Perkenalkan namaku Ayu, umurku
sebelas tahun. Tapi simbok lebih suka manggil aku Nduk Ayu, dan aku suka nama
itu karena terdengar cantik dan penuh kasih. Aku Ayu, aku memiliki teman-teman
yang unik-unik. Ada Dido ia sangat suka bermain musik terutama gendang, tapi ia
sangat benci matematika, ia bahkan tidak bisa membedakan uang sepuluh ribu dan
seratus ribu. Oh iya juga ia memiliki suara yang sangat bagus, dan satu lagi ia
cukup tampan. Stt, jangan bilang-bilang nanti dia kegeeran. Aku juga punya
teman lagi, namanya Juni. Ya ia memang terlahir di bulan Juni makanya ia
bernama Juni. Aku juga lahir di bulan Juni, tapi simbok tidak menamaiku Juni.
Emm, mungkin nama Ayu lebih pantas untukku. Temanku Juni, ia cantik tubuhnya
tinggi dan langsing. Ia sangat suka menari, dan tariannya indah. Paling suka ia
menari Jaipongan. Tapi ia tidak bisa membedakan warna, dia payah soal warna. Ia
selalu meraba wajah orang terlebih dahulu sebelum bercakap-cakap, barulah ia
tahu dengan siapa ia bicara. Sebenarnya ada banyak temanku yang unik, tapi
tentu saja aku tak bisa menceritakannya semua kepadamu.
Pagi itu aku diajak Simbok ke sebuah
acara yang diadakan oleh tetangga. Aku tak tu acara macam itu. Simbok tidak
mengatakannya padaku. Disana aku mendengar nama Muhammad di baca
berulang-ulang, dan kalimat ini Allahummad sholli alaih. Selebihnya
terdengar dalam bahasa aneh yang tidak aku pahami, seperti bahasa yang Simbok
gunakan ketika ngaji Al Qur’an.
Ada
banyak tamu yang hadir, tua, muda dan anak kecil. Pria maupun wanita. Disana
ada segerombolan mas-mas, ada yang bernyanyi menggunakannya mic dan yang lain
memukul-mukul benda bulat entah apa namanya hingga terdengar musik yang indah
dan penuh semangat.
Aku
dekati salah seorang diantara mas-mas yang memukul-mukul benda bulat. Ia
terkejut dan merasa takut. Tapi aku tak ambil pusing. Saat mas-mas itu sedang
tidak memainkan benda bulat, aku ambil si benda bulat. Aku pukul-pukul mencoba
mengikuti irama dan gerakan mas-mas yang lain. Aku pukul-pukul hingga tanganku
terasa sakit dan berwarna merah.
Jelek,
barang ini jelek. Ia tidak menghasilkan bunyi yang indah.
Aku
banting benda itu ke lantai bermarmer putih, hingga terdengar suara buk
yang keras. Semua orang memandangku.
“Nduk
Ayu sini!”
Panggilan
itu, aku suka panggilan itu. Simbok memanggilku. Tapi, wajahnya menyiratkan
kemarahan. Apakah karena tadi aku membanting si bulat? Aku takut di jewer. Aku
takut dipukul. Aku takut dibentak. Aku memeluk tiang bangunan yang dingin. Aku
takut kesana. Tidak, simbok justru mendekatiku. Aku berputar ke sisi lain,
menghindar. Tapi simbok semakin dekat, aku tak bisa kabur. Ia sudah memegang
tanganku. Kini kami berhadap-hadap. Aku takut, tangan simbok sudah melayang
diudara. Ia mungkin akan memukul pantatku keras seperti yang biasa Bapak
lakukan dulu.
Apa
ini?
Bukan
kerasnya pukulan di pantat yang aku rasakan, namun belaian lembut di rambut.
Ahh simbok, ia memang tak pernah memukulku. Ia begitu lembut dan sabar
terhadapku. Simbok menarik tanganku, mengajak duduk tenang disisinya. Semenit
dua menit tiga menit empat menit lima menit. Aku tak tahan berdiam diri. Simbok
tak kuasa menahanku, ia tahu aku memang susah diatur apalagi untuk duduk
tenang. Bagiku duduk tenang itu lebih melelahkan dan membosankan daripada
berlari kesana kemari.
Aku
melihat beberapa anak kecil yang mungkin seusiaku. Aku dekati dia. Tapi ia
berlari menjauh, bersembunyi di balik tubuh ibunya. Semakin dekat dengannya, ia
semakin terlihat takut, ia bahkan mulai menangis. Ibunya mengusirku. Aku pergi,
menghampiri yang lain mungkin masih ada yang mau berteman denganku. Namun yang
lain pun sama, mereka semua berlari ketakutan bersembunyi di balik tubuh
ibunya, menangis, dan ibu mereka mengusirku. Sebenarnya apa yang salah?
Memangnya aku terlihat seperti monster seperti di film-film kartun? Memang
tubuhnya tinggi besar. Tapi aku bukan monster. Apakah karena aku wajahku jelek?
Ada yang jauh lebih jelek, itu si Tito temanku di sekolah. Ia lebih jelek. Trus
kenapa mereka takut sama aku?
Aku berlari mengamburkan diri ke
simbok. Dengan sangat susah payah aku bertanya pada simbok.
“Mbok, kenapa mereka takut sama
aku?” Aku menuding mereka, gadis-gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuh
ibunya. “Aku kan bukan monster kenapa mereka takut sama aku?” Simbok tidak
menjawab. Simbok justru menangis. “Kenapa Simbok nangis? Ayu salah?” Simbok
masih tidak menjawab. Aku guncang-guncang tubuh Simbok kuat. Tapi Simbok masih
belum menjawab. Di belakang, ibu-ibu berbisik cukup keras.
“Gimana mereka tidak takut dideketin
makhluk idiot kayak gitu?!”
“Stt, dia bukan idiot tapi autis.”
“Ah sama aja!”
Idiot? Autis? Apa maksudnya?
Memang aku bodoh, umur sebelas tahun saja aku baru lancar bicara, baru tahu
angka satu sampai sepuluh. Apakah karena itu mereka takut sama aku?
***
Nama : Noor Salamah
Alamat : Jalan H.M Syahid No. 11 Rt 03 Rw 5
Panggang Jepara
Status : Mahasiswa Pendidikan Nonformal Unnes
Fb : Salma Van Licht
Twitter : salma_skylight
Cp : 089668214948
0 komentar:
Posting Komentar