Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here

Kamis, 05 Maret 2015

Izzuddin Al-Qassam, Namanya Abadi dan Selalu Terkenang

[Ukhuwah]
Izzuddin Al-Qassam,
Namanya Abadi dan Selalu Terkenang

Brigade al-Qassam, adalah sekelompok pasukan jihat di tanah Palestina, yang berjuang melawan penindasan yang dilakukan oleh kaum zionis Israel. Al-Qassam nama ini diambil dari seorang tokoh, Izzudin al-Qassam. Seorang ulama’ dan juga pejuang.
Syaikh Izzuddin al-Qassam dilahirkan di Jabalah, Suriah, 19 November 1882. Nama lengkapnya Muhammad Izzuddin bin Abdul Qadir bin Musthafa bin Yusuf bin Muhammad al-Qassam. Dari sisi bahasa, Izzuddin artinya kemuliaan, kebanggaan atau harga diri agama (Islam). Sedangkan al-Qasam mempunyai makna keseriusan, sumpah, orang yang mengikat sumpah. Izzuddin al-Qassam dapat diartikan sebagai orang yang bersumpah untuk menjaga kemuliaan Islam.
Izzuddin al-Qassam kecil tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang taat dan berpegang teguh terhadap ajaran Islam. Pada masa mudanya, saat berumur sekitar 14 tahun, ayahnya mengirimkan Izzuddin ke negeri tetangga, Mesir untuk belajar di Universitas al-Azhar Kairo. Waktu itu, belajar di al-Azhar Mesir masih berbentuk talaqqi’ di masjid, yakni belajar ilmu agama Islam secara langsung kepada guru yang mempunyai keilmuan Islam. Izzuddin muda banyak menimba ilmu dari beberapa ulama berpengaruh pada masanya. Antara lain, ia banyak menimba ilmu dan ide-ide pembaharuan yang dilontarkan oleh Syaikh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Abdurrahman Al-Kawakibi.
“Inilah jihad, menang atau mati syahid!” begitulah Syi’ar yang dikumandangkan bersama mujahidin Haifa, Palestina ketika melawan penjajahan Inggris, sekutu Yahudi. Izzudin melancarkan pergerakan bawah tanah dan rahasia yang tak terendus oleh musuh, dan hanya diketahui oleh sahabat-sahabat dan para mujahid yang membantunya. Namun akhirnya, aktivitas pergerakannya tercium juga oleh penjajah. Pada tanggal 20 November 1935, dalam usia 53 tahun Al-Qassam mati syahid di daerah Jenin yang kemudian lebih dikenal dengan Jenin Al-Qassam dalam perang melawan Inggris. Di balik bajunya dijumpai Al-Qur’an, uang senilai 14 junaih, dan sebuah pistol besar.
Al-Qassam dikenal luas sebagai pejuang yang semasa hidupnya mencurahkan segenap tenaganya untuk merangkul kalangan pekerja dan para petani, karena mereka adalah kelompok yang paling banyak dan siap berkorban di jalan Allah. Para pejuang Palestina selanjutnya pun menjadikan revolusi yang diawali oleh Syaikh Izzuddin al-Qassam merupakan revolusi bagi seluruh pemuda Palestina dalam melawan penjajah Inggris dan Yahudi yang ikut di belakangnya.
Oleh para tokoh pergerakan Harakah al-Muqawwamah al-Islamiyyah(HAMAS), seperti Syekh Ahmad Yassin, Dr Ibrahim al-Muqadama, Syekh Shalah Syahadah, dan para pionir Hamas lainnya, nama Izzuddin al-Qassam dipilih sebagai nama sayap militer mereka. Brigade al-Qassam merumuskan setidaknya tiga langkah perjuangannya, yaitu menumbuhkan semangat jihad kepada kaum Muslimin di Palestina dan dunia Arab, mempertahankan setiap jengkal tanah kaum Muslimin Palestina dari pendudukan dan agresi Zionis, dan membebaskan tanah Palestina. (Salamah)


Read More

Jumat, 27 Februari 2015

Bukti Kekuasaan Allah Melalui Situs-situs dalam Al Qur’an

Bukti Kekuasaan Allah Melalui Situs-situs dalam Al Qur’an

Judul                   : Situs-situs dalam Alqur’an: Dari Hebron Hingga Borobudur
Penulis               : Syahruddin El-Fikri
ISBN                     : 978-602-8997-68-3
Penerbit            : Republika
Tebal                    : x, 192 hal: 15x23 cm
Cetakan             : I, Maret 2013

