Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here

Jumat, 01 April 2016

ALMARI PENYELAMAT



Nayla, gadis kecil berkucir dua yang baru berumur lima tahun itu duduk di atas ayunan sambil memperhatikan siswi Madrasah Aliyah yang lalu lalang di depan rumahnya. Mata kecilnya tak henti mengikuti setiap gadis yang lewat dengan seragam putih abu-abu lengkap dengan jilbab putih besar mereka.
Assalamualaikum.” Seorang gadis berseragam Madrasah Aliyah membuka pintu pekarangan. Nayla turun dari ayunan dan bergegas menghampirinya.
“Kakak kapan Nay bisa pake seragam sekolah baru?” Nayla menarik-narik rok Farah. Farah berjongkok, dan memegang pundak Nayla.
“Sabar ya Nayla, Insyaallah seragam barumu jadi sebentar lagi.”
“Nay, pengen jilbabnya Nay ada bordirannya kak, kecil-kecil ja, trus ada nama Nayla disana. Bisa kan?”
Farah mengangguk ia kemudian membimbing Nayla masuk ke dalam rumah.
***
“Nayla kakak berangkat dulu ya, seragammu kakak gantung di almari. Baik-baik ya disekolah nanti.”
“Iya kak.” Nayla mencium tangan Farah.
Assalamualaikum.
Waalaikum salam.
Nayla memandang seragam sekolah yang tergantung di almari. Ia ambil, lalu ia patut-patutkan dirinya dan seragam tersebut pada kaca almari. Baju panjang sampai lutut berwarna biru tua dan celana panjang setumit warna senada sebagai pasangannya adalah jilbab putih di ujung-ujung jilbab terdapat bordir bunga kecil berwarna biru dan namanya Nayla. Seragam itu adalah buatan Farah sendiri. Di rumah sederhana ini mereka hanya hidup berdua. Kedua orang tua mereka sudah lama tiada. Mereka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Farahlah yang kemudian membesarkan Nayla, ia pulalah yang berusaha sekuat tenaga untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Nayla sedang menyisir rambutnya bersiap berangkat sekolah. Tiba-tiba ia merasakan guncangan yang sangat dahsyat. Lampu kamar bergoyang. Tanah yang Nayla pijak bergetar dengan kuat. Dinding-dinding retak. Nayla menjerit memanggil kakaknya, Farah. Tapi Farah tak jua datang. Ia begitu ketakutan, ia bergegas lari keluar rumah. Namun di tengah perjalanan  Nayla teringat jilbab barunya. Jilbab yang dibuat Farah dengan susah payah. Jilbab yang telah begitu lama ia dambakan. Ia ambil jilbab yang masih tergantung di lemari dan langsung ia kenakan jilbab tersebut. Gempa dahsyat itu belum juga berhenti. Bahkan semakin terasa kuat. Tiba-tiba almari dihadapannya roboh ke arah Nayla.
“Aaaaaa...!” Nayla menjerit keras melihat almari tersebut roboh kearahnya.
Gelap, Nayla hanya melihat gelap pengap dan sempit. Ia raba ruang di sekelilingnya. Ada banyak sekali baju di sekelilingnya. Nayla berada dalam Almari yang roboh. Sekuat tenaga ia dorong Almari itu ke atas. Percuma dirinya yang kecil takkan mampu mendorong almari tersebut.
“Kak Farah.. hiks hiks hiks .. kak Farah tolong Nayla..”
Nayla terus memanggil nama kakaknya, meminta tolong dan menangis. Reruntuhan atap rumah mulai menghantam almari. Semakin lama napas Nayla terasa semakin sesak.
***
Farah berlali sekuat tenaga menuju rumahnya. Begitu gempa terjadi yang terlintas pertama kali dalam benaknya adalah bagaimana keadaan Nayla. Adik yang begitu ia sayangi. Farah menyisir rumahnya yang kini telah menjadi puing-puing.
“Nayla! Nayla! Nayla!” Farah memanggil nama adiknya.
Di dalam almari samar-samar Nayla mendengar suara kakaknya. Dengan sisa tenaga yang ada, Nayla berusaha membalas panggilan kakaknya.
“Kak Farraah..” terdengar begitu lemah
Farah mendengar suara adiknya. Ia bergegas mencari sumber suara dan mendapati suara itu berasal dari almari di kamarnya.
“Nayla bertahanlah, kakak datang.”
Farah mencoba mengangkat almari itu ke atas. Gagal tenaganya tidak sebanding dengan almari. Tak patah semangat Farah mencoba mencari tuas yang bisa ia gunakan untuk membantu mengangkat almari. Farah menemukannya, sebuah tongkat panjang dari reruntuhan atap rumahnya.
“Bismillahirrohmanirrohim, la haula wa la kuwwata illa billah.” Farah mencoba kembali mengangkat almari. Ajaib, ia berhasil. Farah langsung mengangkat Nayla memelukknya erat dengan penuh air mata. Ia bersyukur adiknya masih selamat. “Alhamdulillah ya Robb.”
Farah masih memeluk Nayla ketika iba-tiba gelombang air besar setinggi 30 m terlihat dari arah pantai. Farah kaget. Ia tidak sempat lari. Gelombang air tersebut sudah menyeretnya mengikuti arus. Sekuat tenaga ia berusaha mencapai permukaan dengan tetap memeluk Nayla.
“Hosh hosh hosh..” Farah melihat daerah di sekitarnya penuh dengan air. Berbagai macam reruntuhan mengapung dia atas air. Dari arah samping kanan, Farah melihat almari miliknya sedang terapung-apung. Tanpa pikir panjang Farah berusaha meraihnya. Hal yang pertama ia lakukan adalah menempatkan Nayla terlebih dahulu diatasnya baru kemudian Farah. Selama berjam-jam lamanya mereka terapung-apung di atas almari. Nayla masih belum sadarkan diri, sedangkan Farah tak hentinya berdoa berharap akan ada yang menyelamatkan mereka.
***
“”Hey lihat, ada seseorang yang terapung-apung diatas almari di sebelah sana!”
Salah seoarang anggota SAR yang duduk diatas perahu karet menyeru temannya yang lain. Mereka pun menghampiri korban yang selamat tersebut. Farah dan Nayla akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat. Mereka kemudian dibawa ke tempat pengungsian.
Gempa sebesar 9,3 SR yang melanda daerah Aceh dan Sumatra Utara pada tanggal 26 Desember 2004, gempa yang kemudian memicu gelombang tsunami sebesar 30 m telah menewaskan begitu banyak korban dan menyebabkan kerugian ratusan juta rupiah. Banyak rumah-rumah penduduk roboh,  jalan-jalan , tempat ibadah , rumah sakit, sekolah dan bangunan-bangunan lainnya rusak.
***
Noor Salamah, lahir pada tanggal 23 Juni 1994 di kota ukir Jepara. Gemar menulis sejak SMP dan masih dalam proses belajar menulis. Pembaca bisa mengirimkan kritik dan saran melalui, email : salamah_chan@yahoo.com. Facebook : salma van licht. Twitter : @salma_skylight atau ke nomor hp. 089668214948.


