersyukur atas apa yang dimiliki saat itulah kita merasa sukses. Itu menurut saya.
Siang itu A3 206 menjadi saksi keteguhan hatiku. Aku ingin membuktikan bahwa meskipun aku mondok dan kuliah itu tidak akan menjadi penghalang bagiku untuk lulus tepat waktu dan lulus di waktu yang tepat, atas izin Allah atas Rahmat Allah bukan karena rasa iba dari dosen. Ilmu itu miliki Allah bukan milik dosen, dosen hanya salah satu penyampai ilmunya Allah.
Maka aku berdoa, “Ya Allah, Engkau tuhan yang maha mengetahui. Engkau Tuhan yang maha berkehendak. Ya Allah tiada Tuhan selain Engkau, hanya Engkaulah tempatku meminta. Ya Allah, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat, luluskanlah aku tepat waktu dan di waktu yang tepat. Ya Allah berkahilah ilmuku, rizky ku, hartaku, dan hidupku. Ya Allah sesungguhnya Engkaulah Dzat yang maha melihat lagi maha mendengar. Hanya kepada-Mu lah hamba berpasrah diri, hamba hanya memohon rahmat, rahim serta ridhomu. Aamiin.”
Semarang, 23 April 2014


Read More

Sabtu, 29 Maret 2014

Surat untuk Calon Presiden-Pendidikan Nonformal yang Terabaikan

Semakin dalam aku masuk, semakin aku akan paham kondisi mereka. Semakin kencang aku akan mendengar deru suara hati mereka. Aku ingin menenggelamkan diri diantara mereka dan merangsek maju. Tetaplah semangat wahai pegiat pendidikan non formal. Tetaplah semangat wahai teman-temannku PLS calon pegiat Pendidikan Non Formal.
Tulisan ini aku persembahkan untuk kalian semua. Insyaallah akan dimuat dalam salah satu buku yang diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, merupakan juara tiga dalam even menulis "Surat untuk Calon Presiden" oleh Pena Meta Kata.
Teruntuk calon presiden Republik Indonesia yang saya hormati..
Pendidikan adalah aspek terpenting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Saya percaya Anda setuju, begitu juga dengan saya. Saya percaya Anda juga tau bahwa Indonesia mengenal tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Saya percaya Anda tau maksud dan penjabaran dari ketiga jalur pendidikan tersebut. Dan disini saya hanya ingin mengabarkan kepada Anda tentang perasaan saya. Perasaan saya sebagai seseorang yang menggeluti pendidikan nonformal. Seseorang yang merasa bahwa jalur pendidikan yang digelutinya diabaikan dan dianak tirikan oleh jalur pendidikan formal.
Ketika orang mendengar kata pendidikan, yang terlintas di benaknya adalah sebuah jenjang pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi. Banyak yang mengabaikan sebuah jalur pendidikan yang berpusat pada masyarakat, ya pendidikan nonformal. Sebuah pendidikan yang sudah berjasa besar pada bangsa Indonesia jauh sebelum kita mengenal pendidikan formal. Melalui jalur pendidikan nonformalah buta aksara dapat terentaskan, melalui jalur pendidikan nonformalah peserta didik yang tidak memiliki cukup biaya untuk bersekolah di jalur pendidikan formal yang mengeluarkan biaya besar dengan sebentuk peraturan pendidikan di dalamnya tetap dapat memperoleh pendidikan yang terlayani dalam jalur pendidikan nonformal. Tapi mengapa dibalik jasa-jasanya, jalur pendidikan nonformal tetap saja terabaikan? Peraturan hukum yang tidak berpihak pada PNF. Fasilitas yang tidak merata dan tidak mencukupi bagi para pegiat PNF, anggaran dana pendidikan terutama dari APBD yang seringkali tidak tersedia bagi program PNF, badan induk PNF yang berubah nama hanya demi menuruti tren, dan lain-lain. Saya berharap, Anda dapat lebih memerhatikan PNF untuk Indonesia yang lebih maju.
Biodata penulis
Nama Noor Salamah, lahir di Jepara sekarang sedang menempuh S1 Pendidikan Luar Sekolah di Universitas Negeri Semarang. Dapat dihubungi melalui facebook : salma van licht atau e-mail di salamah_chan@yahoo.com
Read More