Al Qur’an merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw. Selain itu Al Qur’an juga sebagi pembeda, dan penjelas. Al Qur’an begitu istimewa hingga Allah sendiri telah berjanji untuk menjaga kemurnianya sampai akhir zaman. Al Qur’an tidak saja merupakan kalam yang indah, berisi petunjuk, kewajiban untuk taat dan larangan untuk maksiat. Di dalamnya juga terdapat berbagai cerita-cerita yang dapat kita ambil hikmahnya. Banyak cerita-cerita nabi terdahulu dan peristiwa-peristiwa masa depan yang diceritakan di dalam Al Qur’an.
Buku Situs-situs dalam Alqur’an: Dari Hebron Hingga Borobudur ini, penulis yaitu  Syahruddin El-Fikri berusaha menguraikan beberapa situs yang yang ada di Al Qur’an. Buku Situs-situs dalam Alqur’an: Dari Hebron Hingga Borobudur, merupakan buku seri ketiga dan  merupakan seri terakhir. Dua seri sebelumnya berjudul Situs-situs dalam Alqur’an : Dari Banjir Nuh Hingga Bukit Tursina dan Situs-situs dalam Alqur’an : Dari Peperangan Daud Melawan Jalut Hingga Gua Ashabul Kahfi. Buku seri ketiga meyoritas berisi tulisan tentang tempat yang masih berkaitan dengan masa-masa kenabian. Seperti Masjid Kubah batu, Masjid Jum’at, Masjid Jin, Masjid Sa’bah, khaibar dll.
Sebagai referensi dari tulisannya penulis banyak menggunakan : terjemah tafsir Ibnu Katsir, As-Sirah an-Nabawiyah Ash-Shahihah, Terjemah Hiyatu Muhammad, Pustaka Sains Populer Islami: Jejak-jejak Bangsa Terdahulu, Ensiklopedia islam, Ensiklopedia Islam pelajar dll. Injil dan Taurat juga digunakannya sebagai pembanding.
Buku ini menjadi menarik karena ketika membaca buku ini pembaca diajak untuk kembali ke masa lalu. Menelusuri jejak perjuangan dan kisah Nabi terdahulu. Adanya situs-situs tersebut menjadi bukti kebenaran Al Qur’an dan kekuasaan Allah.   (Salamah)



Read More

Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu

Kritik Pendidikan Dalam Novel Rindu

Judul Buku          : Rindu
Karya                     : Tere Liye
Penerbit              : Republika
Cetakan               : 1
Tahun                   : Oktober, 2014
Tebal                     : ii+544 hal, 13.5 x 20,5 cm
ISBN                      : 978-602-8997-90-4