Read More

Di Balik Rak itu, Aku Menemukanmu

Di Balik Rak itu, Aku Menemukanmu

Masih di tempat yang sama. Di balik rak itu, aku menemukanmu. Duduk tenang seolah kau hidup dengan duniamu sendiri. Tak terusik, siapapun dan apapun. Bahkan hujan yang turun deras sekali, hanya kau lirik dari kaca jendela di sampingmu. Sesekali kau menaikan kaca matamu yang turun. Beberapa tumpuk buku berada di pinggir mejamu. Sementara itu matamu bergerak fokus mengikuti alur setiap abjad yang tersusun dari buku yang kau pegang. Mencoba memasuki dimensi ruang dan waktu yang dicipta sang penulis. Hanyut dalam emosi, seolah-olah kaulah yang mengalami semua peristiwa itu. Sukmamu mungkin sudah terbang bersama imaji yang kau racik. Dengan bumbu-bumbu fantasi penuh misteri. Di salah satu sudut ruangan ini, kau menyepi sendiri, mengucilkan diri dari hiruk pikuk, sibuknya dunia yang tak pernah sepi. Membenamkan diri di dalam setumpuk buku.
Aku selalu menemukanmu di balik rak itu, selalu di waktu yang sama. Di hari sabtu, di balik rak penuh buku misteri. Sama seperti dirimu yang penuh misteri. Dan kau akan menghabiskan waktumu dari pukul dua siang hingga perpustakaan ini tutup. Dan kaupun akan pergi, dengan ekspresi penuh kesedihan seolah-olah kau telah kehilangan belahan jiwamu. Tapak kakimu terasa berat sekali tatkala kau paksa dirimu tuk pergi. Aku merasakannya, sebagian hatimu sengaja kau tinggalkan disini.
Hari ini kau datang lagi. Selalu seragam coklat itu yang kau kenakan, dan kau terlihat amat manis kali ini, layaknya sebuah coklat. Kau isi kehadirin di komputer dekat tangga. SLTA. Itulah yang kau klik. Kau ambil kunci loker yang aku sodorkan. Membuka loker, menaruh tas. Mengunci kembali loker, lalu kunci itu kau serahkan kembali padaku sedangkan kau hanya memegang selembar kertas tanda nomor loker. Berjalan santai, menuju tempat favoritmu. Dibalik rak buku misteri dekat jendela. Tentu saja sebelumnya kau akan mengambil beberapa buku misteri dari rak di sampingmu. Rak itu berisi buku-buku karya penulis luar negeri, seperti Agatha Christie, Sandra Brown, Jeffery Deaver, Daniellie Steel, Diana Palmer, Rebecca Winters, Barbara Delinsky dan lain-lain. Tak banyak pengunjuang lain yang tertarik dengan buku-buku di rak itu. Alasan pertama kebanyakan buku itu sudah jelek, baik cover maupun kertas isinya. Alasan kedua, kebanyakan buku-buku itu merupakan cetakan lama tahun 90 hingga 20-an. Alasan ketiga, tak banyak yang suka novel terjemahan. Mungkin kau termasuk diantara sedikit yang masih menggemarinya buku-buku jenis itu. Terutama buku yang ditulis Agatha Christie. Ku pikir kalian memiliki kesamaan, sama-sama menyukai kisah penuh misteri. Kasus pembunuhan terutama. Agaknya, kau bercita-cita jadi seorang detektif, yang berhasil mengungkap berbagai kebenaran dibalik teka-teki.
Denting panjang bunyi bel terdengar keras dari setiap spiker yang terpasang di langit-langit ruangan. Tanda bahwa lima menit lagi perpustakaan akan tutup. Kau terlihat sedikit gugup. Kau bergegas pergi menghamipiriku, meminta kunci loker. Pada kesempatan ini aku beranikan diri bertanya padamu.
“Enggak minjem buku Mbak?”
“Enggak Mas, belum punya kartu.”
“Ya buat to Mbak. Caranya mudah kok, tinggal ngisi formulir. Minta tanda tangan guru dan pengesahan dari sekolah. Ini formulirnya.” Aku sodorkan padanya selembar formulir pendaftaran anggota perpustakaan. Dia menerimanya tanpa banyak kata selain mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku.
Hujan turun semakin deras, dari yang tadinya hanya sekedar rintik-rintik ketika aku mengunci pintu perpustakaan ini. Dan betapa aku terkejut, melihat dia masih berada di sini. Duduk sendiri di bangku kayu panjang depan pintu perpustakaan. Matanya menerawang menatap ke langit yang gelap. Mendung semakin tebal nan pekat, pun hari semakin sore.
“Nunggu siapa Mbak?”
Dia menggelang lemah. Tidak menunggu siapa-siapa, tidak menunggu jemputan, jadi mungkin dia menunggu hujan reda untuk pulang.
“Hujannya mungkin akan berlangsung lama. Rumahmu dimana?”
Wajahnya kini semakin sedih, ketika aku mengatakan hujannya mungkin akan lama.
“Potroyudan, Mas.”
Tak terlalu jauh, batinku.
“Mau tak anter?”
Aku menawarkan sebuah solusi. Tapi ia justru memandangku dengan tatapan aneh. Mungkin aku dianggap lancang, baru ngobrol pertama kali. Tau-tau menawari sebuah boncengan.
“Ndak Mas, ndak usah repot-repot. Saya nunggu hujan reda aja.”
Aku terdiam. Menatap langit yang kian gelap. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku buka kembali pintu perpustakaan. Ketemu, ini akan menolong. Aku kembali lagi duduk di sampingnya. Menyodorkan sebuah payung kepadanya. Matanya menatapku, mengisyaratkan sebuah tanya.
“Pakailah, tak apa. Ini adalah inventaris perpus. Boleh digunakan kok.”
“Terima kasih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Mas. Assalamualaikum.
Dia pun pergi, berlalu bersama payung yang melindunginya. Semakin jauh, hilang diantara tetes air hujan.
Seminggu kemudian, kau datang lagi kesini. Masih mengenakan seragam coklat. Dengan rutinitas seperti biasa. Sepertinya kau menyengaja menjadi pengunjung terakhir kali ini. Bahkan kau juga sepertinya sengaja menungguku, hingga perpustakaan ini hendak aku tutup. Saat itulah kau mencegahku.
“Tunggu Mas, jangan di tutup dulu.”
Aku menoleh heran menatapmu. Kau kemudian menyerahkan sebuah payung yang dulu aku pinjamkan.
“Saya cuma mau mengembalikan ini Mas, makasih.”
“Tapi di luar gerimis, tak apa kalau kamu mau minjam lagi.”
“Enggak Mas, enggak perlu. Saya sudah bawa payung sendiri kok. Terima kasih saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.
Waalaikum salam.
Kau mekarkan sebuah payung berwarna hijau emarld dengan hiasan sedikit bunga. Kau pun kemudian berlalu, pergi menghilang diantara tetes hujan. Mungkinkah besok aku memiliki alasan lagi untuk bercakap-cakap denganmu? Semoga, kesempatan yang baik itu akan datang lagi.
Rupanya doaku tidak di ijabah. Kesempatan itu tidak datang lagi. Bahkan aku tak lagi menemukanmu di balik rak itu. Aku selalu menunggu hari sabtu tiba, namun ketika sabtu bersua kecewa jua yang kudapat. Aku bahkan belum sempat tau siapa namamu. Dimana kamu sekolah. Rindu ini sungguh menyesak di dada. Semakin lama semakin membuat aku susah bernapas. Setiap ada gadis berseragam coklat datang ke perpustakaan di hari sabtu, aku selalu berharap itu kamu. Namun aku hanya berhalusinasi. Faktanya kamu tak pernah datang. Dan aku baru sadar bahwa, benang merah jambu sudah terlanjur menjerat hatiku. Aku pun belum sempat menyampaikan kegelisahan hatiku kepadamu. Mengutarakan isi hatiku, betapa aku menyukaimu.
***
Noor Salamah, lahir pada tanggal 23 Juni 1994. Putri pasangan M. Ma’ruf (Alm) dan Ibu S. Muzaronah ini hobinya membaca dan menulis. Sejak 2012 melanjutkan studi S1 Pendidikan Luar Sekolah di Unnes. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail : salamah_chan@yahoo.com, fb : salma van licht atau twitter : @salma_skylight.