Kamis, 13 Maret 2014

Kado yang Dinanti, Novel Bumi Karya Tere Liye

Semenjak pengumuman pemenang sayembara resensi buku yang diadakan oleh pamerbuku.com. Hatiku berdebar. Disana tertera namaku sebagai pemenang resensi fiksi, saat itu novel yang aku pilih adalah Dua Ordo karya Hermes Dione. Sebuah novel yang unik namun juga perlu dicermati ketika membacanya. Betapa tidak, penulis berhasil meramu kondisi keberagaman agama, pengharapan masyarakat Jawa, serta konflik yang terjadi pada masa pemilu. Novel ini bergenre spiritual futuristik, namun kenyataanya banyak hal yang bertentangan dengan pemikiran agama saya soal novel ini. Lebih lanjut lagi resensi saya bisa dibaca pada http://jejaksalamah.blogspot.com/2014/03/pemahaman-yang-salah-tentang-agama.html dan http://jejaksalamah.blogspot.com/2014/02/pluralisme-dalam-novel-dua-ordo-karya.html. Resensi yang saya tulis inilah yang kemudian mengantarkan mimpi saya, mimpi memiliki buku karya penulis hebat Tere Liye. Mimpi saya terwujud, pada hari rabu tanggal 12 Maret 2014 sepulang dari kuliah saya mendapati sebuah paket dari pamerbuku.com. Syukur alhamdulillah saya ucapkan, begitu membuka saya melihat novel karya Tere Liye judulnya Bumi, novel terbaru terbit tahun 2014 cetakan pertama. Padahal sebelumnya saya sempat khawatir takut paket kirimannya nyasar,karena sebelumnya saya sempat salah dalam menulisakan alamat pondok saya, yang seharusnya rt2 rw5 Banaran menjadi rt2 rw 3 Banaran. Alhamdulillah, hadiah itu masih rejeki saya.
Read More

Kamis, 20 Februari 2014

SAJAK UNTUK CALON IMAMKU

Tak menyangka puisi yang saya buat ini bisa masuk dalam antologi puisi Cinta Dalam Hati terbitan Mafaza Media. Puisi ini memang menggambarkan isi terdalam hatiku. Meski di luar sana terkadang aku masih bingung menafsirkan hatiku sendiri.
Read More

Senin, 30 Desember 2013

Semburat Jingga di Hatinya

Alhamdulillah, cerpen ini lolos dalam ajang lomba "Sayembara,I will survive" yang diadakan oleh inspirasi.co dan agen bondan prakoso. Meski tidak masuk dalam karya terbaik dan banyak terkomentari, setidaknya masuk dalam kategori paling banyak di share di media sosial dengan hadiah kaset CD lagu I will survive dan ttd bondan asli. Alhamdulillah.
Read More

Minggu, 15 Desember 2013

Pesan dari Kaca Mata Pecah

Aku bukannya orang yang baik. Karena aku sering mengabaikan nikmat Allah, melalaikan kasih sayang Ibu, seringkali aku mengeluh ini itu. peristiwa pecahnya kacamataku pada tanggal 20 Februari menjadi teguran bagiku. Allah sedang menegurku. Aku semestinya tidak terbawa emosi menanggapi pernyataan ibu hingga aku berujar “Mungkin hal yang paling aku rindu adalah ziarah ke makam bapak.” Aku salah. Dari pernyataan ini aku mengisyaratkan bahwa aku tak merindukan orang lain termasuk ibu. Aku mengingkari nuraniku sendiri. Kenyataannya ketika aku marah, lalu ibu tidak tidur sekamar denganku aku rindu padanya aku menyesali kesalahannku. Tapi aku tak meminta maaf duluan, tapi aku tak mengawali obrolan duluan. Aku anak yang durhaka, anak yang jahat. Hanya karena ibu mengingatkanku pada dosa lamaku, maka aku marah. Semestinya aku lebih bisa bersabar, sadar diri mungkin karena ibu tidak tau. Sore itu aku menangis dalam kamar, hingga aku tanpa sengaja menginjak kaca mataku samapi pecah. Pecahnya kaca mataku, berakibat pada pengeluranku yangbesar di bulan ini. Biaya pondok, has, fotokopi buku ditambah kacamata. Uangku ludes. Tapi aku tidak mau meminta uang pada keluargaku, keluargaku sendiri sedang kesulitan dana karena masku akan menikah. Sampai saat ini dengan uang yang tersisa di dompetku apakah aku mampu pulang dengan biaya sendiri tanggal 20 nanti untuk menghadiri pernikahan masku ? entahlah akan seperti apa jadinya nanti, pokoknya aku sudah janji akan pulang. Aku yakin dengan cara-Nya Allah mencukupiku seperti dengan cara-Nya pula Allah menegurku.
Read More