Tere Liye, siapa tak kenal nama penulis berbakat ini? Ia telah mengahasilkan begitu banyak karya. Dan kali ini ia mengusung tema rindu dalam novelnya yang berjudul Rindu, tepat seperti namanya. Namun perlu diketuahi bahwa rindu ini bukan rindu kepada sesama manusia biasa. Novel ini tidak bercerita tentang romantisme rindu muda-mudi yang dimabuk cinta. Rindu ini lebih murni, datang dari hati tergerak oleh iman.
Novel ini bermula tentang kisah para jama’ah haji nusantara dengan setting tahun 1938 yang hendak memuaskan rasa rindu mereka. Melihat ka’bah dan masjidil haram. Menunaikan rukun iman terakhir. Ada banyak jama’ah yang berangkat haji tentu dari berbagai wilayah di Nusantara. Persinggahan kapal Blitar Holland, kapal pengangkut jama’ah haji dimulai dari Makassar, berlanjut ke Surabaya, Semarang, Batavia, Bengkulu, Padang, dan Aceh. Dikisahkan bahwa terdepat lima penumpang yang membawa berbagai pertanyaan tentang hidup ini. Pertanyaan yang sebenarnya begitu dekat dengan kita. Namun mungkin kita sendiri tak tau jawabannya atau barangkali lalai untuk melihat pembelajaran disekitar kita yang semestinya sudah menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan pertama datang dari seorang tokoh bernama Bonda Upe atau Ling-ling, ibu-ibu chainis dengan masa lalu kelam. “Aku seorang cabo (pelacur), Gurutta, Apakah Allah, apakah Allah akan menerimaku di tanah suci?” Seorang ulama’ masyhur dari Gowa, menjawab, “Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain. Dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin. Pahami tiga hal itu Nak, semoga hati kau menjadi lebih tenang.”
Pertanyaan kedua muncul dari seorang berpendidikan, pedagang kaya, memiliki keluarga bahagia, orang selalu menyangka ia, Daeng Andipati hidup bahagia. Tapi apakah benar ia hidup bahagia? Padahal yang sesungguhnya ia menyimpan kebencian yang amat sangat terhadap ayahnya sendiri. Ayahnya seorang yang ringan tangan, pedagang culas yang suka menggunakan tukung pukul. “Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini?” kembali ulama’ yang biasa dipanggil Gurutta itu yang menjawab. “Berhenti membenci ayahmu, karena kau sedang membenci dirimu sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru, buka lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil dihatimu.”
Pertanyaan ketiga muncul dari Mbah Kakung, ia begitu sedih mendapati kenyataan Mbah Putri Slamet telah mininggalkannya. Tak bisalagi mereka bergandeng tangan menyaksikan megahnya Masjidil Haram. Mereka pasangan suami istri yang terlihat selalu mesrameski di usia yang begitu sepuh. “Kenapa harus sekarang Mbah Putri pergi? Kenapa sekarang? Disaat mereka sedang dalam perjalanan haji? Menunaikan bukti cinta mereka?” lagi-lagi Gurutta yang menjawabnya. “Pertama, yakinlah kematian Mbah Putri adalah takdir Allah yang terbaik. Kedua, biarkan waktu mengobati semua kesedihan. Ketiga, lihatlahdari penjelasan ini dari kacamata berbeda.”
Pertanyaan keempat datang dari satu-satunya kelasi pribumi, Ambo Uleng yang bermakna pemuda yang bersinar bak purnama. Seorang pemuda usia dua puluhan yang sedang patah hati karena cinta. Pergi melamar menjadi kelasi kapal Blitar Holland hanya karena ingin lari sejauh-jauhnya dari masa lalu. Melupakan orang yang amat ia cintai. “Apa itu cinta sejati? Apakah esok lusa Ambo akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah ia masih memiliki kesempatan?” “Cinta sejati adalah melepaskan. Jika ia cinta sejatimu, dia akan kembali dengan cara mengagumkan. Jika ia tidak kembali, maka sederhana jadinya itu bukan cinta sejatimu. Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud maka teruslah memperbaiki diri sendiri. Sibuklah dengan belajar teruslah berbuat baik. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan kau akan siap menghadapinya.”
Dan ini adalah pertanyaan terakhir, dari seseorang yang selama ini selalu mampu menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang. Namun pertanyaannya sendiri justru tak mampu ia jawab. “Apakah kemerdekaan harus dibayar dengan harga mahal? Dengan darah dan air mata? Tiadakah cara lain?” dan jawaban atas pertanyaanya ia dapat dari seseorang pelaut bugis paling tangguh, pemuda dengan sinar rembulan, Ambo Uleng. “Saat ini kemerdakaan memang hanya bisa didapat dengan pengorbanan air mata darah, tidak ada cara lain!.”
Begitu seiring berjalannya waktu, seirama kapal yang mengikuti gelombang lautan. Satu demi satu pertanyaan telah terjawab. Dengan latar belakang pra kemerdekaan, novel ini tidak saja menyajikan sebentuk pemahaman akan para perindu pemilik Cinta yang Hakiki. Namun ada sisi historisnya, sejarah para pejuang dan inilah salah satu bagian menarik dari serangkain cerita Rindu. Secara tidak langsung, penulis berusaha mengkritik model pembelajaran zaman sekarang. Sebuah pendidikan yang terlalu terpaku pada ruang kelas dan nilai-nilai raport. Diceritakan dalam novel ini bahwa Gurutta menggagas sebuah sekolah sementara untuk anak-anak penumpang kapal. Tidak ada sistem nilai, guru bekerja ikhlas tanpa memikirkan gaji, proses belajar bisa dimana saja di pantai, di dek kapal, di kantin, di ruang mesin, di pelabuhan dan dimana saja. Yang utama adalah bagaimana anak memiliki pemahaman yang baik tentang alam, tentang dunia, tentang negaranya, tentang kehidupan sosialnya. Bukankah ini salah satu bentuk kritik akan sistem pendidikan kita? Mari renungkan.

Pada bab bab awal membaca buku ini saya merasa cukup jenuh, saya pikir basa-basinya terlalu panjang. Kenapa konfliknya tidak mulai terlihat? Kenapa semuanya seolah datar? Kenapa semuanya seolah tidak saling terpaut. Tapi demi melihat bahwa penulisnya adalah Tere Liye, penulis terkenal favorit saya. Saya kembali meneruskan membaca, pasti ada sesuatu yang mengejutkan. Batin saya. Dan benar, di bab tengah hingga akhir semuanya mulai terang. Hingga akhirnya lengkap sudah rangkaian panjang ceritanya. Semuanya berakhir bahagia. Bahkan Ambo Uleng dapat menikah dengan kekasih idamannya. Tak terlalu banyak alur mundur atau flash back yang panjang dalam cerita ini. Seperti biasa Tere Liye selalu mempu mengemas pesan moral, tanpa harus terkesan menggurui. Bahasanya indah. Enak dibaca. (Salamah)
Read More

