Jumat, 01 April 2016

Mbok, Kenapa Mereka Takut Sama Aku?



            Perkenalkan namaku Ayu, umurku sebelas tahun. Tapi simbok lebih suka manggil aku Nduk Ayu, dan aku suka nama itu karena terdengar cantik dan penuh kasih. Aku Ayu, aku memiliki teman-teman yang unik-unik. Ada Dido ia sangat suka bermain musik terutama gendang, tapi ia sangat benci matematika, ia bahkan tidak bisa membedakan uang sepuluh ribu dan seratus ribu. Oh iya juga ia memiliki suara yang sangat bagus, dan satu lagi ia cukup tampan. Stt, jangan bilang-bilang nanti dia kegeeran. Aku juga punya teman lagi, namanya Juni. Ya ia memang terlahir di bulan Juni makanya ia bernama Juni. Aku juga lahir di bulan Juni, tapi simbok tidak menamaiku Juni. Emm, mungkin nama Ayu lebih pantas untukku. Temanku Juni, ia cantik tubuhnya tinggi dan langsing. Ia sangat suka menari, dan tariannya indah. Paling suka ia menari Jaipongan. Tapi ia tidak bisa membedakan warna, dia payah soal warna. Ia selalu meraba wajah orang terlebih dahulu sebelum bercakap-cakap, barulah ia tahu dengan siapa ia bicara. Sebenarnya ada banyak temanku yang unik, tapi tentu saja aku tak bisa menceritakannya semua kepadamu.
            Pagi itu aku diajak Simbok ke sebuah acara yang diadakan oleh tetangga. Aku tak tu acara macam itu. Simbok tidak mengatakannya padaku. Disana aku mendengar nama Muhammad di baca berulang-ulang, dan kalimat ini Allahummad sholli alaih. Selebihnya terdengar dalam bahasa aneh yang tidak aku pahami, seperti bahasa yang Simbok gunakan ketika ngaji Al Qur’an.
Ada banyak tamu yang hadir, tua, muda dan anak kecil. Pria maupun wanita. Disana ada segerombolan mas-mas, ada yang bernyanyi menggunakannya mic dan yang lain memukul-mukul benda bulat entah apa namanya hingga terdengar musik yang indah dan penuh semangat.
Aku dekati salah seorang diantara mas-mas yang memukul-mukul benda bulat. Ia terkejut dan merasa takut. Tapi aku tak ambil pusing. Saat mas-mas itu sedang tidak memainkan benda bulat, aku ambil si benda bulat. Aku pukul-pukul mencoba mengikuti irama dan gerakan mas-mas yang lain. Aku pukul-pukul hingga tanganku terasa sakit dan berwarna merah.
Jelek, barang ini jelek. Ia tidak menghasilkan bunyi yang indah.
Aku banting benda itu ke lantai bermarmer putih, hingga terdengar suara buk yang keras. Semua orang memandangku.
“Nduk Ayu sini!”
Panggilan itu, aku suka panggilan itu. Simbok memanggilku. Tapi, wajahnya menyiratkan kemarahan. Apakah karena tadi aku membanting si bulat? Aku takut di jewer. Aku takut dipukul. Aku takut dibentak. Aku memeluk tiang bangunan yang dingin. Aku takut kesana. Tidak, simbok justru mendekatiku. Aku berputar ke sisi lain, menghindar. Tapi simbok semakin dekat, aku tak bisa kabur. Ia sudah memegang tanganku. Kini kami berhadap-hadap. Aku takut, tangan simbok sudah melayang diudara. Ia mungkin akan memukul pantatku keras seperti yang biasa Bapak lakukan dulu.
Apa ini?
Bukan kerasnya pukulan di pantat yang aku rasakan, namun belaian lembut di rambut. Ahh simbok, ia memang tak pernah memukulku. Ia begitu lembut dan sabar terhadapku. Simbok menarik tanganku, mengajak duduk tenang disisinya. Semenit dua menit tiga menit empat menit lima menit. Aku tak tahan berdiam diri. Simbok tak kuasa menahanku, ia tahu aku memang susah diatur apalagi untuk duduk tenang. Bagiku duduk tenang itu lebih melelahkan dan membosankan daripada berlari kesana kemari.
Aku melihat beberapa anak kecil yang mungkin seusiaku. Aku dekati dia. Tapi ia berlari menjauh, bersembunyi di balik tubuh ibunya. Semakin dekat dengannya, ia semakin terlihat takut, ia bahkan mulai menangis. Ibunya mengusirku. Aku pergi, menghampiri yang lain mungkin masih ada yang mau berteman denganku. Namun yang lain pun sama, mereka semua berlari ketakutan bersembunyi di balik tubuh ibunya, menangis, dan ibu mereka mengusirku. Sebenarnya apa yang salah? Memangnya aku terlihat seperti monster seperti di film-film kartun? Memang tubuhnya tinggi besar. Tapi aku bukan monster. Apakah karena aku wajahku jelek? Ada yang jauh lebih jelek, itu si Tito temanku di sekolah. Ia lebih jelek. Trus kenapa mereka takut sama aku?
            Aku berlari mengamburkan diri ke simbok. Dengan sangat susah payah aku bertanya pada simbok.
            “Mbok, kenapa mereka takut sama aku?” Aku menuding mereka, gadis-gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. “Aku kan bukan monster kenapa mereka takut sama aku?” Simbok tidak menjawab. Simbok justru menangis. “Kenapa Simbok nangis? Ayu salah?” Simbok masih tidak menjawab. Aku guncang-guncang tubuh Simbok kuat. Tapi Simbok masih belum menjawab. Di belakang, ibu-ibu berbisik cukup keras.
            “Gimana mereka tidak takut dideketin makhluk idiot kayak gitu?!”
            “Stt, dia bukan idiot tapi autis.”
            “Ah sama aja!”
            Idiot? Autis? Apa maksudnya? Memang aku bodoh, umur sebelas tahun saja aku baru lancar bicara, baru tahu angka satu sampai sepuluh. Apakah karena itu mereka takut sama aku?
***




Nama   : Noor Salamah
Alamat            : Jalan H.M Syahid No. 11 Rt 03 Rw 5 Panggang  Jepara
Status  : Mahasiswa Pendidikan Nonformal Unnes
Fb        : Salma Van Licht
Twitter            : salma_skylight
Cp       : 089668214948



0 komentar:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com