Read More

Jaran Setan

Jaran Setan

Ada yang aneh di rumah ini. Sesuatu yang biasanya tak pernah terjadi. Beberapa hari terakhir, setiap kali malam menjelang terdengar suara kasak-kusuk dari arah tong sampah. Awalnya Rosyid mengira itu hanya tikus atau kucing biasa. Maka Rosyid abaikan. Namun setelah dicermati suara itu kian aneh, bukan suara tikus bukan pula suara kucing.
Suatu malam ketika Rosyid sedang tidak bisa tidur, suara aneh itu mengusik rasa penasarannya. Rosyid pun pergi ke arah tong sampah, betapa terkejutnya ia ketika melihat Harun berada di sana. Bergumul dengan sampah.
“Harun! Apa yang sedang kau lakukan?!” Rosyid menarik tubuh Harun mundur kebelakang. Harun yang ditarik meronta, namun amarah membuat tenaga Rosyid lebih besar.
Orang serumah jadi ramai. Harun didudukkan di atas kursi. Ia di awasi saudaranya-saudaranya. Malam itu, Ibu Rina, Rosyid, Badrun, Nasir, dan Pelita menatapnya dengan nanar.
Kowe geneo Nang?” pertanyaan itu terus diajukan Ibu Rina kepada anak keduanya, sesekali sambil terisak bingung dengan semua kejadian ini. Sementara yang ditanya, terus diam dan tatapannya justru terlihat kosong.
Rosyid berbisik kepada adik-adiknya yang lain.
“Harun harus diawasi!” yang lain pun mengangguk mengiyakan.
***
Ibu Rina dan keluarga semakin cemas akan kondisi Harun yang kian memburuk. Berhari-hari ia susah makan, susah tidur, susah bicara, sering melamun, dan tiap malam selalu kluyuran. Badannnya jadi kurus, matanya cekung.
“Ibu tau kenapa tiba-tiba Harun bertingkah aneh seperti ini?” pertanyaan itu terlontar dari Pelita, gadis yang tengah menginjak usia remaja, putri bungsu Ibu Rina.
Ibu Rina menggeleng.
“Hanya saja, satu minggu sebelum Harun jadi seperti ini. Harun izin pamit sama ibu mau pergi ziarah ke Rembang sama temannya. Ibu ya mengijinkan aja. Sebelumnya Harun begitu sering mengungkapkan keinginannya untuk menikah. Menikah dengan Lyra, cucunya Mbak Khuzen. Ibu ya gak setuju ya, dia kan masih saudara kita dan lagi kalian tau sendiri bagaimana kondisi Lyra, cacat. Sedangkan Harun sendiri seperti itu, belum mapan, belum dewasa. Bagaimana ia mampu merawat Lyra? Dan bagaimana Lyra mampu merawat Harun?”
Ibu Rina mulai terisak, Pelita merangkul ibunya. Mengelus-ngelus punggung ibunya. Semua orang kini diam. Menunduk. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
 “Nanti sore, kita bawa Harun ke orang pintar. Aku rasa ada yang mengganggu Harun.”
Rencana itu pun dilaksanakan. Nasir mengajak Harun pergi, berboncengan motor dengannya. Nasir pasangkan helm di kepala Harun. Motor mulai melaju. Tiba-tiba saja ketika motor melewati rumah Lyra, Harun terlonjak. Memukul kepala Nasir dengan helm. Motor jadi tidak stabil, bahkan hampir jatuh. Harun meloncat turun, menggedor-gedor gerbang rumah. Gerbang terbuka. Ia kemudian berlari ke arah pintu. Menggedor-gedornya keras. Tapi pintu itu tidak terbuka. Nasir yang coba menghentikannya ia pukul ke belakang. Harun terus menggedor pintu. Orang jadi ramai ingin melihat apa yang terjadi. Akhirnya Harun berhenti ketika ia lelah. Tubuhnya melemas, jatuh perlahan ke lantai. Nasir masih menunggunya hingga ia sadar. Petang mulai menjelang. Adzan magrib mulai berkumandang. Orang-orang bergegas ke masjid, salat berjamaah. Nasir tidak kuat jika ia harus membopong Harun sendirian kembali ke rumah. Tapi ia pun harus salat. Untunglah saat itu, Rosyid datang, maka ia bergantian menjaga.
Rumah Lyra cukup besar. Bertingkat dua, dengan halaman yang tak terlalu kecil. Ada pohon mangga besar di pekarangan rumahnya. Gerbangnya dari tembaga dengan ukiran yang indah. Pintunya besar dari kayu jati. Ya ia memang orang kaya lagi terpandang. Sangat berbeda dengan Harun, yang hanya lulusan SMA, bekerja srabutan, dan dari keluarga miskin. Rumah itu sepi. Sudah berbulan-bulan lalu rumah itu ditinggalkan pemiliknya.
Harun terbangun, melihat sekitar. Matanya merah melotot terlihat seperti penuh amarah. Ia kemudian berlari keluar rumah. Nasir berpapasan dengan Harun, melihanya agak bingung.
“Nasir, kejar Harun!” teriak Rosyid dari belakang. Tanpa pikir panjang, Nasir berlari mengejar Harun.
Harun berlari ke tengah jalan. Diantara para pengendara sepeda motor dan mobil yang membelah jalan. Nasir dan Rosyid gelagapan, khawatir dan cemas. Mereka  berteriak-teriak memanggil Harun untuk kembali ke tepi. Harun tak mengindahkan. Ia semakin ke tengah jalan. Berteriak-teriak. Ibu Rina dan Pelita, dirundung cemas, khawatir sesuatu akan terjadi pada Harun. Mereka berteriak meminta Harun kembali, menepi kembali ke rumah.
“Mas Harun, jangan di tengah jalan nanti ketabrak. Kembali ke sini Mas...”
“Harun, balik Nang!”
Rosyid berusaha mencapai Harun. Menggeret tangannya menuju tepi jalan. Lalu lintas menjadi terganggu dengan kejadian ini. Pengemudi saling bertanya, ada apa? Apa yang terjadi? Sementara di ujung jalan sana Pelita dengan lantang mengucap, Laa illa ha illaallah. Dan diujung yang lain, Nasir sedang menelepon rumah sakit jiwa. Ia lelah, tenaganya sudah terkuras habis. Keberadaan pihak rumah sakit pasti membantu.
Tak beberapa lama, terdengar sirene suara ambulans. Beberapa orang turun dari mobil. Nasir menghampiri mereka dan menjelaskan situasi. Mereka paham. Beberapa orang diminta untuk menghentikan lalu lintas sementara. Beberapa yang lain, berusaha untuk menarik paksa Harun kembali ke tepi. Harun kalah jumlah. Ia dibaringkan di teras rumah, lantas dokter menyuntikkan obat penenang. Bagaikan anak yang kelelahan bermain lantas tertidur pulas. Begitulah Harun saat ini. Rosyid dibantu beberapa orang yang lain membawa Harun kembali ke kamar. Harun mereka tidurkan ia diatas tempat tidur. Menutup jendela dan mengunci pintunnya dari luar.
***
            Pagi hari ketika Ibu Rani masuk kamar ditemani Nasir, suhu badan Harun tinggi, sepertinya demam. Harun belum bangun, masih tidur. Dikompresnya kening Harun dengan penuh kasih sayang. Kemudian Ibu Rani meraih Al Qur’an dan membacanya. Ketika beliau sudah mendapatkan beberapa ayat. Harun terbangun. Dengan tatapan penuh amarah dan kebencian ia tatap Ibu Rani, wanita mulia yang telah mengandung dan melahirkannya.