Kamis, 19 Februari 2015

Menonton Barongsai di Tahun Baru Imlek 2566

Menonton Barongsai di Tahun Baru Imlek 2566

Jalan disepanjang jembatan Kaligarang hari itu mendadak macet. Laju kendaraan yang biasanya normal kini merayap. Jalan baru mulai lenggang setelah melewati Sampokong.
Hari itu, kamis (19/02) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2566 Kuil Sampokong mendadak ramai. Banyak peziarah yang datang untuk berdoa, namun banyak juga wisatawan yang datang untuk menikmati suasana tahun baru imlek.
Sekitar pukul setengah sebelas, saya dan tiga orang kawan saya berhasil masuk di kompleks kuil Sampokong. Setelah berhasil melewati antrian yang panjang tentu saja. Biaya masuk saat itu relatif tidak mahal, karena tidak ada kenaikan harga. Cukup dengan uang Rp. 3000, saya bisa masuk ke Kuil Sampokong. Ketikda berada di dalam, saya melihat nuansa warna merah yang dominan dimana-mana. Komplek Klenteng Sam po Kong terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng).
Menurut cerita, pada awal abad ke-15 Laksamana Zheng He sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah semenanjung. Karena ada awak kapal yang sakit, ia memerintahkan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Zeng He memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Setelah ratusan tahun berlalu, pada bulan Oktober 1724 diadakan upacara besar-besaran sekaligus pembangunan kuil sebagai ungkapan terima kasih kepada Sam Po Tay Djien. Dua puluh tahun sebelumnya diberitakan bahwa gua yang dipercaya sebagai tempat semedi Sam Po runtuh disambar petir. Tak berselang lama gua tersebut dibangun kembali dan didalamnya ditempatkan patung Sam Po dengan empat anak buahnya yang didatangkan dari Tiongkok. Pada perayaan tahun 1724 tersebut telah ditambahkan bangunan emperan di depan gua.
Untuk masuk ke kuil utama tempat sembahyang bagi peziarah tidak dikenakan biaya. Namun bagi wisatawan, dikenakan tarif yang menurut saya cukup mahal. Maklum mahasiswa hidup hanya dengan beasiswa. Untuk wisatawan lokal dikenakan harga Rp. 20.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan harga Rp. 50.000. jadi, dengan mempertimbangan harga dan isi dompet saya urungkan untuk masuk L
Tak apa meski tak bisa masuk, acara cukup ramai dengan hiburan dari Kusuma Band. Kusuma Band menyanyikan beberapa lagu yang sebenarnya adalah dangdut namun di aransemen menjadi jazz. Lagu-lagu tersebut adalah Begadang, Darah Muda, Yuk, Kita Santai, dan Kedatanganmu Kutunggu. Dengan kostume ala chainis, cukuplah tiga biduan wanita plus satu pria itu menghibur hati. Dan inilah yang kami tunggu-tunggu, Pertunjukan Barongsai. Sekitar pukul 11.20, musik mengalun. Seekor naga kecil berwarna kuning maju ke atas panggung. Beratraksi, berjalan di atas tiang-tiang. Yang paling saya suka adalah ketika mata si Barongsai ini berkedip-kedip, ahh imutnya :D
Pertunjukan Barongsai ini dimainkan oleh anggota dari Perkumpulan Elang Terbang dari Timur. Kelompok ini telah show di berbagai daerah hingga mancanegara. Pernah mengikuti lomba tingkat internasional melawan India, China dll dan menjadi Juara. Hal tersebut merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Hidup Pemuda Indonesia! J
Menurut MC yang sedang memandu acara, katanya sih pengunjung tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin. Dan masih menurut MC juga katanya kalau menonton pertunjukan Barongsai di Tahun Baru Imlek dipercaya dapat mendatangkan berkah. Terlepas dari benar atau tidaknya, saya hanya memohon kepada Allah, semoga Allah meridhoi kami, setiap langkah kami, dan mengbulkan hajat-hajat kami.




Semarang, 19 Februari 2015



Read More

Selasa, 17 Februari 2015

Kartu Kuzimang (Kartu Kuartet Gizi Seimbang)

Kartu kuzimang adalah singkatan dari Kartu Kuartet Gizi Seimbang yang merupakan salah satu modifikasi dari kartu kuartet. Pada kartu-kartu tersebut tertera keterangan berupa tulisan yang menerangkan berbagai gambar tentang gizi seimbang. Pengenalan jenis kartu kuartet ini merupakan salah satu inovasi pengembangan media pengetahuan tentang gizi seimbang. Tujuan jangka pendek dari jenis permainan ini yaitu mengedukasi anak anak tentang gizi seimbang dengan cara yang menyenangkan sedangkan jangka panjang diharapkan dapat mencegah adanya kekurangan dan kelebihan gizi.
Teman2, kami Salma Van Licht, Diyan Sitimawaddah, Apri Ningsih, Isti Khasanah, lagi ikut lomba cipta media gizi seimbang yang diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia
klik link ini https://t.co/mkC6MyiOdf, lalu bantu ngeshare, like & comment di link youtube-nya ya...
terimakasih :)
Read More