Daun yang Gugur Selalu Melahirkan Daun yang Baru

Daun yang Gugur Selalu Melahirkan Daun yang Baru, merupakan sebuah karya yang pernah saya ikutkan dalam lomba kisah inspirasi yang diadakan oleh inspirasi.co. Namun ketika pada tanggal 15 Desember, saya membuka situs tersebut dan ternyata saya belum beruntung. Saya harus ikhlas. Saya percaya semua ini pasti ada hikmahnya. Walau disaat kondisi keuangan saya saat itu benar-benar mepet. Uang di ATM tinggal 100 dan itu biaya hidup sampai uang BM turun, sedang uang BM turun tidak dapat dipastikan kapan turunnya. Saya belum membayar lunas uang ziarah pondok, saya belum membayar lunas kitab, saya belum membayar lunas ianah madin, dan masih banyak keperluan lainnya.


Di sebuah senja ketika hujan turun rintik-rintik, aku berdiri termangu di depan pintu. Menatap kosong kendaraan yang lalu lalang di depanku. Tapi sesungguhnya pikiranku melayang jauh, mengikuti keranda yang membawa jenazah Ayahandaku tercinta menuju ke pengistirahatan terakhirnya.
Ayahandaku di usianya yang memasuki 64tahun meninggal karena tak sanggup lagi bertahan dari penyakitnya, typus dan paru-paru. Kami anaknya berusaha membujuk berkali-kali agar Ayah bersedia memeriksakan diri ke dokter, tapi beliau menolak. Ayah tidak suka obat, Ayah tidak suka ke dokter dan Ayah tidak suka berada di rumah sakit. Hingga suatu waktu di akhir bulan Ramadhan, ketika Ayah usai berwudlu dan hendak mendirikan sholat Isya, Ayah terjatuh. Tubuhnya lunglai, wajahnya pucat pasi, napasnya sulit. Kami segera menghubungi saudara meminjam mobil untuk kami membawa Ayah periksa ke dokter. Sebelumnya Ayah tak pernah mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya buruk. Ayah hanya mengaku kelelahan, butuh istirahat. Selalu seperti itu ketika ditanya. Sakit yang diderita Ayah memang tak begitu lama, semenjak Ayah jatuh hingga pada tanggal 16 Oktober 2008, Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi cukuplah pukulan itu keras mengahantamku. Ayahku yang begitu aku sayangi, Ayahku yang begitu aku hormati, Ayahku yang sebagai pelindungku, Ayahku sebagai penopang hidup kami, Ayahku yang begitu dekat di hatiku, kini telah pergi takkan pernah kembali.

Hujan tak juga berhenti, rintik-rintiknya seolah turut bersimpati terhadapku. Angin berhembus menerbangkan daun-daun tua nan kering dari pohon Mangga sehingga daun-daun tersebut berguguran di halaman rumahku. Ku alihkan pandangan keatas pohon, terlihat bibit daun yang masih muda berwarna coklat. Masih sangat muda. Sebuah hukum kausalitas menyadarkanku. Sebagaimana daun yang gugur itu akan selalu melahirkan daun yang baru, begitu pula dengan sebuah kematian yang akan menimbulkan sebuah kelahiran. Ini sudah sunnatullah. Kenyataan ini pula yang menuntutku untuk tidak lagi terpuruk meratapi kepergian Ayah. Seperti halnya daun yang gugur sudah pasrah dan ikhlas menerima kegugurannya, aku yakin Ayah pun demikian. Seperti halnya daun muda yang baru lahir bersemangat menyambut dunia yang baru, aku pun yakin bayi yang di kandung Mbak Ning pun demikian. Aku tak boleh mematahkan semangatnya dengan keterpurukan diriku. Karenanya, untuknya, bersamanya aku harus bangkit. Akan aku hadiahi kelahirannya dengan senyum termanisku. Tak boleh ada air mata dihadapannya. Kelahiran selalu memunculkan harapan-harapan baru, membangkitkan harapan lama yang tak terwujud, bersama kita akan wujudkannya. 
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com