“Ada apa Nang, kenapa kau menatap Ibu seperti itu? Apakah Ibu memiliki salah terhadapmu? ”
Harun bergeming. Ia terus pandangi Ibu Rani dengan tatapan yang tidak berubah. Tiba-tiba Harun kibaskan Al Qur’an yang ada dipangkuan Ibu Rani. Ibu Rani terlonjak kaget.
Astagfirullah, nyebut Nang. Nyebut.”
Ibu Rani memungut Al Qur’an yang terjatuh. Nasir datang, demi mendengar teriakan Ibunya. Nasir bantu ibunya keluar dari kamar. Kamar kembali dikunci dari luar.
***
Harun seolah menjadi tahanan rumah. Ia terkunci dalam kamarnya. Makannya masih susah. Tidurnya masih susah. Sulit bagi keluarga mengajaknya berkomunikasi. Namun, lama-lama keluarga pun kasihan melihatnya. Hari itu ketika Harun nampak mulai sehat dan kuat untuk berjalan, keluarga memberika kelonggaran terhadapnya. Ia boleh berjalan-jalan di dalam rumah, tapi harus ada yang mengawasi dan tidak boleh sampai keluar rumah. Begitu yang disarankan oleh Ustaz Soleh.
Dari siang hingga sore yang bertugas menjaga Harun adalah adik kecilnya Pelita. Sambil belajar untuk tryout besok, ia menjaga kakaknya. Namun Pelita tidak bisa berkonsentrasi belajar sepenuhnya dalam kondisi ini. Terlebih ketika Harun mulai bicara sendiri dan pembicaraan itu terdengar ganjil di telinganya.
“Iya, nanti sore kita akan lakukan rencana itu. Kita akan kuasai daerah ini, menjadi bagian dari kerajaan kita. Kita usir orang-orang ini. Orang-orang yang mengganggu jalan kita. Termasuk dia.”
Deg. Tatapan mata itu begitu menakutkan bagi Pelita. Tatapan itu seolah mengatakan. Aku akan membunuhmu. Bulu kuduknya merinding, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia terus membaca sholawat, berusaha menenangkan hati dan juga pikirannya.
“Sial! Terlalu banyak tameng yang melindunginya. Aku baru bisa melumatkan satu. Iya, kau benar buat apa aku terlalu repot mengurusnya. Lebih baik kita fokus untuk nanti sore.”
Entah apa yang Harun sebenarnya bicarakan, tapi Pelita punya firasat buruk tentang ini. Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi sore ini.
Benar saja, sore itu menjelang pukul setengah lima ketika Pelita minta digantikan jaga karena ingin mandi. Pelita memergoki Harun hendak membuka pintu rumah. Sesuatu perbuatan yang dilarang.
“Mas, mau kemana? Mas enggak boleh keluar rumah!”
Teriak Pelita, tangan kecilnya berusaha menarik mundur tangan Harun yang sedang memegang gagang pintung. Gagal. Usahanya sia-sia. Tenaganya jauh dibawah Harun. Harun mendorong Pelita ke belakang, punggungnya membentur tepi depan kayu. Sakit rasanya. Tapi hatinya lebih sakit, melihat Harun berhasil keluar rumah. Dengan suara lantang dan penuh kemenengan, ia berteriak. Tangannya menengadah, wajahnya menghadap langit.
“Hai teman-temanku, datanglah kemari. Daerah ini telah kita kuasai. Datanglah kemari.”
Langit berubah gelap. Mendung tiba-tiba datang mendekati rumah. Pelita merasakan ketakutan yang amat sangat. Pelita merasakan energi-energi jahat mulai datang masuk ke rumah ini. Ibu Rani, Nasir, Rosyid dan Badrun datang menarik tubuh Harun kembali ke dalam rumah. Harun tertawa penuh kemenangan. Ustaz Soleh datang ke rumah. Segera meminta Pelita dan keluarga pergi dari rumah meninggalkan Harun sendirian. Mereka menurut. Mereka merasa seoalah telah kalah. Kalah oleh sesuatu yang mereka sendiri tak tau pasti, mereka sebenarnya melawan siapa.
Sore itu Ibu Rani dan Pelita mengungsi ke rumah tetangga. Berdoa memohon perlindungan dan keselamatan dari-Nya. Sementara Rosyid dan Nasir sedang berjaga di luar rumah, berdiskusi dengan Ustaz Soleh tentang masalah ini. Menjalang magrib, salah seorang tetangga melapor pada Ibu Rani. Tetangga itu melihat Mas Fikri, keponakan Ibu Rani datang kerumahnya. Ia membawa berkat. Mengetuk pintu, namun yang ia temukan hanyalah Harun. Entah mereka berbincang apa. Tetangga itu melihat Mas Fikri memotong rambut gimbal Harun. Ibu Rani dan Pelita hampir tak percaya rambut gimbal harun telah dipotong. Keluarga telah berusaha membujuknya berkali-kali namun gagal. Kata Harun, ia telah bernadzar, ia akan memotong rambut gimbalnya hanya ketika ia telah menikah.
Malam itu juga keluarga meminta bantuan beberapa orang pintar. Rasyid dan Nasir masuk rumah. Melihat mereka berdua masuk, Harun jadi marah, berbagai barang ia banting dan pecahkan. Termasuk TV, piring, mangkuk, gelas dan jam. Orang-orang berusaha menenangkannya. Mebacakannya doa-doa. Menyemburkan dengan air yang sudah didoakan. Merukyahnya. Dialog pun terjadi.
“Hei, kau? Siapa kau yang telah menempeli Harun?” tanya Ustaz Malik, orang pintar yang dimintai bantuan mengatasi masalah ini.
“Aku? Kau sendiri siapa? Beraninya mengganggu jalan kami?” balas Harun dengan pongah.
“Aku Ustaz Malik. Baiklah kalau kau tidak bisa diajak bernegosiasi.” Ustaz Malik meletakkan tanggannya ke ubun-ubun Harun. Matanya terpejam, bibirnya komat-kamit merapalkan doa.
“Aaargg... hentikan-hentikan! Baiklah aku mengaku, aku akan bicara.” Harun berteriak kesakitan, Ustaz Malik pun menurunkan tangannya.
“Aku Ilong, kuda tunggangan Raja Pele yang paling disegani.”
Nasir dan Rosyid saling pandang. Sedikit bingung dengan pembicaraan ini. Namun mereka diam, tak ingin mengganggu.
“Dari mana asalmu? Apa tujuannmu?”
“Aku berasal dari Kerajaan Pale yang terletak di sekitar hutan larangan.”