Rabu, 26 November 2014

Catatn dari Darul Aitam

Darul Aitam (17/11), masih serangkain acara Majlis Rosulullah. Acara berlangsung dari pagi hingga siang. Acara ini diisi oleh Hubabah Nur, dan juga alumni Ponpes tarim.
-          Terdapat dua kewajiban yaitu kewajiban mualamah kepada Allah, dan juga muamalah kepada makhluk
-          Siapa yang jalannya menuju ilmu, maka akan dipermudah jalannya menuju surga
-          Ketika melihat ulama, pandanglah dengan baik, perbanyak niat yang baik
-          Ilmu dan amal adalah cara dekat dengan waliyullah
-          Jadikan ilmu seperti garam dan adabmu seperti tepung.
-          Niat itu tempatnya di hati. Melafalkan hukumnya sunnah. Dan niat itu mendahului amal.
-          Maksiat membuat ilmu menajdi susah masuk ke dalam hati
-          Bersyukur adalah cara untuk menjaga nikmat dari Allah
-          Dagangan akhirat adalah amal. Modal utamanya adalah waktu. dan hartanya adalah masa muda. Maka manfaatkanlah dengan baik.
-          Diantara tujuh golongan yang dilindungi kelak di akhirat adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah
-          Dizikir adalah ibadah yang paling tinggi disisi Allah
-          Amal lebih utama daripada puasa sunnah, sholat sunnah, syuhada, sedekah, berdizikir
-          Ramaikanlah waktumu dengan berdizikir
-          Iman seperti bisa yang bisa berkarat, oleh karenanya harus diperbaharui dengan cara memperbanyak berdizikir
Dari Hubabah Khodijah, beliau merupakan besan dari Hubabah Nur, berasalah dari Abu Dhabi yang tak lain adalah muris dari Habib Ali.
-          Pergi ke majlis dengan niat ingin mengambil manfaat lantas mengamalkannya dapat membaut derajat menjadi naik
-          Salah satu perkumpulan/majlis yang penuh barokah adalah, perkumpulan di padang arafah, sholat jama’ah dan majlis ilmu
Ummu Muhammad, berasalah dari New Zeeland,
-          Kelak ketika tiba masanya, kuburan kita akan terbagi. Berkumpulnya waktu kita ketika maksiat, kosong, dan ketika taat. Ketika kita diperlihatkan saat dimana kita senantiasa taat, kita akan bahagia dan penuh dengan cahaya. Ketika diperlihatka, waktu kosong kita didunia, kita akan merasa penuh sesal dan sekeliling kita menjadi gelap. Sedangkan ketika diperlihatkan kepada kita saat dimana kita maksiat, kita akan menangis, dan sekeliling kita menjadi penuh api neraka.
-          Dikisahkan oleh beliau, bahwa Nabi Muhammad ketika duduk di majlis bisa taubat sampai 70x, karena sesunguhnya penyakit maksiat hanya bisa obati dengan banyak beristigfar.
n-anganBetapa ruginya manusia jika waktunya digunakan untuk berangan-angan serta menunda untuk taat.
Kebahagiaan terletak pada keterikatan kita dengan sang pencipta, Allah
 -          Ada tiga sayarat, wanita bolehmembuka mukakanya
1.       Janganlah berbdandan,, termasuk tanpa pacar, tanpa celak, tanpa cincin dsbg
2.       Bukan wanita yang cantik
3.       Yakin tidak dilihat oleh laki-laki
Hak suami atas istri hanya dua, yiatu
1.       Ketika suami minta jima’
2.       Tidak keluar dari rumah tanpa seijin suami
   
Read More

Wasiat Nabi saat haji wada’

Wasiat Nabi saat haji wada’
1.       Pegang sunnah Nabi dan Sahabat
2.       Berhati-hatilah pada ajaran/agama baru, sesungguhnya yang baru dan sesat itu membawa pada neraka. Adapaun cara untuk tahu benar tidaknya ajaran, maka carilah ulama yang sohih sanadnya
3.       Dengarkanlah seruannku, serta amalkan. Sesungguhnya semua manusia memiliki naluri untuk mengenal Allah. 
Read More

Catatan Dari Al Fakhriyah

Dalam serangkaianan acara Majlis Rosullah, rombongan kami mengikuti majlis di Ponpes Al Fakhriyah. Al Fakhriyah merupakan pondok pesantren asuhan Habib Novel Bin Salim Bin Jindan. Terletak di kota tengerang.
Ceramah di isi oleh Habib Umar Bin Hafidz, beberapa point dari ceramah beliau adalah
Jika kita memiliki masalah, membutuhkan pertimbangan dan ingin bermusyawarah. Maka temuilah orang yang senantiasa berdizikir.
Saat ini sebagian orang menghujat nabi, mengabaikan sunnahnya, mengabaikan seruannya. Padahal kelak ketika di akhirat nanti, semua orang memanggil Rosulullah untuk meminta syafaat.


Read More

Rabu, 19 November 2014

Catatan dari Cidodol #1

Tulisan ini adalah beberapa ilmu yang saya tangkap dari apa yang disampaikan oleh Habib Umar Bin Hafidz dalam acara Khaul Syech Abu Bakar Bin Salim Bin Abdullah atau yang lebih dikenal dengan nama Syeckbu pada hari 16 November 2014 di Cidodol Jakarta.

-          Orang yang arif adalah orang yang mengenal dirinya sendiri. Sedangkan orang yang jahil adalah orang yang tidak mengenal dirinya sendiri.
-          Dinyatakan perang dengan kepada Allah dan Rosul apabila;
1.       Melakukan praktek riba
2.       Memusi para wali
-          Dan sesungguhnya dosa terkecil dari riba sama dengan melakukan zina dengan ibu sendiri
-          Bidah yang paling besar adalah ketika mengatakan sesuatu yang kasar kepada waliyullah dan ketika menyampaikan sesuatu tanpa ilmu
-          Salat witir yang sempurna yaitu = 11 rekaat
-          Salat Dzuha yang sempurna adalah = 8 rekaat
-          Dengan salat dzuha 2 rekaat maka dapat menebus sedekah tubuh yang penuh dosa ini
-          Sesuap sedekah dapat menolak balak. Adapun balak tidak bisa mendahului sedekah.
-            
Read More

Niat Dalam Ta’lim/muta’allilm

Inna a’malu binniatSegala sesuatu berawal dari niat. Memang apa yang kita dapatkan sepadan dengan niat kita. Maka dari itu niat menjadi kunci pertama gerbang pembuka kita dalam beramal.
Tulisan ini merupakan beberapa ilmu yang saya dapat ketika pergi ke acara Pesantren Kilat bertempat di Gedung Darul Aitam Jalan Mas Mansyur Jakarta yang merupakan serangkaian acara Majlis Rosulullah.
Betapa pentingnya perihal niat tersebut, maka dalam ta’lim yang di isi oleh ustadzah Khalimah salah seorang alumnis Tarim Yaman menjelaskan bahwa ketika ta’lim/muta’allilm (belajar/mengajar) hendaklah kita niatkan untuk ;
1.       Mengambil/memberikan kemanfaatan
2.       Mengambil/memberikan peringatan
3.       Saling menganjurkan pada kebaikan
4.       Menunjukkan dalam kebenaran
5.       Mengharap ridlo Allah
6.       Mencari pahala disisi Allah
7.       Mencari kematian yang khusnul khotimah
8.       Mendekatkan diri kepada Allah
Begitulah yang saya tangkap dari dari pembahasan niat tersebut, semoga bermanfaat.
Read More

Rabu, 12 November 2014

Islam di Bumi Papua

Islam di Bumi Papua
oleh 
Musa

Islam di Papua adalah agama minoritas yang dipeluk oleh dari sekitar 16% menjadi 22% hasil sensus 2010 penduduk provinsi ini, dari keseluruhan 2.833.381 jiwa penduduk berdasarkan sensus tahun 2010. Mayoritas umat Islam tersebut adalah dari non-suku asli Papua (439.337 jiwa, atau 15.51%), sedangkan sisanya adalah dari suku asli Papua(10.759 jiwa, atau 0.38%).
Bukti-bukti peninggalan sejarah mengenai agama Islam yang ada di pulau Papua ini, antara lain: (1) terdapat living monument yang berupa makanan Islam yang dikenal di masa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di daerah Papua kuno di Desa Saonek, Lapintol, dan Beo di distrik Waigeo, (2) tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih, (3) naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno, (4) di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan delapan manuskrip kuno berhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Alquran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu Tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1214 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini.
Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur. Masjid Patimburak yang didirikan di tepi Teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.
Pengaruh Islam terhadap penduduk Papua dalam hal kehidupan sosial budaya memperoleh warna baru, Islam mengisi suatu aspek kultural mereka, karena sasaran pertama Islam hanya tertuju kepada soal keimanan dan kebenaran tauhid saja, oleh karena itu pada masa dahulu perkembangan Islam sangatlah lamban selain dikarenakan pada saat itu tidak ada generasi penerus untuk terus mengeksiskan Islam di Pulau Papua, dan mereka pun tidak memiliki wadah yang bisa menampungnya.
Namun perkembangan Islam di Papua mulai berjalan marak dan dinamis sejak Irian Jaya berintegrasi ke Indonesia, pada saat ini mulai muncul pergerakan dakwah Islam, berbagai institusi atau individu-individu penduduk Papua sendiri atau yang berasal dari luar Papua yang telah mendorong proses penyebaran Islam yang cepat di seluruh kota-kota di Papua. Hadir pula organisasi keagamaan Islam di Papua, seperti MuhammadiyahNahdlatul UlamaLDII, dan pesantren-pesantren dengan tradisi ahlussunah waljama'ah. 