Demi menyebut nama hutan larangan, merinding bulu kuduk Rosyid dan Nasir. Semuang orang tahu daerah macam apa itu. Berbahaya, penuh hewan buas. Angker, penuh makhluk halus. Sering sekali hewan ternah warga hilang di hutan itu. Terkadang ditemukan dalam keadaan sudah menjadi bangkai. Bahkan beberapa kali manusia juga pernah hilang disana, dan beberapa kali juga ditemukan mati. Sebuah sebuah bus nyasar ke area hutan. Sopir bus mengira ia sedang berada di jalur pantura Juwana-Pati-Rembang, namun ketika ayam berkokok si sopir baru sadar bahwa selama empat jam ia hanya berputar-putar di area hutan yang hanya ada jalan setapak. Bahkan tidak ditemukan jejak ban bus disana. Orang pintar menduga bahwa bus itu tengah masuk ke terowongan gaib namun untunglah bus dengan empat puluh penumpang itu tidak sampai masuk ke alam gaib. Banyak mitos yang beredar seputar hutan larangan. Kabarnya di hutan itu, terdapat banyak sekali kerajaan makhluk halus. Beberapa yang yang paling terkenal adalah ular berkepala manusia, manusia bertubuh kuda dan di sungainya yang beraliran deras terdapat buaya putih. Ada banyak aturan ketika melewati ataupun masuk ke dalam area hutan. Seperti harus membunyikan klakson tiga kali, harus kulo nuwun, tidak boleh melamun, jangan membunuh hewan apapun yang ditemui, jangan menebang pohon, jangan berkata kasar, jangan menantang penghuni sana, dan jangan-jangan lainnya.
Rosyid dan Nasir membatin, apa yang Harun lakukan disana hingga mengusik penghuni hutan larangan?
“Apa tujuanku? Aku ingin balas dendam dan aku juga ingin menguasai kembali daerah ini. Menjadikannya bagian dari wilayah kerajaan kami. Tapi kalian menganggu jalan kami.”
“Kenapa kalain begitu ingin mengusasi daerah ini? Daerah ini adalah rumah tempat tinggal Harun dan keluarganya? Apakah kalian berniat mengusir mereka?”
“Daerah ini menjanjikan. Dulunya wilayah ini juga adalah kekuasaan kami. Tapi kami kalah perang dengan Syech Abu Bakar. Wilayah kami pun semakin sempit dan kecil. Kini ketika ada kesempatan, maka akan kami rebut kembali wilayah ini. Aaaarggg...!” Harun berusaha melepaskan tali yang menjeratnya. Mendorong tubuh Ustaz Malik, hingga ia bersandar pada tembok. Untunglah ikatan itu tak lepas, sehingga perlawanannya tidak begitu membahayakan. Ustaz Malik memegang tangan Harun, memaksanya untuk duduk tenang kembali.
“Kau tadi bilang dendam pada Harun. Memangnya apa yang sudah Harun lakukan?”
“Apa yang sudah ia lakukan?!” intonasi Harun kini mulai meninggi. “Harun telah membunuh salah satu anak buahku yang tidak bersalah! Aku harus balas dendam!” kali ini Harun berusaha mebenturkan kepalanya sendiri ke dinding. Makhluk itu berusaha membalas dendam dengan merusak tubuh Harun. Rosyid dan Nasir berusaha menghentikannya. Tenaga Harun kuat sekali. Bahkan dua orang masih terasa sulit untuk menghentikannya.
“Hentikan! Kau bisa melukai Harun!” tangan Ustaz Malik mencengkram tangan Harun, sementara tangan lainnya memegang ubun-ubun Harun. Merapal doa, Harun berteriak kesakitan.
“Aaarrgghh..!”
Ustaz Malik berusaha mendudukan kembali Harun.
“Baiklah, kalau begitu apa yang kau mau agar kau bersedia untuk tidak mengganggu Harun lagi dan berhenti untuk menganggu daerah ini?”
“Tidak mau! Aku tidak mau menuruti maumu.”
Perdebatan menjadi sengit. Makhluk itu amat susah di ajak bernegosiasi. Akhirnya Ustaz Malik dibantu Ustaz Soleh dan orang pintar lainnya bahu-membahu untuk mengusir Ilong, makhluk harus serupa kuda berkepala manusia itu dari tubuh Harun. Alhamdulillah, atas izin Allah makhluk halus itu berhasil di usir. Namun tugas lain menunggu mereka. Akan ada kemungkinan bahwa Ilong dan kawannya akan kembali lagi untuk membalas dendam dan menguasi desa mereka.
Fajar mulai muncul di ufuk sana, sebenarnya mereka sangat lelah. Tapi mereka harus bergerak cepat. Tepat setelah jama’ah subuh, mereka mengumumkan apa yang terjadi. Dan meminta warga desa untuk bermujahadah bersama. Salat sunnah dua rekaat. Salat tasbih. Salat hajat. Ustaz Soleh, itu memhimbau untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Mungkin peristiwa ini adalah teguran dari-Nya, bahwa banyak warga desa yang telah jauh meninggalkan-Nya. Benteng spiritual desa semakin ditingkatkan, di adakan majlis-majlis setelah Isya. Isinya salat sunnah mutlak, salat hajat, salat tasbih, bacaan manakib dan semakin memperbanyak bacaan salawat.
“Sebenarnya apa yang terjadi terhadap Harun? Apa yang ia lakukan di hutan larangan ustaz?” tanya Pelita di suatu kesempatan kepada Ustaz Malik.
“Saya sebenarnya belum tau pasti juga. Namun dalam penglihatan saya, saya melihat punggung Harun berlubang. Lubang itu tercipta dari dalam, akibat dia salah melakukan suatu amalan. Mungkin dia melakukan wirid tertentu tanpa ijazah dan bimbingan dari seorang guru. Ditambah lagi keinginan yang sangat besar untuk menikah, membuat pikirannya kacau. Ambisinya hanya satu, ingin menikah. Tanpa diimbangi dengan instropeksi diri. Ia tidak sadar kapasitas dirinya, yang meskipun sudah berumur tiga puluhan, namun bekerja masih serabutan, kedewasaan berpikir belum ada, apalagi calon. Dia masih terlalu keras kepala, dan susah menerima nasihat. Dengan kondisi ini siapa yang mau menikah dengannya?”
“ Saya menduga tujuannya ziarah ke Rembang pun untuk memenuhi hajatnya, agar segera menikah. Sebenarnya ini tidak sepenuhnya salah. Namun alangkah lebih baik jika kita ziarah ya mengharap Ridho Allah dan hanya ngalap bekah dari wali tersebut. Ironisnya, dia memilih hutan larangan sebagi jalur perlintasannya. Dan ketika di tengah jalan, ada seekor ular kecil sedang menyabrang. Tanpa ia sadari, ban motornya telah melindas ular tersebut yang sebenarnya adalah ular siluman. Kawan-kawan si ular siluman pun marah, dan menjadikan hal ini untuk balas dendam.”
Pelita dan keluarnya terhenyak mengetahui fakta ini. Harun memang pendiam, tak banyak bicara pun ia tergolong pribadi yang tertutup. Maka tak banyak hal yang keluarga ketahui tentang Harun.
“Yang penting saat ini, Harun diawasi terus. Lebih di dekati, dan diajak komunikasi. Sering-seringlah membaca Al Qur’an, agar rumah ini penuh cahaya dan bisa menjadi benteng dari hal-hal yang tidak diinginkan.”
Pelita dan keluarga menunduk terdiam. Mereka sadar, rumah itu begitu gelap. Cahaya Al Qur’an tak banyak dan tak sering menyinari rumah mereka. Al Qur’an seringkali hanya terlihat sebagai pajangan di rak-rak kayu. Hingga kertas-kertasnya lapuk dan berdebu. Oh, Al Qur’an, sudah seberapa jauhkah kami meninggalkanmu? Batin Pelita di antara senyap rumahnya yang mulai terasa pengap.
***

Noor Salamah, gadis berzodiak cancer yang lahir pada tanggal 23 Juni 1994 ini begitu hobi membaca. Bahkan salah satu target terdekatnya adalah menerbitkan bukunya sendiri sebelum wisuda. Sekarang ia sedang menempuh S1 di Prodi Pendidikan Luar Sekolah Unnes. Penulis bisa dihubungi via fb : salma van licht, twitter : @salma_skylight, atau no Hp di 089668214948.
Read More

Facebook



“Eh liat nih status terbarunya Kak Alfian. Loe tau guys, Kak Alfian baru aja putus ama Kak Vega,” Sasty berteriak heboh kepada teman-temannya. “Nih liat statusnya, juga perubahan hubungannya di-Fb.” Sasty menyodorkan blackberry ke arah teman-temannya.
“Berakhir sudah jalinan cinta yang sudah kita rajut bersama. Kamu tinggalkan aku, dengan menyisakan sekeping hati yang retak, kenangan dan kesendirian. Ahh hati, begitu rapuhnya dirimu karena cinta.” Begitu bunyi status Kak Alfian yang dibaca keras-keras oleh Dea. Sasty and the gank terdiam mendengarkan penuturan  Dea. Usainya, ada beragam respon dari mereka.
“Kak Vega pasti nyesel udah mutusin Kak Alfian. Kak Alfian kan cakep, keren, populer, smart. Apa coba yang kurang?” Protes Intan.
Dea menimpali.
“Mungkin kurang kaya, setidaknya bagi Kak Vega. Loe tau sendiri kan Kak Vega kayak apa? Meski cantik, seksi dan populer tapi dia juga,”
“MATRE!” seru yang lain keras sekali, hingga beberapa teman lain yang juga sedang berada di kantin menoleh tidak suka pada mereka.
“Ahh ini kesempatan gue untuk ngegaet Kak Alfian, Loe semua kudu dukung gue lho.” Sasty terlihat bersemangat sekali. Ada kesempatan menggaet cowok idaman kenapa tidak dimanfaatkan?
***
Semenjak terdengar kabar bahwa Alfian putus dengan Vega. Alfian langsung menjadi perebutan banyak cewek, termasuk Sasty. Sasty gadis yang menginjak remaja tersebut tak ubahnya seperti gadis remaja lain di SMA Batarayudha yang menjadi fans berat Alfian. Alfian merupakan salah satu atlit andalan sekolah dalam olahraga lempar lembing. Perawakannya gagah, memiliki otot-otot yang kuat dan kekar, dadanya bidang, wajahnya persegi, rambutnya selalu rapi. Selain sebagai atlit lempar lembing SMA ia juga seorang pemusik dan aktivis. Ia bukan siswa bodoh di kelas, ia bahkan tergolong cerdas. Oleh karenanya Alfian masuk dalam salah satu deretan pacar idaman. Sasty sendiri berusaha berbagai cara agar ia memperoleh perhatian Alfian. Salah satu caranya yaitu dengan memanfaatkan jejaring sosial, facebook. Sasty selalu update kabar berita facebook tentang Alfian, hampir di setiap aktifitas Alfian di facebook, selalu ada Sasty disana. Status, foto, catatan, kiriman, halaman yang disukai, dan aktifitas lain di facebook selalu ada Sasty didalamnya.
Suatu ketika Alfian membuat status.
Alfian Candra Adiguna           : Boring. Butuh teman. Pengen refreshing. Ada yang mau menawarkan diri menemaniku refresing?
Tak lama ada komentar masuk.
Sasty Safitry                          : Sasty siap nemenin Kak Alfian refreshing, kapanpun dan dimanapun asalkan bersama kakak J
Luxziana Maradilla                  : Mending jalan ma gue. Nanti kakak gue ajak ke tempat nongkrong dan tempat makan favoritku. Gue yang traktir deh..
Nino Febrian                            : Gan, weekend ini gue,  Brian ama Faris bakal muncak ke Gunung Bromo. Loe mau ikut?
Alfian Candra Adiguna           : Sasty dan Luxzi_tawaran yang menarik, tpi mungkin lain kali saja J.  Nino_gue terima tawaran loe. Thanks gan.
Sasty terpaksa menelan kekecewaan. Akhir pekan ini Kak Alfian akan pergi muncak ke Gunung Bromo bersama Nino, kakak Dea. Menyebut nama Nino dan Dea, Sasty terpikirkan suatu ide. Ia lantas sms Dea.
To             : Deandut
Gue denger kakak Loe akhir pekan ini mau muncak ke Gunung Bromo bareng sama Kak Alfian. Eh gue lobby-in kakak loe dong, gue juga mau ikut.
Send..
Tak lama sms balasan Dea masuk.
From        : Deandut
Masak Kak Alfian juga ikut? Gue tau kalau Bang Nino bakal muncak ke Gunung Bromo, tapi gue enggak tau kalau kalau Kak Alfian ikut juga. Entar deh gue usahain.
To             : Deandut
Thanks Honey ;)
Sasty menungggu kabar dari Dea dengan perasaan harap-harap cemas. Ia sangat berharap Nino memperbolehkannya ikut serta. Bisa jadi ini menjadi kesempatannya pedekate dengan Alfian.
***
Malam sudah larut. Sasty masih belum bisa terpejam. Khayalannya sibuk berkelana membayangkan dirinya akan muncak bersama dengan Alfian. Sasty tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.  Ia meraih blackberry miliknya, membuka aplikasi facebook dan memposting sebuah status.
Sasty Safitry          : Enggak sabar menanti hari esok ;)
Tak lama Dea memberi komentar.
Deandut Mendut      : Sorry  Sas, acara besok di cancel ;(
Sasty Safitry          : Apa? Kenapa?
Deandut Mendut      : Gara-gara Gunung kelud meletus malam ini.