Read More

Memahami Surah Al-Kautsar Ayat 2

Memahami Surah
            Al-Kautsar Ayat 2

oleh Aimah


Di dalam surah Al-Kautsar ayat 2 Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.
Artinya: “Maka shalatlah engkau karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan kurban. Asy-Syinqithi dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa …. menyembelih hewan kurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.” Perintah berkurban dalam Surah Al-Kautsar tersebut juga didukung dengan dalil lain, yaitu dalam surah Al-Hajj ayat 34-35 :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ. الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاَةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.”
Sementara itu, Allah dalam menggandengkan ibadah berkurban dengan ibadah salat yang merupakan rukun Islam kedua. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surah Al-Kautsar menguraikan: “Allah memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu salat dan menyembelih kurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah menggandengkan keduanya dalam firman-Nya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)

Jadi, salat dan menyembelih kurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih kurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah salat”. 
Read More

Meraih Asa dalam Fakir


Meraih Asa dalam Fakir

Oleh Mukhlisoh

Mentari senja telah kembali ke peraduan. Angin sepoi-sepoi mengelebat jilbab panjang hijau muda Aini. Kelelawar telah hidup, terbang bebas menikmati pekatnya malam. Sinar kecil berterbangan menghiasai malam penuh kabut dingin. Di sepertiga jalan seekor kucing menghambat kayuh semangatnya menggapai asa. Aini tarik pedal rem dengan sekuat tenaga agar kucing itu tak termakan ganasnya ban hitam sepeda tuanya.
Hidup dalam kekurangan, di lingkungan pedalaman, jauh dari kota metropolitan, fasilitas tradisional yang jadi jambalan sehari-hari membuatnya katro. Tapi baginya semua itu bukan penghalang yang berarti. Modal semangat mengayuh roda kehidupan agar senantiasa dalam posisi seimbang. Seimbang sebagai acuan agar senantiasa syukur pada posisi mana pun saat ini. Itu merawat hati agar senantiasa tenang. Meski IQ-nya tergolong rendah, ingatannya selambat sang siput, namun ia punya seonggok hobi yang membuatnya tetap berdiri. Dari hobi yang senantiasa ia istiqomahkan, ia kembangkan hingga menjadi potensi nan profesi yang menjanjikan, menuntun langkahnya menuju gerbang cahaya. Mengubah pesimis jadi optimis. Mengubah bahaya jadi kaya. Mengusung takut jadi salut. Mengangkat rasa jadi asa. Membumbung pinta jadi cita. Ia keMas modal itu dalam wadah tekad yang kuat. Meraih asa bersama imajinasi.
Buat apa kamu menulis semua ini. Buang-buang waktu saja. Apa yang akan  kau dapatkan, terpenuhi nafsumu? Kamu egois. Aini hanya mampu tertunduk mendapat hujaman pertanyaan yang begitu menyayat hati. Aini ingin menyela ucap Bapak, namun ia tak mampu. Tak sepantasnya anak membantah orang tua. Tapi untuk kali ini, pertanyaan Bapak terlalu merendahkan hobinya. Hobi yang diam-diam mampu membantu ekonomi keluarga. Bapak tidak mengerti. Uang lembaran dengan jumlah yang tak sedikit bagi keluarganya, adalah buah dari petikan hobinya. Aini hanya mampu menangis dalam diam. Aini tau Bapak ingin ia  menjadi wanita seperti teman sebayanya di desa. Berkubang dalam kepulan asap, mematangkan karbohidrat pembangkit tenaga, mengubah air mentah menjadi air minum yang sehat. Menjadi wanita yang nantinya hanya mengurus rumah tangga.
Aini mau menjadi yang bapak ingin, namun ia juga punya pilihan hidup yang ia kira bukan hal yang mendatangkan mudharat. Maaf Bapak, meski mulut Aini mengucap kata iya, tapi lakuku tak sejalan ucap yang telah terlontar. Mungkin Ai salah, tapi Aini yakin mampu mengubah hidup kita yang kelam. Ada Allah yang senantiasa menyaksikan usaha hamba-Nya. Aini menunduk setengah tersenyum. Berkata dalam hati penuh keyakinan. Aini melangkah mundur dalam jongkoknya. Meminta izin untuk melanjutkan pekerjaannya. MeMasak. Bapak hanya mengangguk dengan wajah kecewanya.