Sasty Safitry          : Tapi kan Bromo ama Kelud jauhan. Kenapa gara-gara Kelud perjalanan kita dibatalin?
Lama tak ada balasan dari Dea, sepertinya Dea sudah offline. Sebagai pelampiasan dari kekesalannya, Sasty pun memposting sebuah status baru.
Sasty Safitry          : Bete. Kenapa Kelud mesti meletus disaat gue besok mau pergi sih?! Acara gue jadinya di-cancel deh. Nyebelin!
Sementara itu di rumah Dea, Dea sedang ngobrol dengan abangnya Nino.
“Bang, Bromo dan Kelud kan jauhan kenapa acara kita besok mesti batal sih?” mendengar pernyataan adiknya itu Nino cuma tersenyum, sebenarnya ingin tertawa.
“Loe sih keseringan fb-an ampe enggak pernah nonton berita.” Dikatakan seperti itu Dea cuma nyengir kuda. “Meski Kelud dan Bromo itu berjauhan tapi efek dari letusan Gunung Kelud itu menyebar hampir di seluruh daerah Jawa Timur dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan DIY. Gunung Kelud yang tingginya kurang lebih seribu tujuh ratusan meter di atas permukaan laut itu meletus pukul sebelas kurang sedikit memuntahkan lahar panas, lontaran abu dan kerikil hingga radius puluhan kilometer. Lha wong¸orang-orang pada ngungsi demi keselamatan kok kita malah mendekat hanya untuk bersenang-senang. Abang juga enggak mau perjalanan kita tidak nyaman dan terlalu banyak ambil resiko dengan mendaki diwaktu yang tidak tepat.” Dea menyimak penuturan Nino, Dea membenarkan ucapan Abangnya ini. “Sudah malam, sana loe tidur nanti loe bangun kesiangan lagi.” Dea keluar dari kamar abangnya dengan benak penuh tanya.
Gue mau searching tentang Kelud ah, penasaran gue.
Batin Dea dalam hati. Dea kemudian masuk ke kamar, menyalakan laptop lalu memasang modem. Tangannya sibuk menulis key word pencarian, berita-berita ia baca, video-video ia tonton. Hatinya tiba-tiba terenyuh melihat semuanya. Begitu susah mereka. Ada perasaan ingin membantu yang timbul dari hati Dea, ia ingin meringankan beban mereka. Ide inilah yang kemudian mendorong Dea kembali ke kamar Nino.
“Tok tok tok, Abang udah tidur belum?” Seru Dea dari luar pintu. Pintu terkuak dari dalam.
“Belum, ada pa Dea?” Nino menjauhkan handphone dari telinganya dan menatap Dea.
“Dea, punya usul. Gimana kalau acara muncak ke Bromo kita ganti acara penggalangan dana untuk korban Kelud? Dea masih ada tabungan sedikit, buku-buku bekas layak baca dan baju-baju bekas layak pakai. Gimana menurut Abang?” Nino melongo mendengar ucapan adiknya, adiknya yang dulu cuek, kerjaannya cuma facebook-an kini bisa lebih peduli pada lingkungan sekitar, dengan aksi nyata pula. Nino berdecak kagum dalam hati.
“Idemu bagus. Abang setuju. Nanti kita minta bantuan tetangga sekitar, sanak kerabat, teman dan orang yang kita kenal atau bahkan minta di jalan kalau perlu. Lebih seru lagi, kalau bantuan itu kita salurkan langsung, kita ikut ke tempat pengungsian. Nanti Abang yang atur, Abang juga yang bakal ngehubungin Brian, Faris, Rahmi, Tika dan Alfian buat minta bantuan mereka.”
“Terima kasih Bang, Dea balik ke kamar dulu. Mau nyiap-nyiapin apa yang Dea mau sumbangin. Daah Abang ..”
***
Hati Sasty sakit, kecewa jengkel juga cemburu menyaksikan foto-foto Dea terlihat bersama dengan Alfian. Foto-foto itu di unggah oleh Tika pacar Nino dengan me-ngetag akun facebook milik Nino, Dea, Alfian, Brian, Faris dan Rahmi, semua orang yang berencana muncak ke Bromo tapi ternyata di batalkan. Semua ada kecuali dirinya, dan yang membuatnya jengkel kenapa Dea tidak mengajaknya turut serta. Kenapa Dea tidak paham betapa ingin ia jalan bareng Alfian? Padahal Dea adalah sahabatnya, sahabat dekatnya. Kenapa Dea mengecewakannya? Melihat fotonya ketika bersama Alfian, hatinya terbakar cemburu. Di foto itu terlihat Dea sedang menuangkan kuah di mangkuh salah satu pengungsi yang mengantri di depannya, sementara itu tak jauh dari Dea terlihat Alfian sedang membagi nasi pada pengungsi. Mata mereka bertatapan, sepertinya foto ini diambil ketika mereka sedang bercanda di tengah kesibukan membagi makanan pada pengungsi. Belum reda cemburu dan amarah di hati Sasty, sebuah status masuk di berandanya. Status milik Alfian.
Alfian Candra Adiguna           : Terima kasih Deandut Mendut berkat idemu, kami, Alfian Candra Adiguna, Nino Febrian, Tika Yunita, Rahmi Widodari, Brian Squad, dan Faris Munandar bisa sampai disini membantu saudara di sekitar Kelud yang sedang susah. Gue salut ama kepedulianmu Dea. Andai banyak Dea-Dea sepertimu di dunia ini, mungkin gue bakal pilih salah satu J
Amarah sudah memuncak, cemburu sudah menguasai Sasty.
Dea ngerebut Kak Alfian dari gue. Dea sengaja enggak ngajakin gue karena dia pengen ngerebut Kak Alfian dari gue. Sialan! Brengksek! Gue benci Dea. Batin Sasty dalam hati.
***
From    : Sasty S.
Gue kira loe sahabat terbaik gue, ternyata anggapan gue itu salah. Justru loe adalah musuh dalam selimut. Loe sengaja sok mau bantu gue deket ama Kak Alfian. Tapi nyatanya lapa? Loe nusuk gue dari belakang. Sialan! Loe sengaja kan enggak ngajakin gue ke Kelud, Loe mau nyingkirin gue kan biar gue enggak ganggu loe caper ama Kak Alfian. Bener-bener ya, gue benci ama Loe! Mulai sekarang loe bukan lagi sahabat gue, loe udah ngekhianati gue. Jangan hubungi gue, jangan dekati gue, gue muak lihat muka loe yang sok alim dan baik itu.
Dea terbelalak membaca pesan dari Sasty. Tak menyangka Sasty akan beranggapan sejauh ini. Sebenci itukah Sasty padanya? Hanya karena Alfian persahabatan yang sudah terjalin selama belasan tahun itu pupus sudah? Dea tidak menyangka. Bahkan Sasty tidak meminta penjelasan dulu kepada Dea. Sasty hanya memutuskan sepihak berdasarkan status yang di buat Alfian dan foto yang diunggah oleh Mbak Tika. Dea masih tidak percaya. Dea segera mencoba menghubungi Sasty, di-sms tidak di balas, di terlfon di-reject, di-chat tak di balas. Maka satu jalan yang terpikirkan oleh Dea adalah menulis di dinding akun facebook Sasty.
Deandut Mendut      : Maaf kalau menurut loe, gue salah. Tapi sebenarnya gue udah nyoba ngubungin Loe Sas, tapi nomermu enggak aktif. Hari jumat pun loe enggak berangkat sekolah. Gimana gue mau ngajakin loe? Di telpon enggak bisa, ketemu langsung juga enggak. Gue enggak ada niat mau ngerebut gebetan loe, percaya deh ma gue. Plis, maafin gue. Kita sahabat lagi ya, kita kan udah sahabatan dari kecil masak gara-gara ini persahabatan kita putus? Loe rela? Ayolah kita baikan lagi..
***
Sasty pembaca pesan yang dikirim Dea di dinding facebook-nya. Perasaannya campur aduk. Sasty merenung. Iseng Sasty mencoba melihat riwayat hubungan pertemanan dirinya dengan Dea di facebook. Nampak dalam layar laptopnya status-status yang menge-tag Sasty dan Dea, Foto-foto mereka berdua, video, catatan dan lain sebagainya. Bayangannya melayang jauh menembus waktu, mengumpulkan kepingan kenangan yang berceceran entah di mana. Akhirnya dengan facebook kepingan kenangan itu bisa bersatu kembali, membentuk sebuah jejak memori. Memori yang seringkali terlupa, yang sering kali terabaikan.
Sasty memandang sebuah foto dimana dirinya sedang berangkulan dengan Dea. Foto ini diambil ketika Sasty berulang tahun yang ke tujuh belas. Sasty masih ingat kado yang diberikan oleh Dea, sebuah pasmina cantik berwarna hitam loreng-loreng dan sebuah tas rumah warna yang unik. Sasty begitu senang mendapatkan kado itu dari Dea. Dea sahabatnya sejak kecil, selalu peduli padanya, selalu menolongnya, selalu ada untuknya.
“Egoiskan gue? Sekarang apa yang loe pikir dan rasakan Dea?”
Sasty membuka profil Dea. Membaca satu demi satu statusnya. Air Matanya menangis ketika membaca salah satu status Dea.
Deandut Mendut      : Harta karun paling berharga di dunia adalah sahabat. Tapi sepertinya gue akan kehilangan harta karun gue. Dia memilih enggak maafin gue dan pergi dari gue. Gue harus bagaimana untuk mempertahankannya? Tuhan andai gue punya satu doa yang pasti akan Engkau kabulkan saat ini juga maka pasti aku akan berdoa agar sahabatku mau memaafkanku, kembali padaku dan akan kembali kami rajut jalinan persahabatan kami. Namun Tuhan sekalipun tak Engkau kabulkan saat ini doaku, aku takkan berhenti berdoa untuk persahabatan kami dan untuk kebahagiaannya. A good friend would never hate his best friend.
“Gue belum bisa menjadi sababat terbaik loe Dea. Gue sempat bilang, gue benci loe. Tapi loe bener-bener sahabat terbaik gue. Loe enggak pernah benci gue. Dea maafin gue. Maafin gue yang egois ini. Maafin gue yang berprasangka buruk ma loe. Loe, loe sahabat terbaik yang pernah gue punya.”
Seketika itu, Sasty mengirim sebuah emo permintaah maaf dan mengucapkan permintaan maaf di dinding facebook Dea.
Sasty Safitry                          : Dea, pliis maafin gue. Gue yang salah udah berprasangka buruk ama loe. Gue sadar guelah yang egois. Loe selalu baik sama gue. Loe enggak benci sama gue. Loe selalu nolong gue, Loe selalu ada buat gue. Maafin gue, gue belum bisa jadi sahabat terbaik loe. Pliis, tetaplah jadi sahabat yang pernah gue miliki.
Dea membalas.
Deandut Mendut      : Gue udah maafin loe sebelum loe minta maaf. Gue juga minta maaf ya kalau gue ada khilaf . Kita tetep sahabat kan J
Sasty Safitry                          : Tentu, bagaimana mungkin gue rela ngelepas sahabat sebaik loe J
***





Noor Salamah, gadis berzodiak cancer ini lahir di Jepara, 23 Juni 1994. Saat ini sedang menempuh S1 prodi Pendidikan Nonformal di Unnes. Disamping itu ia juga berusaha mencari keberkahan hidup dengan nyantri di PP. Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah. Membaca dan menulis merupakan hobinya. Penulis bisa dihubungi via Fb di Salma Van Licht, Email: salamah_chan@yahoo.com, atau Cp: 089668214948
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com