Gelapnya malam bersama lolongan anjing, dengkrikan jangkrik, dan suara angin yang sesekali terdengar karena hembusan kencangnya. Menyapu wajah Aini yang muram mengingat perkataan Bapak. Menggoyangkan bulu matanya yang lentik damar kanginan. Bibir tipisnya yang selalu menahan tangis kini mulai memerah akibat gigitan kepedihan. Aini duduk berpangku tangan merancang siasat agar mampu pergi ke kota lagi. Ia ingin kirimkan hasil karyanya ke majalah. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Saatnya untuk memejamkan mata, meninggalkan pikiran yang mengisi kepala, memanjakan diri dalam buaian jarik ungu lusuh. Berharap fajar ini ia mampu mengubah pengertian Bapak akan hobinya.
Aini ..., suara yang muncul dalam gelapnya ruang membuat badannya menggigil. Siapa kamu? Suaranya tetap menyebut Aini seakan takpeduli akan pertanyaannya. Kini tubuh Aini leMas, melihat sosok inspirasinya yang telah tiada. Zain. Ia menghadap Rab saat menjadi penulis ternama. Menurut banyak orang kematiannya adalah petaka dari goresan tintanya yang ditujukan untuk  pejabat dalam nuansa cerita yang begitu mengena. Aku tau kenapa Mas Zain bersama penanya merangkai kisah itu. Mas Zain ingin perbuatan keji sang koruptor tak terulang kembali. Namun, oknum-oknum licik telah mengadu domba dengan seorang pejabat yang telah memakan harta rakyat. Aku tahu Mas Zain tak mungkin setega itu mengecam satu orang, menjatuhkan martabat, dan harga diri secara terang-terangan. Mas Zain hanya ingin menyuguhkan kisah banyak pejabat khilaf. Ia tak menyebut nama sang koruptor. Apa itu salah? Aku sungguh miris saat membaca surat terakhir Mas Zain. Ia ingin Aini menjadi penulis sepertinya yang berkarya bersama imajinasi, bertegur menasehati dengan kisah. Bukan menjatuhkan namun memberi pelajaran. Dari Mas Zain aku mulai hobi menulis, membaca perihal seluk beluk Indonesia. Aini ingin berpartisipasi untuk negeri dengan inspirasi hati dan ilmu yang digali. Seperti Mas Zain. Namun mimpinya terhalang kabut kecewa Bapak. Hawa dingin yang selalu dihembus kala kuucap kata “Bapak, Aini ingin jadi penulis. Aini terpukul mundur dengan terjangan penolakan Bapak atas cita-citanya. Aini ..., aku yakin kamu bisa. Buktikan pada Bapak, bahwa penulis adalah hal yang tak merugikan. Penulis adalah penjaga sejarah. Bukankah Bapak senang dengan orang-orang yang tak melupakan sejarah? Karena orang yang terarah adalah orang yang takpernah melupakan sejarah.
Mas Zain ..., bulir keringat mengalir deras menyusur pipi. Kerongkongan terasa kering dan kaku. Seluruh tubuh terasa linu. Sungguh terasa nyata perjumpaannya dengan Mas Zain. Aini turunkan kakinya menapak tanah dalam rumah. Mencari sepasang sandal alas kakinya. Melangkah menerjang kegelapan malam menuju kawah air suci. Menyucikan anggota badannya untuk berdialog dengan Allah.
***
Bapak tersenyum melihat Aini yang setia dengan peluh keringat membantu ibunya. Ibunya mengelus lembut jilbab yang membalut kepalanya. Semua terasa indah. Namun, gejolak jiwa masih terus membara. Kebimbangan untuk menggapai citanya semakin membuncah saat Mas Zain hadir dalam mimpinya. Ia baca basmallah mencoba meraih rida orang tuanya. Alhasil kekuatan basmallah meluluhkan hati.
Di bawah terik matahari, Aini menuntun sepeda tuanya menyusur jalan menuju kota. Di kotalah ia mampu merealisasikan mimpinya. Satu persatu karya ia kirimkan pada grup-grup kepenulisan. Takjarang yang taklolos hingga menghasilkan rupiah. Sering pula ia mendapat kecaman atas kritik yang ia olah dalam kisah-kisah. Namun semangatnya takgoyah. Dalam Masjid Jami’ ia berteduh. Merebahkan tubuh yang sehari penuh mengayuh sembari mengais inspirasi di bawah terik matahari. Binatang kecil yang terbang lalu hinggap hendak mencuri darah. Aini sadar meski ia hanya seekor hewan kecil, namun ciptaan Allah bukan hanya manusia. “Biarkan kita niatkan untuk berbagi. Aini berucap dalam hati.
Tak terasa matanya terpejam dalam keteduhan Masjid Jami’. Doa pengantar tidur membawanya dalam mimpi nan indah. Ia menemukan sebuah cahaya dalam gerbang sebuah gedung bercat silver dengan motif secarik kertas nan pena yang penuh cahaya. Hembusan angin sore yang begitu kencang membuatnya terjaga. Tanpa sengaja tangannya menyentuh secarik kertas undangan interview. Inilah makna mimpi barunya. (Mukhlisoh)


Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Follow

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Jejak Sajak Salamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com